Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXIIIIIII/29 Desember - 04 Januari 1999
   
Kritik

PPP Pemersatu Partai Islam?

Usulan Suhandi agar partai Islam bersatu dalam PPP (TEMPO, edisi 24-30 November 1998, halaman 10) kiranya perlu dipertanyakan kembali, karena banyak faktor yang harus dipertimbangkan dengan seksama. Pantaskah?

Walaupun Golkar dapat dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap situasi serta kondisi negara dan bangsa yang terpuruk saat ini, mengingat Golkar merupakan fraksi mayoritas di DPR dan MPR. Bagaimanapun juga PPP dan PDI tidak dapat melepaskan tanggung jawabnya, karena secara bersama-sama secara membabi buta tetap mendukung Soeharto sebagai presiden selama 32 tahun.

Beberapa waktu lalu, saya masih ingat, bagaimana tidak aspiratifnya PPP terhadap aspirasi masyarakat luas. Ketika TEMPO, Editor, dan DeTik dibredel pemerintah Orde Baru, DPP PDI menentang tindakan sewenang-wenang pemerintah. DPP Golkar menyatakan sikap menyesalkan tindakan pemerintah, tetapi Buya Ismail Hasan Metareum dalam kedudukannya sebagai Ketua Umum PPP justru menyatakan "dapat memahami" pembredelan beberapa media cetak tersebut. Sehingga terkesan bahwa PPP ternyata lebih Golkar dibandingkan dengan Golkar itu sendiri.

Pada saat mahasiswa Indonesia menentang pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden menjelang Sidang Umum MPR tahun 1998 lalu, kembali PPP mencalonkan Soeharto yang nyata-nyata tidak disukai. Bahkan untuk mengajukan orang atau tokoh PPP sendiri sebagai calon presiden, PPP tidak punya keberanian. Mungkin keadaan negara kita tidak akan separah ini bila saja PPP benar-benar menjalankan ajaran amar ma?ruf nahi mungkar, tapi tampaknya tokoh-tokoh PPP telah melupakan ajaran tersebut.

Kalau pada Sidang Istimewa MPR baru-baru ini PPP berjuang menampung aspirasi mahasiswa dan masyarakat luas, saya menilai sebagai upaya untuk dapat survive kembali, mengingat saat ini sudah banyak didirikan partai-partai berazaskan Islam. Paling tidak upaya tersebut dapat mengurangi dosa-dosa PPP selama 32 tahun yang lewat.

Untuk itu, saya berpendapat tidaklah pada tempatnya partai-partai Islam yang ada bergabung dengan PPP, mengingat PPP itu sendiri merupakan produk Orde Baru. Justru PPP sebaiknya meleburkan diri ke dalam partai-partai Islam yang ada, atau paling tidak terlibat dengan kekotoran rezim Soeharto, pilihlah tokoh-tokoh baru misalnya Baharuddin Lopa atau Bismar Siregar. Dengan tokoh-tokoh baru tersebut, barulah PPP dapat berjalan seiring dengan partai-partai Islam baru yang reformis.

SUYOTO M.S.
Jalan Praja Lapangan RT 014/001
Kebayoran Lama, Jakarta Selatan


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
29/XXXVII/08 - 14 September 2008

 

Berita lainnya

Victoria Beckham Bantah Bisnisnya Gagal - 08 Sep 2008 | 10:17 WIB
Resep Jitu Inggris Mengalahkan Kroasia - 08 Sep 2008 | 10:13 WIB
Telkom Kalimantan Targetkan Sejuta Pelanggan - 08 Sep 2008 | 10:11 WIB
Formalin dan Rhodamin Ditemukan di Balikpapan - 08 Sep 2008 | 10:09 WIB
Oprah Winfrey Tolak Wawancara Palin - 08 Sep 2008 | 09:57 WIB
Motor Tabrak Mobil, Satu Cedera - 08 Sep 2008 | 09:57 WIB
Komisi Pemilihan Palembang Pleno - 08 Sep 2008 | 09:48 WIB
Motivasi Inggris Melawan Kroasia Bukan Balas Dendam - 08 Sep 2008 | 09:45 WIB
Eva Mendes Ogah Jadi Ibu - 08 Sep 2008 | 09:44 WIB
Indeks Asia Naik Setelah Pengambilalihan Freddie dan Fannie - 08 Sep 2008 | 09:44 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data