Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/XXIIIIIII/15 - 21 Desember 1998
   
Kritik

Mahasiswa, Gerakan Moral yang Damai?

Saya jadi bertanya-tanya di dalam hati, apakah benar para mahasiswa telah melakukan gerakan moral yang damai untuk membela kepentingan rakyat? Sepanjang aksi unjuk rasa itu berlangsung, baik menjelang maupun pada saat berlangsungnya Sidang Istimewa, secara kasat mata terlihat bahwa aksi itu lebih mengarah kepada kekerasan dan pemaksaan kehendak.

Bersikap tidak menyetujui pelaksanaan Sidang Istimewa boleh-boleh saja, sejauh itu tidak melenceng dari koridor demokrasi. Sikap itu seharusnya disampaikan dengan santun, damai, argumentatif, dan menggugah.

Gerakan mahasiswa dengan tujuan menduduki Gedung DPR/MPR dan menggagalkan Sidang Istimewa sudah bukan lagi gerakan moral dan damai, apalagi diwarnai dengan tindakan yang memalukan seperti memaki serta mengejek petugas, melempar batu, membawa pentungan, membawa bom molotov, merusak pagar, merusak trotoar, membakar kendaraan petugas, memukuli petugas sebagaimana terlihat di layar televisi, dan sebagainya.

Di beberapa kota gerakan "moral" mahasiswa justru terkesan sangat anarkis seperti menduduki dan merusak bandara yang terjadi di Ujungpandang dan Medan. Apalagi dalam setiap "aksi damai" itu mahasiswa selalu memobilisasi massa, yang justru mengesankan sebagai kegiatan unjuk kekuatan–bukan unjuk rasa--dalam rangka mendesakkan atau memaksakkan kehendaknya. Tampaknya mahasiswa belum memahami betul substansi demokarsi.

Selain itu, "gerakan moral" mahasiswa juga terkesan selfish. Mereka hanya menaruh simpati kepada korban dari kalangan mereka sendiri dan sama sekali mengabaikan korban dari pihak lain (petugas, warga, dan anggota Pam Swakarsa). Korban dari pihak mahasiswa dinilai sebagai "pahlawan" reformasi sedangkan korban selain mahasiswa tidak dinilai sama sekali, bahkan mungkin cuma dianggap seonggok "bangkai". Padahal mereka sama-sama manusia, sama-sama korban dari kepentingan politik tertentu.

Mahasiswa tentunya tahu persis bahwa perhelatan Sidang Istimewa tempo hari hanyalah sebuah "arena bermain". Lalu, mengapa harus disikapi dengan "serius" sehingga jatuh korban jiwa. Seharusnya itu disikapi dengan "main-main" pula, tidak perlu frontal tapi harus lebih cerdik, argumentatif, artikulatif, dan menggugah.

Kemampuan mahasiswa membaca "peta situasi dan peta permasalahan" tampaknya perlu diasah lebih tajam. Kekeliruan membaca "peta" akan menyebabkan ketidak-arifan dalam merumuskan tindakan. Akhirnya, rakyat jualah yang menderita. Karyawan kecil sulit memperoleh angkutan umum, beras dan kebutuhan pokok lainnya sulit disalurkan ke pasar-pasar. Sebagian besar pedagang kecil (pedagang kaki lima) berhenti berjualan, padahal keuntungan mereka per hari hanya cukup untuk makan hari itu juga. Sebagian rakyat lainnya dirampok dan dijarah di salah satu ruas jalan tol.

Sebaiknya para mahasiswa bersikap dewasa dan berpikir dengan jernih, sehingga mampu merumuskan aksi dan gerakan yang efektif untuk merobohkan dinding kekuasaan yang angkuh, tanpa terlalu banyak meminta pengorbanan dari rakyat.

MUHAMMAD IQBAL S.S.
Dusun Ciater RT 034/015
Panjalu, Ciamis - Jawa Barat


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Lippi Salahkan Kondisi Pemain - 07 Sep 2008 | 10:07 WIB
Hasil Penyisihan Piala Dunia Amerika Selatan - 07 Sep 2008 | 10:06 WIB
Hasil Penyisihan Piala Dunia Asia - 07 Sep 2008 | 10:00 WIB
AirAsia X Tidak Terganggu Harga Minyak - 07 Sep 2008 | 09:55 WIB
Podolski Membuktikan Diri - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
Hasil Penyisihan Piala Dunia Eropa - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
Makanan Pasar di Balikpapan Memakai Pewarna Tekstil - 07 Sep 2008 | 09:25 WIB
Danamon Cairkan Rp 3,2 Triliun Kredit Masyarakat Kalimantan - 07 Sep 2008 | 09:14 WIB
Portugal Optimistis Kalahkan Denmark - 07 Sep 2008 | 09:11 WIB
Pemerintah AS Ambil Alih Manajemen Fannie Mae dan Freddie Mac - 07 Sep 2008 | 08:52 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data