Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXIIIIIII/29 Desember - 04 Januari 1999
   
Ekonomi dan Bisnis

Pakai ?Pahe? ke Luar Negeri

Penyelenggara tur dan wisata bersaing menawarkan paket hemat ke luar negeri. Waspadai mereka yang terlalu obral.

Biar krisis asal masih bisa pelesir. Ya, mengapa tidak? Jangan dulu berpikir ongkosnya akan mahal. Tunggu dulu. Belakangan ini, terutama sejak paruh kedua tahun ini, sejumlah penyelenggara tur dan perjalanan alias tour and travel agent bersaing ketat dalam ber-pahe-pahe. Maksudnya, mereka menggelar paket wisata ke luar negeri dengan tarif murah alias paket hemat.

Menurut salah satu pengelola perusahaan wisata, tiap menjelang akhir tahun pada bulan Desember ini, permintaan untuk mengikuti pahe meningkat amat pesat. Bahkan pelancong yang mendaftar di perusahaan pengelola wisata Vayatour untuk tujuan-tujuan Amerika Serikat, Eropa, dan Australia, kabarnya, sudah berlebih alias overbooked.

Lepas dari urusan krisis atau tidak, tawaran wisata pahe ke luar negeri seringkali amat menggiurkan. Bayangkan saja, paket tiga hari dua malam ke Singapura saja ditawarkan sekitar US$ 150 hingga US$ 160. Itu sudah termasuk antar jemput dari dan ke bandara, biaya penginapan dan makan pagi. Bandingkan dengan harga tiket biasa untuk tujuan yang sama, yaitu hampir US$ 90 pulang pergi saja, sonder akomodasi dan layanan tetek-bengek itu. Malah, pada masa liburan seperti sekarang ini, harga tiket bisa lebih mahal lagi.

Kok, bisa murah begitu? Tampaknya ada beberapa kiat perusahaan pengelola paket wisata yang mesti dicermati. Pertama, penyelenggara cenderung menurunkan kelas hotel. Kalau tadinya kita disediakan untuk menginap di hotel bintang empat atau lima, kini dalam tur paket hemat ini, hotelnya cuma bintang tiga saja. Kalau peserta ingin pindah kelas hotel, dia akan dikenai biaya tambahan.

Selain hotel, perusahaan tur juga mencari restoran alternatif. Maksudnya tempat makan yang harga menunya miring. Karena itu, jangan kaget jika dalam paket hemat ini Anda akan dimasukkan ke restoran kelas dua. Dan yang paling penting, perusahaan tur yang menggelar wisata ngirit ini sudah punya deal dengan perusahaan penerbangan tertentu yang memberikan tarif khusus.

Apakah semua penyelenggara wisata bisa menggelar paket hemat? Tentu tidak. Harus diakui, perusahaan wisata yang punya jaringan di luar negeri akan lebih leluasa menekan biaya. Vayatour yang memiliki konsorsium sembilan agen perjalanan lain, misalnya, bisa saling memanfaatkan pelanggan. Kalau dalam satu paket tur, jumlah pesertanya masih belum mencukupi, misalnya, mereka bisa digabung dengan agen lainnya, seperti Antatour. Cara lain untuk menghemat biaya adalah kerja sama dengan perusahaan penerbangan, tidak saja dalam harga tiket tapi juga untuk promosi.

Model paket hemat ini sebenarnya merupakan upaya perusahaan wisata bertahan pada masa krisis. Karena, kalau tetap bertahan dengan model tur series, alias serombongan turis dengan jadwal tur tertentu lengkap dengan pemandu wisata, paket itu bisa-bisa batal berangkat. Untuk tujuan AS dan Australia misalnya, harus terkumpul 15 peserta dulu, baru bisa berangkat. Nah, pada saat krisis seperti ini, tentu sulit untuk menarik peserta sebanyak itu pada jadwal yang sudah ditentukan.

Selain itu, perusahaan tur juga menyiasati masa krisis dengan paket insentif. Maksudnya, perusahaan wisata menjadi pengorganisasi kelompok tur dari sebuah perusahaan. "Biasanya kami diminta untuk mengurus segala sesuatunya dan mereka hanya terima bersih, tinggal menikmati turnya saja," kata Ani Setiawati, Inbound Departement dari Ramayana Tour.

Kiat perusahaan wisata menarik peserta memang sah-sah saja. Kenyataannya, karena hantaman krisis, peserta tur ke luar negeri akhir-akhir ini memang menurun drastis. Kalau dipukul rata merosot hingga 70 persen. Untuk tujuan favorit seperti Australia, misalnya, penjualan sebuah perusahaan wisata tur dan perjalanan merosot dari 1.800 tiket (1997) menjadi 200 tiket tahun ini.

