Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXIIIIIII/29 Desember - 04 Januari 1999
   
Kalam

Dua Hari yang Menentukan

Jakarta genting setelah beberapa hari dirundung kerusuhan. Ribuan mahasiswa menguasai Gedung MPR/DPR, Senayan, setelah berminggu-minggu melakukan demonstrasi di jalanan, yang bermuara pada tragedi Trisakti. Sementara itu, Amien Rais berniat menggelar demo besar di Lapangan Monumen Nasional (Monas).

Semua itu meningkahi kesibukan lain di Istana Merdeka dan Cendana pada hari menjelang Soeharto turun, setelah 32 tahun malang-melintang. Pada dua hari terakhir itu, para pemimpin elite nasional dan bangsa Indonesia mengalami hari yang paling sibuk dan melelahkan sepanjang tahun ini.

Rabu, 20 Mei

03.00 (dini hari): Amien Rais mengadakan jumpa pers. Dalam kesempatan itu, ia menyatakan telah membatalkan rencana mengerahkan massa pendukungnya ke Monas karena khawatir bakal menimbulkan korban jiwa.

11.00-13.00: Mesin-mesin politik tingkat tinggi berpusing cepat. Pimpinan DPR bertemu dengan beberapa pimpinan ABRI dan menjajaki sikap ABRI berkaitan dengan tuntutan yang kian deras atas mundurnya Soeharto. Ketua MPR/DPR Harmoko bersama kelima pimpinan DPR lainnya menerima delegasi mahasiswa di rumahnya.


16.45: Dewan pimpinan MPR/DPR bertemu dengan perwakilan mahasiswa di Gedung MPR/DPR, Senayan. Dewan lalu mengadakan konferensi pers, yang isinya: meminta Soeharto mengundurkan diri. Dewan juga mengumumkan bahwa mereka memberikan batas waktu sampai Jumat, 22 Mei, bagi Presiden untuk mundur. Jika Soeharto menolak, DPR akan bersidang pada Senin untuk memutuskan diadakannya sidang umum istimewa.

17.30: Para anggota Golkar menyusun proses konstitusional untuk mencabut Ketetapan MPR/DPR tentang Presiden dan Wapres. Pada waktu hampir bersamaan, Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Ekuin) Ginandjar Kartasasmita mengadakan pertemuan serius dengan para menteri bidang ekuin di Badan Perencanaan Pembangunan nasional (Bappenas). Agenda utamanya: membahas rencana pengunduran diri 16 menteri bidang ekuin. Hanya dua menteri yang absen: Bob Hasan dan Fuad Bawazier. Belakangan, keduanya tidak menandatangani surat pengunduran diri itu.

19.30: Soeharto bertemu dengan bekas wakil presiden Sudharmono di Cendana. Materi pembicaraan diduga soal bagaimana cara mengundurkan diri yang "layak" dan kemungkinan dampak sampingnya yang bakal muncul akibat cara pengunduran seperti itu.

20.00: Jenderal TNI Wiranto menerima sejumlah pakar, antara lain Salim Said, Ryaas Rasyid, Harun Al Rasyid, dan Rektor UI Budi Santoso. Mereka mendiskusikan kemungkinan mundurnya Soeharto secara baik dan terhormat.

21.00-22.00: Di Cendana, Soeharto memanggil Wapres B.J. Habibie. Presiden juga mengabarkan akan mengumumkan reshuffle kabinet dan pembentukan komite reformasi pada Kamis. Sebab, esok harinya (Jumat), ia akan mengumumkan pengunduran diri sebagai presiden.

22.00-23.00: Wapres Habibie memanggil para menteri koordinator, di antaranya Hartarto dan Haryono Suyono, di kediamannya untuk membicarakan perkembangan situasi mutakhir.

23.00: Soeharto menerima surat pengunduran diri para menteri bidang ekuin. Soeharto juga mendengar penolakan orang-orang yang diminta duduk di kabinet reformasi.

