Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXIIIIIII/08 - 14 Desember 1998
   
Media

Kencan Timmy Habibie dengan Ummat

Meski belum meneken perjanjian resmi, tampaknya Timmy Habibie hampir pasti akan membeli majalah Ummat. Kenapa Timmy tertarik?

KALAU saja bukan karena Sujatim Abdurachman Habibie--atau biasa dipanggil Timmy Habibie--majalah Ummat mungkin sudah tidak terbit lagi. Adik kandung Presiden Habibie itu menyelamatkan majalah yang dibaca kalangan umat Islam ini dari krisis yang dihadapinya.

Sejak awal tahun ini, kondisi keuangan Ummat memang nyaris semaput. Pendapatan iklannya jauh merosot. "Sampai hampir 75 persen," kata Pemimpin Redaksi Ummat, Sjafi?i Anwar. Itu setali tiga uang dengan tirasnya, yang kini hanya berkisar di angka 20.000-an. Padahal, menjelang Presiden Soeharto turun hingga pertengahan tahun ini, tiras Ummat cukup lumayan, bisa mencapai 40-50 ribu eksemplar.

Menurut survei yang dilakukan Sofres-FSA, September lalu, Ummat tergolong dalam 20 besar majalah yang memiliki tingkat pembaca tinggi. Peningkatan jumlah pembacanya dibandingkan dengan tahun sebelumnya sampai 46 persen--sementara banyak media lain justru merosot. Tapi prestasi ini rupanya tak dapat dipertahankan karena, selain diterjang krisis, majalah ini harus bersaing dengan media cetak baru yang bermunculan.

"Selama setengah tahun terakhir, keadaan sudah sangat merepotkan dan kami ke sana kemari mencari investor," kata Sjafi?i. Melalui seorang mediator, akhirnya Ummat bertemu dengan Timmy. Dan gayung pun bersambut. Kontak pertama dengan Timmy dilakukan Jumat, akhir November lalu, dan kemudian diikuti dengan sejumlah negosiasi.

Beberapa kesepakatan, terutama yang menyangkut bisnis, tampaknya sudah tercapai. Belum jelas berapa besar dana yang akan dipasoknya, tapi Timmy akan mendapat porsi saham 40 persen. Sisanya dipegang pemilik lama, Adillah Toha, lalu karyawan dan Yayasan Dompet Duafa.

Memang belum ada kesepakatan tertulis di depan notaris. Karena itu, pihak Timmy belum bersedia bicara banyak. Ketika ditanya kenapa tertarik membeli Ummat, Timmy malah menjawab secara tertulis, "Belum membeli Ummat." Tapi ia kemudian menjawab secara umum. "Media infromasi punya prospek masa depan karena informasi merupakan kebutuhan manusia," tulisnya. Jawaban itu disampaikan melalui Doddu Yudhista, Direktur PT Media Utama Dharmajaya, penerbit tabloid Adil, Gita, dan Muda Musik (Mumu), milik Timmy.

Dalam dunia media massa, Timmy tergolong pendatang baru. Toh, meski baru beberapa tahun terjun di bisnis media, Timmy tergolong ekspansif. Langkah pertamanya adalah membeli Adil, sekitar tiga tahun lalu. Setelah itu, ia menerbitkan Gita, Mumu, dan--yang paling baru--tabloid Anak Ibu. Entah karena berkeinginan menjadi "raja media", entah karena dihubungkan dengan kepentingan politik Presiden Habibie, Timmy juga dikabarkan ingin masuk ke dunia televisi melalui Indosiar. Benarkah? Lagi-lagi ia menjawab, "Belum membeli Indosiar."

Dari bisnisnya di media, tampaknya baru Adil yang bisa dikatakan sukses. Survei Sofres-FSA juga menempatkan Adil dalam 15 besar tabloid dilihat dari jumlah pembacanya. Berada di urutan keenam, Adil berhasil meningkatkan jumlah pembacanya 394 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tingkat pembaca Adil tahun ini mencapai 761 ribu, sedangkan tahun lalu Adil hanya dibaca 154 ribu orang. Posisinya sebagai tabloid politik memang kalah oleh Aksi, yang dibaca 2,1 juta orang, tapi Adil jauh mengalahkan pesaing lainnya seperti Detak atau Mega Pos.

Itu sebabnya, meski negosiasi antara Ummat dan Timmy belum sampai ke masalah isi, Sjafi?i berharap bisa mendapat perlakuan seperti Adil. "Dengan segala kekurangan dan kelebihan, kami menginginkan model seperti Adil. Di bawah Timmy, Adil bisa sukses dan politik redaksionalnya cukup independen," kata Sjafi?i. Menurut Sjafi?i, setelah dua hari negosiasi, terjadi suatu hal yang cukup menantang. Ia terkesan dengan sikap Timmy, yang menurut Sjafi?i sangat berorientasi bisnis. "Ada satu ungkapannya, 'Oke, buatlah apa saja. Yang penting laku'," kata Sjafi?i.

Meski begitu, Sjafi?i juga belum bisa memastikan apakah Ummat akan tetap "galak" seperti yang selama ini dikenal atau akan tunduk terhadap tekanan pemodal. "Saya belum bisa memutuskan. Kami ini kan istilahnya baru kencan," katanya. Biasanya, di masa kencan, segalanya bisa terlihat indah.

Gabriel Sugrahetty, Mustafa Ismail, Purwani Diah Prabandari


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data