Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXIIIIIII/22 - 28 Desember 1998
   
Nasional

Dari Centeng sampai Pelacuran

KINI bukan hanya negara yang memanfaatkan jasa ABRI untuk mengamankan kebijakan ekonomi. Sektor swasta ikut-ikutan memanfaatkan jasa "pengamanan" mereka. Ini di luar jalur institusional dan, tentu saja, dilarang.

Tidak hanya di Jakarta anggota ABRI dimanfaatkan menjadi pengawal pribadi orang berduit. Di Medan, misalnya, beberapa anggota ABRI juga melibatkan diri dalam "bisnis pengamanan"?menjadi pengaman bangunan, perumahan, serta tempat perjudian. Tampaknya, bisnis ini mendatangkan kemakmuran. Seorang sersan mayor yang menjadi centeng di salah satu kawasan perjudian, sehari-hari, bisa berkendaraan sedan BMW.

Di Surabaya, kawasan yang menjadi lahan basah adalah kawasan pelacuran yang konon terbesar di Asia Tenggara, Dolly. Di lokasi pelacuran Kelurahan Putatjawa itu, komando rayon militer (koramil) dan anggota musyawarah pimpinan kecamatan (muspika) lainnya?kepolisian sektor (polsek) dan kecamatan?yang berpatroli mendapat rokok dan uang keamanan Rp 15 ribu per malam. Tapi ini dibantah Sersan Mayor Farkhan, bintara tata usaha urusan dalam Koramil Kecamatan Sawahan. "Kami tak minta uang. Paling-paling hanya Aqua kalau pas diminta membantu pengamanan," katanya.

Selain itu, ada lagi uang keamanan yang diberikan para muncikari kepada aparat tak berseragam sebesar Rp 30-50 ribu per malam. Lurah, para muncikari, atau pemilik wisma ternyata tak keberatan dengan kehadiran mereka. Soalnya, bila ada pengunjung dari kalangan ABRI yang bikin ribut, hanya ABRI sendiri yang bisa mengatasi.

Menurut Farkhan, oknum ABRI di Dolly tak hanya sebatas pengaman, tapi juga bahkan ada yang terjun langsung ke bisnis pelacuran. Ia menyebut Kapten (Purnawirawan) Batubara, yang memulai usahanya ketika masih aktif berdinas di Koramil 084/Wonocolo, Surabaya. "Usaha itu diatasnamakan anaknya, bukan dirinya sendiri," kata Farkhan. Rumah bordir anak tentara itu bernama Wisma Anak bangsa?setiap rumah bordil di Dolly dinamai wisma. Hasilnya memang menggiurkan. Setiap wisma di Dolly yang punya 10 wanita bisa menghasilkan pemasukan dalam sebulan sekitar Rp 30 juta.

GSI, Munib Rofiqi (Surabaya), Bambang Sedjiartono (Medan)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data