Soeharto lalu memerintahkan kepada ajudan untuk memanggil Yusril Ihza Mahendra, Mensesneg Saadilah Mursjid, dan Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto. Dapat diduga, Yusril dipanggil untuk justifikasi konstitusional atas pengunduran dirinya bersama Saadilah. Sedangkan Wiranto dipanggil untuk memastikan jaminan pengamanan diri dan keluarganya setelah ia tidak lagi menjabat presiden.

Habibie menelepon Presiden. Telepon diterima Saadilah Mursjid, yang mengabarkan ada perubahan rencana: besok pagi, Pak Harto akan mengundurkan diri. Secara konstitusional, semuanya akan diserahkan ke Wapres.

23.15: Pangab menghadap Soeharto untuk menyampaikan pesan ABRI bahwa sebaiknya ia memang mesti mengundurkan diri.

23.30 hingga esok hari: Soeharto segera merancang naskah pengunduran diri, dibantu oleh Saadilah Mursjid, Mayjen TNI Jasril Jakub (sekretaris militer presiden), dan Yusril Ihza Mahendra.

Kamis, 21 Mei

02.00: Ketua Umum PP Muhammadiyah Amien Rais menerima telepon dari seorang pejabat tinggi. "Mas Amien, most probably, the old man has resigned," begitu bisik si penelepon. Tak lama kemudian, menjelang fajar, di kediaman Malik Fadjar, Jalan Indramayu 14, Jakarta Pusat, berlangsung konferensi pers. Yang hadir Nurcholish Madjid, Amien Rais, Emha Ainun Najib, Din Syamsudin, dan tentu saja Malik Fadjar sendiri. Nurcholish dengan hati-hati menyatakan, "Saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah saya mengadakan jumpa pers ini, kecuali saya mengajak Saudara-Saudara ... mengucapkan selamat tinggal kepada pemerintahan yang lama dan menyambut datangnya pemerintahan yang baru."

08.30: Presiden Soeharto datang diiringi konvoi mobil memasuki Istana Merdeka. Beberapa menit kemudian, Wapres Habibie menyusul dan langsung menuju Ruang Jepara untuk bertemu dengan bosnya. Ketua Mahkamah Agung Sarwata beserta para wakil ketua menyusul lima menit kemudian. Dan lima menit lagi giliran Ketua MPR/DPR Harmoko, didampingi empat wakil ketua DPR, disusul menteri-menteri kabinet.

08.55: Soeharto masih sempat mengadakan silaturahmi dengan para tamu di Ruang Jepara, sebelum lima menit kemudian keluar menuju ruang credentials.

09.05: Soeharto berpidato menyatakan berhenti sebagai presiden dan menunjuk Habibie sebagai penggantinya. Setelah itu, Habibie mengucapkan sumpah dan dilantik sebagai presiden di hadapan Ketua MA dan para wakil ketua.

09.40: Soeharto meninggalkan Istana menuju Cendana diiringi Tutut dan Saadilah Mursjid. Roman mukanya tampak kosong, tapi di dadanya masih tersemat lencana lambang kepresidenan--jabatan yang baru saja diletakkannya.

Wicaksono, Setiyardi


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Kapal AS Temukan Peswat Filipina yang Hilang - 05 Sep 2008 | 11:35 WIB
Tim Khusus Akan Mengecek Kelayakan Gondola - 05 Sep 2008 | 11:24 WIB
Larikan Mobil Polisi, Pemabuk Tewas - 05 Sep 2008 | 11:15 WIB
Hillary Clinton Tolak Pencalonan McCain dan Palin - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Introspeksi Gaya PSP - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Sejumlah Calon Legislator Dicalonkan Dua Partai - 05 Sep 2008 | 11:11 WIB
Kecelakaan Beruntun di Tol Cibitung, Satu Polisi Luka Parah - 05 Sep 2008 | 11:01 WIB
Badan Kehormatan DPR Tak Sempat Periksa Agus Condro - 05 Sep 2008 | 10:58 WIB
Spanyol Pakai Pengalaman Indah Euro 2008 - 05 Sep 2008 | 10:52 WIB
Ucapan Selamat Untuk Pasangan Alex dan Eddy - 05 Sep 2008 | 10:49 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data