Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXIIIIIII/29 Desember - 04 Januari 1999
   
Kritik

Nasib Mahasiswa

Sering kali kita mendengar pejabat pemerintah mengatakan bahwa ekonomi membaik, inflasi turun, dan kemiskinan berkurang. Entah yang ke berapa kali saya mendengarnya. Tapi dari semua itu, fakta di masyarakat sangatlah berbeda. Harga tidak mau turun, uang semakin sulit dicari, tarif jasa semakin mahal, dan masih banyak lagi.

Salah satu golongan masyarakat yang merasakan pahitnya keadaan itu ialah mahasiswa. Entah berapa ratus ribu dari mereka yang terpaksa harus tidak melanjutkan kuliah. Mereka dengan sangat terpaksa mengorbankan studi karena tidak mempunyai uang untuk membayar kuliah, bahkan untuk biaya hidup. Pemerintah memberikan beasiswa, toh program tersebut tidak menjangkau mahasiswa sehingga mereka terancam drop out (DO). Selain jumlah beasiswa per orang per bulan minim, sasarannya juga meluas sehingga mahasiswa umum pun (kondisi ekonomi cukup) dapat ikut serta. Sedangkan mahasiswa ekonomi lemah terancam DO, karena tidak bisa membayar biaya studi. Program beasiswa itu seolah-olah tak lebih dari program populis seperti program bantuan lainnya. Masa depan bangsa ini terletak di pundak generasi muda, salah satunya mahasiswa. Diperlukan anggota masyarakat yang peduli membantu masalah ini atau yayasan-yayasan yang mampu menggalang beasiswa nasional. Mahasiswa bukan hanya mereka yang berdemonstrasi, tapi juga mereka yang kesulitan ekonomi, contohnya saya. Untuk meneruskan kuliah di semester akhir rasanya sulit. Usaha-usaha telah saya lakukan antara lain: bekerja sambilan (upah minim sekali), mencari beasiswa (belum dapat), cuti studi (tetap harus bayar SPP), mengirim surat pembaca tidak dimuat, mengirim surat ke pejabat pemerintahan tidak digubris. Semuanya mengecewakan. Saya tidak berharap apa-apa, tetapi kepedulian warga Indonesia terhadap masa depan generasi muda, terutama mahasiswa yang senasib dengan saya sangat besar artinya. Sehingga masa depan generasi muda bangsa ini tidak terus-menerus menjadi dagelan politik yang mulai tidak lucu.

WAHYU SUBARDI
Gendeng Gondokusumo 4/954
Yogyakarta 55225


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
29/XXXVII/08 - 14 September 2008

 

Berita lainnya

Surat Suara Pilwali Kediri Nyaris Mencapai 1 Meter - 07 Sep 2008 | 18:49 WIB
Soekarwo Dekati PGRI - 07 Sep 2008 | 18:42 WIB
Tarif PDAM Bojonegoro Naik 50 Persen - 07 Sep 2008 | 18:38 WIB
PT Sarana Tanggapi Surat Petani Super Toy HL-2 - 07 Sep 2008 | 18:34 WIB
Hanya Enam Parpol di Malang yang Penuhi Kuota Perempuan - 07 Sep 2008 | 18:33 WIB
Tiket Kereta Bojonegoro-Jakarta Ludes Terjual - 07 Sep 2008 | 18:25 WIB
Begini Rasanya Menjadi Pegawai Pertama Google - 07 Sep 2008 | 18:18 WIB
Pusat Perbelanjaan di Semarang Mulai Ramai - 07 Sep 2008 | 18:10 WIB
Soekarwo Dekati Persatuan Guru Republik Indonesia - 07 Sep 2008 | 18:02 WIB
Presiden Buka Puasa di Kediaman Ketua DPD - 07 Sep 2008 | 17:51 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data