|
Ketika terjadi penembakan terhadap empat mahasiswa Trisakti (12 Mei 1998) yang diikuti dengan aksi kerusuhan, penjarahan, dan perkosaan salah satu isu yang terdengar, tragedi itu "didalangi" oleh Letjen TNI Prabowo yang ketika itu menjabat sebagai Panglima Kostrad. Tujuan "gerakan" itu adalah mendeskreditkan Menhankam/Pangab Wiranto, agar ia dicopot dari jabatannya sebagai Pangab dan kemudian Prabowo--atau orang kepercayaannya--menggantikan posisi tersebut. Faktanya, justru Prabowo yang diberhentikan dengan hormat dari militer.
Enam bulan kemudian, 13 November 1998, hal serupa terulang, jumlah mahasiswa yang tertembak lebih banyak, aksi kerusuhan dan penjarahan terulang, nyaris mengulang tragedi Mei 1998 bila tidak segera dicegah para mahasiswa, sejumlah warga, serta kesatuan Marinir.
Adanya kerusuhan November 1998 dan tragedi Semanggi, maka isu yang menempatkan Prabowo sebagai dalang kerusuhan 13 Mei tampaknya gugur. Kalau demikian, siapa sesungguhnya pelaku penembakan mahasiswa dan dalang kerusuhan Mei dan November 1998 itu?
Sepanjang sejarah Republik Indonesia, kasus penembakan mahasiswa bukan baru kali ini saja terjadi. Pada masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru hal serupa juga terjadi. Antara lain tewasnya Arief Rahman Hakim, Angkatan 66 yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Ampera. Sampai kini, setelah Orde Baru tumbang pelaku penembakan terhadap mahasiswa Angkatan 66 itu tidak pernah terungkap.
Kasus tewasnya Arief Rahman Hakim pada akhirnya lenyap ditelan masa, apalagi para eksponen 66 itu kemudian terkooptasi ke dalam struktur kekuasaan yang antara lain menyebabkan mereka "lupa" dan bahkan "tak mampu" mengusut tuntas kasus tewasnya Arief Rahman Hakim. Idealnya, ketika para eksponen 66 berada di dalam struktur kekuasaan, seharusnya mereka semakin berkemampuan untuk mengusut kasus itu. Nyatanya tidak.
Kasus tewasnya mahasiswa pada tahun 66 itu, boleh saja tidak terungkap tuntas. Namun jangan sampai hal itu terjadi pada kasus penembakan mahasiswa pada bulan Mei dan November 1998. Karena itu, para mahasiwa perlu "siaga satu" dan membuka mata-telinga lebar-lebar, karena sebentar lagi ada upaya mengalihkan perhatian, yang bisa menyebabkan mahasiswa menderita "amnesia sejarah".
BACHRUDDIN M.D.
Ciracas RT 003/02
Jakarta 13740
|