Tentu saja, ketatnya persaingan disambut hangat konsumen. Seorang pelanggan, Mary Suhardi, mengaku sangat menikmati kemudahan dan kemurahan pahe dari Ramayana. "Pokoknya jauh lebih hemat," kata ibu rumah tangga yang sudah dua kali mengikuti paket hemat Ramayana. Bagi Mary, paket hemat itu menguntungkan bagi orang yang sudah pernah atau beberapa kali mengunjungi tempat tersebut. Misalnya, orang yang sudah berkali-kali pergi ke Singapura sebaiknya pilih pahe, karena bisa bebas pergi sendiri, tapi tetap terjamin akomodasi dan urusan lainnya.

Tapi, namanya juga paket hemat, pasti ada "kurangnya". Yang penting, si konsumen harus waspada dengan penawaran yang diberikan setiap perusahaan tur dan perjalanan. Misalnya saja ada paket wisata ke Paris dan pergi ke Menara Eiffel. Perhatikan, apakah dalam paket itu termasuk biaya naik ke puncak menara atau tidak. Kelihatannya ini memang soal sepele, tapi mungkin bisa membuat Anda kecewa dan menghanguskan kesenangan berwisata.

Jadi, yang musti diteropong pertama kali adalah spesifikasi paket itu sendiri. Misalnya, biaya-biaya untuk dokumen perjalanan, seperti visa, pajak bandara, biaya fiskal, dan makanan serta minuman yang di luar paket, perlu diwaspadai. Jangan sampai Anda salah menghitung, memesan makanan dan minuman sesuai dengan selera, padahal biayanya harus ditanggung sendiri.

Kelas hotel, juga musti dicermati. Sudah menjadi kesepakatan umum, penggelar pahe akan menurunkan kelas hotel ke bintang tiga saja. Nah, standar hotel bintang tiga ini bisa beragam--karena tidak masuk dalam kategori standar internasional. Karena itu, peserta tur harus mau sedikit rewel untuk bertanya: terletak di kawasan apa dan bagaimana image hotel itu. Hati-hati karena sering kali, hotel-hotel kelas dua ini berada di kawasan "lampu merah".

Lalu, soal jenis kamar. Biasanya dalam paket hemat, kamar hotel untuk dua orang alias double. Nah, kalau Anda menginginkan kamar single, Anda pasti terkena biaya ekstra yang cukup besar. Alasannya, permintaan kamar single tak termasuk dalam pemesanan agen perjalanan.

Yang juga tak kalah penting adalah aturan pembatalan keikutsertaan. Pada saat krisis, perusahaan tur kesulitan mencapai jumlah wisatawan. Yang terjadi, biasanya, kompromi hari keberangkatan di antara peserta tur. Kalau sampai waktunya tak cocok dengan Anda, buru-burulah minta penggantian, karena bisa jadi Anda melewati batas waktu pengunduran diri hingga harus dipotong atau bahkan hangus sama sekali. Setiap agen pasti punya kebijakan sendiri-sendiri soal pemberitahuan penundaan dan besarnya denda.

Menurut Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tini Hadad, musim liburan seperti Desember juga perlu diperhatikan. Biasanya, tawaran di musim libur tak sesuai dengan kenyataan. Hotel-hotel yang baik dan layak sudah fully booked. "Bisa jadi peserta tur dipindah ke hotel lain yang lebih buruk keadaannya, karena hotel yang dijanjikan sudah penuh," kata Tini. Kebiasaan menurunkan fasilitas itu sudah terjadi sejak sebelum krismon. Apalagi dalam kondisi krisis, yang serba terbatas anggarannya.

Tapi pihak penyelenggara pahe menjamin tidak ada trik di balik murahnya paket ke luar negeri. Tawaran bepergian murah itu diberikan semata-mata untuk bertahan di masa krisis. "Kami masih untung, tapi tipis sekali," kata Sisca Probo, outbound FIT supervisor dari Vayatour.

Bina Bektiati, Dwi Wiyana, dan Agus S. Riyanto


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Soal Masa Jabatan, Presiden Tunggu Kapolri Pulang Umroh - 05 Sep 2008 | 15:33 WIB
Kementerian BUMN Rombak Komisaris Berdikari - 05 Sep 2008 | 15:28 WIB
Layanan Kesehatan Gratis Di Kebumen - 05 Sep 2008 | 15:26 WIB
Giliran Pendukung Syahrial-Helmy Rayakan Kemenangan - 05 Sep 2008 | 15:15 WIB
PDAM Protes ExxonMobil Yang Akan Menyedot Sumber Air di Dander - 05 Sep 2008 | 15:10 WIB
Hatta Minta Kegagalan Super Toy Tidak Dipolitisir - 05 Sep 2008 | 15:05 WIB
Pemerintah Harus Libatkan Organisasi Guru dalam Sertifikasi Guru - 05 Sep 2008 | 15:01 WIB
Lima Hari, Lima Jenazah Bayi - 05 Sep 2008 | 14:59 WIB
Klub Raksasa Inggris Bertambah Satu - 05 Sep 2008 | 14:58 WIB
Lima Hari, Lima Mayat Bayi - 05 Sep 2008 | 14:56 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data