Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXIIIIIII/22 - 28 Desember 1998
   
Investigasi

Lahae Ajang Terpanggang Angkara

Peristiwanya terjadi tahun lalu. Lahae Ajang, seorang perempuan tua, warga Desa Matalibaq, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur, melihat api membakar ladangnya. Ia bukannya takut. Warga Suku Dayak Bahau itu malah mengajak anak dan menantunya terjun memadamkan api. Lahae menyuruh keduanya menyelamatkan pondok di ladang mereka di tepi sungai.

Saat kedua orang lelaki itu pergi sesuai dengan perintah, perempuan itu sibuk memadamkan api dengan menepuk-nepukkan daun basah. Tiba-tiba, wusss..., api telah mengepungnya. Tak ada jalan keluar. Dua hari setelah api pergi menjauh, orang menemukan tubuhnya hangus terbakar. Tergeletak lunglai, tinggal belulang rapuh kehitaman....

Begitulah. Kecerobohan dan ketamakan para pengusaha bisa membunuh. Tak hanya manusia. Pembakaran jutaan hektare hutan itu juga melenyapkan beberapa spesies flora dan fauna, merusak "paru-paru bumi", menimbulkan asap tebal yang menghentikan penerbangan dan pelayaran, menjangkitkan penyakit saluran pernapasan bagi warga Kalimantan. Juga negeri jiran, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Di samping Lahae, entah ada berapa yang tewas karena tersedak asap tebal kebakaran. Itu sebabnya kerugian akibat kebakaran hutan Kalimantan jauh lebih besar daripada yang bisa dibayangkan?untuk beberapa hal bahkan tidak bisa dinilai dengan uang.

Upaya memadamkannya pun merupakan sebuah operasi kolosal yang mahal. Tapi tak banyak hasilnya. Pesawat pengebom air Transal pernah dikirim dari Jakarta, lengkap dengan teknologi pemadam api dan air 12.000 liter. Tapi api yang sudah merambah ribuan hektare Bukit Soeharto tak juga mati, walaupun pesawat yang berbiaya US$ 2.600 per jam itu sudah empat kali beroperasi.

Pemerintah Amerika Serikat pernah pula mengirimkan tiga pesawat Hercules. Sasarannya: api liar dan ganas di Tanjungputing, Kalimantan Tengah. Tetapi pesawat pengebom air berbadan besar ini juga tak bisa berbuat banyak.

Cara lain dilakukan lewat hujan buatan. Agar air segera turun, disemprotkanlah gas kimia campuran kalsium oksida dan kalsium hidroksida ke atas kumpulan asap. Namun gagasan Ketua BPPT B.J. Habibie itu tak menghasilkan apa-apa. Ribuan hektare hutan di Bukit Soeharto tetap terbakar. Belasan surat keputusan dan petunjuk usaha pencegahan dan penanggulangan hutan juga dibuat. Tapi hasilnya nol besar.

Banyak negara secara resmi sudah dimintai bantuan. Dari Inggris diberikan pinjaman lunak guna mengembangkan telekomunikasi radio terpadu untuk mendeteksi api secara dini. Y. Martin Hardiono, salah seorang perancang Geograpichal Information System (GIS) di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bappedal), melakukan pemantauan melalui foto satelit untuk menemukan titik api. Sistem itu bekerja dengan satelit bernama NOAA, yang akan melaporkan adanya sebaran titik panas di atas 50 derajat Celsius ke stasiun yang berada di Pekayon, Jakarta Barat. Satelit ini memantau satu posisi yang sama sebanyak delapan kali.

Australia mengirimkan tim ahli penilai api dan pesawat pengebom air. Dari Malaysia sempat juga didatangkan tim pemadam kebakaran, bernama Bomba?yang sempat menimbulkan kontroversi. Tapi api tetap tak mau mati. Sedangkan tim Kanada juga datang dengan para penilai api yang tangguh. Tim ini menyimpulkan wilayah Kalimantan Timur adalah wilayah yang paling rentan kebakaran.

Tim Kanada punya saran agar Indonesia kembali kepada cara tradisional. Caranya? Mengerahkan rakyat setempat. Sejumlah massa dikerahkan ke garis depan untuk memadamkan api. Mereka bahu-membahu mengusir api. Berbagai cara sederhana dilakukan untuk menghambat meluasnya jalan api. Ribuan masyarakat dengan cangkul, sekop, dan parang membuat lubang parit yang diisi air di sekeliling wilayah kebakaran. Tapi si jago merah sudah di mana-mana. Parit tak efektif menghadangnya.

Selalu lebih efektif dan murah mencegah ketimbang memadamkan. Namun, tak banyak yang menyadari dalil sederhana ini, terutama ketika gemerincing keuntungan dan ketamakan begitu menyala-nyala.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data