Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXIIIIIII/08 - 14 Desember 1998
   
Nasional

Siapa Mengail Rusuh?

KAMIS pekan lalu, denyut nadi kehidupan Kota Kupang sudah kembali normal. Tapi kerusuhan selama tiga hari di awal pekan itu masih meninggalkan tanda tanya. Rukunnya kehidupan beragama di sana membuat orang menuding adanya provokator dalam tragedi itu.

Benarkah? Sulit menjawabnya. Yang jelas, beberapa orang menyebut "geger Kupang" tidak terjadi dengan sendirinya. Karyawan Departemen Agama Nusa Tenggara Timur, Moh. Salim Al Jufri, punya kisah soal ini. Ketika keberingasan massa merebak, secara jelas ia mendengar melalui pesawat handie-talkie (HT) temannya, ada yang mengendalikan gerakan rombongan perusuh. Sayang, ia tak tahu siapa yang memberikan perintah walau, katanya, pembicaraan lewat HT itu dilakukan di frekuensi yang biasa dipergunakan oleh aparat kepolisian. Namun, menurut Kepala Kepolisian Daerah NTT Kolonel Engkesman R. Hillep, frekuensi itu bisa disusupi siapa saja.

Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK) Darsyad Antjo menggambarkan bahwa aksi brutal itu dilakukan oleh orang-orang terlatih. Peristiwa amuk di kampusnya bisa menjadi contoh. Sebelum aksi penyerbuan dimulai, ada sejumlah orang berseliweran di depan kampus. Beberapa di antaranya terlihat berseragam Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri). Kemudian ada salah seorang di antara mereka memotong kabel telepon.

"Mula-mula mereka menyambitkan batu untuk memaksa kami mundur dan menghindar," kisah Darsyad lebih lanjut, "lalu mereka melempar bom-bom molotov." Sesaat kemudian Darsyad melihat rombongan massa memasuki halaman kampus. Bersama 30 orang lain, ia mencoba menahan, tapi bobol juga. Maklum, jumlah penyerbu mencapai ribuan.

Panglima Daerah Militer IX Udayana Mayor Jenderal TNI Adam Damiri tak menepis kemungkinan adanya provokator. "Kelompok itu memakai satu-dua orang provokator yang menghasut massa untuk melakukan aksi perusakan," ujar Adam tanpa menjelaskan siapa yang dimaksud dengan provokator itu. Pangdam menegaskan bahwa kerusuhan tersebut bukanlah murni kasus SARA, tapi dipicu oleh kelompok-kelompok tertentu yang dengan sengaja menggunakan agama sebagai alat memecah belah persatuan.

Gubernur Piet A. Tallo punya kesimpulan sama. Ia mengatakan tragedi di Kupang adalah akibat adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan agama untuk menciptakan konflik dan pertentangan di kalangan masyarakat. "Ada interest tertentu, baik yang berkaitan dengan situasi nasional maupun lokal," ujarnya.

Piet bahkan melihat aksi kerusuhan itu dilakukan secara terpola. Tujuannya untuk membuat kredibilitas pemerintah, baik di daerah maupun di pusat, turun dan tidak berfungsi. Argumen ini dikemukakannya mengingat, kalau kerusuhan itu benar-benar murni SARA, mengapa para keluarga nonmuslim langsung bersedia menyelamatkan para korban yang rata-rata muslim.

Provokator itu datang dari Jakarta ataukah penduduk Kupang? Sumber TEMPO terang-terangan menyebut, kerusuhan itu sebenarnya merupakan ekor persaingan antarkandidat pemilihan gubernur yang akhirnya dimenangi Piet Tallo. Sumber tadi menduga, boleh jadi pihak yang kalah persaingan menyimpan dendam. "Ketika Pak Piet terpilih dan dilantik sebagai gubernur, ada kelompok yang mengultimatum bahwa dalam waktu enam bulan kepemimpinannya akan digoyang," kata sumber tadi.

Namun, semua sinyalemen itu sulit dikonfirmasikan. Yang jelas, Nahar Lema, salah seorang di antara sejumlah nama yang disebut-sebut sebagai provokator, langsung membantah ketika dikonfirmasi. Alumni Universitas Cendana ini mengatakan justru dia yang berinisiatif mendatangkan pendeta dan pastor untuk bersama masyarakat menghalau massa yang brutal. Begitu juga Yos Momulah. Pejabat salah satu kepala seksi di Biro Kepegawaian Kantor Gubernur yang dituding sebagai provokator itu terang-terangan menge_lak. Ia mengaku dua kali melintasi jalan di depan Kampus UMK. "Tapi itu karena tidak ada jalan lain yang bisa dilewati," kata Yos.

Sampai sekarang, Kapolda NTT Kolonel Engkesman dan Komandan Resor Militer 161 Wirasakti Kolonel Bambang Soemardjo belum bisa menjelaskan siapa aktor intelektual di baliknya. Jadi, siapa yang mengail rusuh di Kupang?

Wicaksono dan Jalil Hakim (Kupang)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Kapolda Jawa Barat Copot Dua Kapolsek - 05 Sep 2008 | 21:29 WIB
Bupati Aceh Besar Mengundurkan Diri - 05 Sep 2008 | 21:19 WIB
Guru Tolak Aturan Pendanaan Pendidikan - 05 Sep 2008 | 21:16 WIB
Fernando Alonso Kuasai Free Practice 2 - 05 Sep 2008 | 21:07 WIB
Al Amin Mengaku Tak Berpengaruh di Komisi Kehutanan DPR - 05 Sep 2008 | 21:02 WIB
Kapolda Jawa Barat Mengaku Ditawari Suap Rp 10 Miliar - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Hughes Bersumpah Jadikan City Raksasa Eropa - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Bupati Aceh Besar Mundur, Surat ke Menteri Ditulis Tangan - 05 Sep 2008 | 20:44 WIB
Simulasi Pemilihan 2009 Dinilai Tak Efektif - 05 Sep 2008 | 20:40 WIB
Bapepam Akan Gugat Eurocapital - 05 Sep 2008 | 20:32 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data