Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/XXIIIIIII/15 - 21 Desember 1998
   
Media

Habis Tiara Terbitlah Nakita

Setelah delapan tahun, Gramedia menyetop Tiara, menggantinya dengan tiga tabloid dan satu majalah baru.

GRAMEDIA akhirnya "kecipratan" krisis moneter. Grup media terkuat Indonesia yang punya 12 majalah dan tabloid--serta harian beken Kompas--itu harus kehilangan Tiara, majalah gaya hidup yang cukup populer. Senin pekan lalu, para petinggi manajemen Gramedia Majalah mengumumkan, Tiara tidak akan terbit lagi mulai Januari mendatang. Keandalan manajemen dan kerapian jaringan pemasaran grup besar ini rupanya belum cukup ampuh menahan jatuh bebasnya pasar majalah dan kue iklan saat ini.

Sebenarnya, upaya penyelamatan telah dilakukan. "Sudah bertahun-tahun kami mencari di mana letak kesalahannya. Dan kami sudah lelah," kata Widi Krastawan, Wakil Direktur PT Gramedia Majalah. Selama delapan tahun di bawah Gramedia, Tiara sering mengalami bongkar pasang. Konsep isinya beberapa kali diubah. Begitu pula strategi pemasaran dan pencarian iklan. Yang terakhir, majalah yang semula terbit mingguan ini diubah menjadi bulanan. Toh, strategi ini tak banyak menolong, sampai akhirnya Gramedia angkat tangan, menyerah.

Itu lantaran angka-angka pendapatan Tiara terus meluncur ke bawah seperti jet coaster. Pukulan seperti datang dari berbagai penjuru. Angka produksi makin berat nomor demi nomor, apalagi Tiara memakai kertas luks--bukan kertas koran biasa. Tirasnya pun terus terjun bebas hingga akhir semester pertama 1998 tinggal tersisa separuh dari tiras sebelumnya. "Padahal yang semester satu itu pun sudah drop dari Januari 1998," ujar Widi. Terakhir, tiras Tiara bertengger di angka 18 ribu eksemplar, sangat jauh dari target yang ditetapkan--pada angka di atas 40 ribuan.

Pendapatan iklan juga merosot sampai 70 persen. Menurut Adrian Herlambang, wakil direktur bidang bisnis Gramedia Majalah, selama ini produk-produk yang beriklan di Tiara adalah barang bermerek. Celakanya, justru produk-produk bermerek inilah yang iklannya sangat rontok. Tahun lalu, merek-merek ternama produksi PT Great River, seperti Kenzo atau Arrow, memang masih beriklan di Tiara. "Kalau perusahaannya ada, masih bisa kami bujuk untuk pasang iklan. Tapi sekarang ini perusahaannya sendiri sudah tak ada," kata Widi.

Segmen pembaca yang dibidik Tiara, orang kantoran atau yang biasa disebut EBG (eksekutif baru gede), juga menjadi faktor yang menyulitkan Tiara untuk menjaring iklan. Widi menduga, karena segmen ini juga menjadi pembaca majalah berita, pengiklan mungkin lebih memilih memasang iklan di majalah berita yang tirasnya jauh lebih besar. Ini pertimbangan efisiensi bisnis, tentu saja.

Dengan membanjirnya majalah dan tabloid di pasar, pembaca pasti lebih selektif dalam membeli majalah. Dan majalah berita tampaknya lebih dipilih orang kantoran. Menurut survei Sofres-Frank Small & Associates yang dilakukan September lalu, tiras majalah berita justru meningkat sekarang ini. Dari 20 besar majalah yang disurvei, kecuali Gatra, jumlah pembaca majalah berita seperti Forum, D&R, dan Ummat meningkat cukup signifikan. Ini kebalikan dengan jumlah pembaca majalah "nonberita", yang kebanyakan menurun tajam.

Mengamati perubahan "angin" di pasar, Gramedia banting setir. Kelompok bermodal kuat yang bermarkas di Palmerah, Jakarta itu seperti menerapkan pepatah: hilang satu tumbuh seribu. Tutup Tiara, buka lagi yang lain. Karyawan Tiara tidak akan mengalami pemutusan hubungan kerja karena Gramedia malah akan meluncurkan beberapa media baru. Ke sanalah eks karyawan Tiara akan didistribusikan. "Kami akan punya jalur-jalur baru tapi kira-kira lebih spleteran dari yang sudah ada," kata Widi.

Rencananya, setelah Lebaran, Gramedia akan meluncurkan spleteran alias limpahan dari beberapa media yang selama ini sudah diterbitkannya. Ada Nakita, spleteran dari Nova, tabloid yang ditujukan untuk ibu dan anak. Ada Motorplus, dari Otomotif, tabloid khusus untuk sepeda motor. Ada pula majalah Sedap Sekejap dan Info Metro, tabloid yang berisi berita seputar Jakarta.

Jadi, tak ada alasan untuk pesimistis. Sebab, "Kami sudah cukup lama main di situ. Lagi pula kami enggak perlu banyak uang karena bisa memanfaatkan bahan-bahan yang sudah ada," ujar Widi. Apa boleh buat, mengongkosi media baru rupanya lebih berprospek ketimbang terus "menginfus" Tiara yang sudah kekurangan darah. Maka vonis mati bagi Tiara adalah pilihan berat yang tak bisa ditawar lagi.

Gabriel Sugrahetty, Raju Febrian


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data