Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXIIIIIII/08 - 14 Desember 1998
   
Nasional

Setelah Luka Curiga Menganga

Warga Kristen dan Katolik hidup berdampingan dengan mesra bersama penduduk Islam di Kupang, sampai kerusuhan itu merenggutnya.

SAMPAI hari ini saya tidak mengerti apa yang terjadi," ujar Cornelis Lay. Tak aneh bila pengamat politik dari UGM itu merasa heran atas meletusnya kerusuhan berbau SARA di Kupang, awal pekan lalu, karena sebagai warga Kupang ia tahu betul kondisi sosiologis kotanya. Di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur inilah ia dilahirkan dan berdiam selama dua dasawarsa sebelum berangkat ke Yogya pada 1979.

Dan selama kurun waktu itu, juga masa-masa ketika ia pulang berlibur, tak pernah sekalipun ia menemukan konflik antaragama di sana. Kalaupun ada korslet, yang biasa terjadi adalah antaretnis. Itu pun dalam skala kecil, tak pernah merebak sampai sebesar kerusuhan Senin-Rabu pekan lalu. Tak hanya Cornelis yang mengerutkan alis, tapi juga tokoh-tokoh masyarakat di sana. ''Semuanya merasa aneh. Kami merasa seperti terbius," kata Ny. Patty-Noach, guru besar sejarah di Universitas Nusa Cendana, Kupang.

Menurutnya, masyarakat NTT tak pernah bersikap fanatik dalam soal agama. Meskipun 80 persen dari 300 ribu warga Kupang beragama Kristen dan Katolik, tapi mereka amat toleran terhadap 25 ribu penduduk Islam?sebuah asimilasi yang tak mengherankan karena proses pembauran antara mereka sudah berlangsung sejak zaman Belanda. Saat itu, para pelaut dan pedagang yang beragama Islam masuk ke Timor melalui Solor, Flores, dan mendiami satu daerah yang kini disebut Kampung Solor. Pada saat bersamaan, masuklah orang Kristen yang semula menempati Pulau Rote.

Toleransi beragama ini tak hanya di bibir saja, tapi sudah berjalan dalam kehidupan sehari-hari. Perkawinan antara penduduk yang berbeda agama biasa terjadi. Perayaan Natal dan Paskah bukanlah monopoli milik warga Kristen dan Katolik, tapi menjadi pesta rakyat. Seluruh warga berbaur dalam pawai-pawai yang meramaikan kota. Di lain pihak, acara takbiran pun menjadi milik bersama.

Cornelis mengambil contoh keluarganya sendiri. Kakak tertuanya, yang kini pengurus wilayah Muhammadiyah, punya panti asuhan dan masjid. Untuk kelangsungan hidup anak-anak asuhnya, bantuan mengalir tak hanya dari penduduk Islam, tapi juga dari komunitas Kristen. Saat Natal tiba pun, keluarga Ny. Patty-Noach yang beragama Islam akan datang dengan membawa kue-kue. Sudah tak aneh bila gereja penuh sesak di saat Natal, lalu bantuan kursi akan datang dari penduduk sekitar yang beragama Islam.

Lalu, kalau hubungan antarmanusia sudah demikian baiknya, mengapa massa sampai membakar empat masjid dan merusak tujuh lainnya? Menurut Uskup Kupang, Mgr. Petrus Tarang, Pr., penyebab kerusuhan bukan persoalan antarumat beragama. ''Tapi ada konflik antara orang-orang tertentu yang mempergunakan agama sebagai jalan masuk untuk mencapai kepentingannya," katanya. Namun Mgr.Tarang tak menjelaskan siapa orang yang dimaksud.

Tapi, kalau ditelisik lebih jauh, sebenarnya di antara umat beragama itu bukannya tak ada konflik. Menurut Syarifuddin Gomang, Ketua Majelis Dakwah Islamiyah NTT, di atas tahun 1990 hubungan antarwarga mulai terganggu. Beberapa kali masjid dirusak, seperti yang terjadi di Maumere, Ende, dan yang terbesar terjadi di Dili pada 1995. Waktu itu, empat masjid dan dua musala dibakar massa. Sebelum tragedi Kupang pun sudah terjadi peristiwa serupa di Waingapu pada April lalu.

Namun, korslet-korslet ini rupanya tak sampai merusak tatanan kehidupan beragama di sana. Terbukti ketika Kupang membara, banyak warga Islam yang mencari selamat di rumah orang Kristen. Hampir 200 warga berikut kendaraannya, misalnya, ditampung di kompleks Yayasan Pendidikan Kristen.

Luka-luka akibat terbakar korslet inilah yang ingin disembuhkan oleh para pemuka agama. Pimpinan agama Kristen dan Katolik sudah sepakat menyumbangkan seluruh uang kolekte minggu lalu untuk perbaikan masjid yang terbakar. Selain itu, mereka juga membuka dompet amal di sebuah koran lokal untuk maksud yang sama.

Penyembuhan ini mungkin berhasil, mungkin saja gagal karena, bagaimanapun, kerusuhan tiga hari itu telah menggoreskan luka curiga yang amat dalam di hati masyarakat.

Diah Purnomowati, Nurur R. Bintari, Jalil Hakim, Yusak Riwu Rohi (Kupang)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Larikan Mobil Polisi, Pemabuk Tewas - 05 Sep 2008 | 11:15 WIB
Hillary Clinton Tolak Pencalonan McCain dan Palin - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Introspeksi Gaya PSP - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Sejumlah Calon Legislator Dicalonkan Dua Partai - 05 Sep 2008 | 11:11 WIB
Kecelakaan Beruntun di Tol Cibitung, Satu Polisi Luka Parah - 05 Sep 2008 | 11:01 WIB
Badan Kehormatan DPR Tak Sempat Periksa Agus Condro - 05 Sep 2008 | 10:58 WIB
Spanyol Pakai Pengalaman Indah Euro 2008 - 05 Sep 2008 | 10:52 WIB
Ucapan Selamat Untuk Pasangan Alex dan Eddy - 05 Sep 2008 | 10:49 WIB
Djokovic Musnahkan Impian Roddick - 05 Sep 2008 | 10:48 WIB
Gaya Ramah Lingkungan   - 05 Sep 2008 | 10:38 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data