Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXIIIIIII/08 - 14 Desember 1998
   
Investigasi

Yang Terhempas dan yang Terkandas

Pertempuran antarkampung di Manggarai terus mendidih. Ada kepahlawanan, ada pengorbanan. Tapi, untuk apa?

Satu kampung melawan kampung lain dalam satu rukun warga. Satu kelurahan melawan kelurahan lain. Begitulah. Manggarai adalah sebuah tragedi dari kehidupan kota metropolitan. Orang-orang berkelahi, bahkan bertempur, untuk sebab yang makin hari makin tidak jelas. Namun, dengan ongkos yang terang: darah, kematian, kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan yang tidak seberapa. Mereka menciptakan pahlawannya sendiri, juga kepedihan dalam pengorbanan. Berikut ini hanya potret sebagian mereka:

n Armasdi: Pahlawan Sebuah Gang

Tiga tusukan tombak menganga di punggung. Salah satunya sampai menembus dada. Kepalanya retak dikepruk benda tumpul. Tak ayal, tubuh Armasdi bersimbah darah. Ia pun tewas, meninggalkan seorang istri, Nurhayati, dan empat anak. "Yuni selalu menanyakan papanya," ujar Nurhayati, dengan berlinang air mata. Yuni adalah si bungsu berusia enam tahun.

Armasdi, sang suami, bekerja pada sebuah bengkel mobil. Om Da'ar adalah nama populernya di kampung itu. Ia biasanya pulang tengah hari. Dan, "Selalu menyempatkan makan siang di rumah bersama anak-anak," kata Nurhayati. Hingga siang di akhir pekan lalu, Yuni belum berhenti meminta ibunya membuat minum untuk ayahnya, yang dia yakini masih hidup.

Da'ar tewas dua pekan silam secara tragis ketika kampungnya, Menteng Jaya, terlibat pertempuran sengit dengan warga Kampung Tambak. Orang bilang, itulah pertempuran terhebat antara dua kampung yang dibatasi rel kereta api jurusan Manggarai - Tanahabang ini. Padahal, kata sang istri, suaminya tidak pernah ikut tawuran. Ia biasanya hanya nonton di depan rumah. "Tetapi entah mengapa, malam itu ia ke sana."

Pada malam yang nahas itu, warga Tambak melakukan blitzkrieg yang telak. Sekitar 30 orang datang dan serentak melemparkan puluhan bom molotov ke rumah-rumah Menteng Jaya. "Tak kurang dari 50 botol molotov dilemparkan," kata Murtado, rekan sekampung Da'ar.

Salah satu yang terkena adalah rumah Da'ar. Ia panik ketika melihat atap rumahnya mulai menyala. Dengan golok di tangan, dia menghalau para penyerang. Keberanian Da'ar kelewat batas hingga ia masuk ke kampung di Jalan Tambak. Tak lama kemudian, Murtado melihat Da'ar rebah dengan tangan melambai ke atas meminta pertolongan. Ia sempat diangkut ke rumah sakit, tapi nyawanya tak terselamatkan.

Warga Menteng Jaya tak menganggap kematian Da'ar sia-sia. Da'ar adalah pahlawan. Mereka mangabadikan namanya untuk gang kecil menuju rumahnya. Di mulut gang itu?melewati rumah-rumah yang dindingnya berbelang hitam karena bekas bensin dan soda api yang terbakar ketika dihantam bom-bom molotov?bertengger papan selebar 1,5 meter. Dasarnya hitam, tulisan "Gg. Da'ar" berwarna emas.

n Ma' Iah: Tunawisma Seketika

Bangunan berpagar seng itu seolah tak berpenghuni. Halamannya dipenuhi serakan kayu dan onggokan pasir bahan bangunan. Di situlah, di rumah toko (ruko) setengah jadi itu, kini, sekitar 15 keluarga ditampung sementara. Tentu saja mereka bukan menyewa, alias gratis. Mereka adalah "korban" perang Kampung Tambak dan Menteng Jaya, dua pekan lalu, yang meludeskan 40 rumah-rumah di sana.

Sebagian keluarga sudah mengungsi di penampungan darurat itu. Ada yang berpindah ke rumah keluarga di kawasan lain. Ada juga yang mengontrak rumah tak jauh dari sana. Belum diketahui jumlah pasti kerugian materinya. Tapi sudah jelas ongkos sosialnya: sejumlah orang menjadi tunawisma seketika. Sejumlah ibu tampak menggendong bayinya yang terus-terusan menangis.

Di pojok ruangan, seorang ibu sibuk menggoreng tahu. Tak jauh dari tangga menuju lantai dua, tampak wanita muda tengah menyeterika setumpuk pakaian. Tiga wanita lainnya asyik berbarengan menyantap sebungkus nasi. Di sebuah dipan tanpa kasur, seorang wanita 58 tahun duduk tercenung. "Semua barang saya kebakar," kata Ma' Iah, perempuan itu. Ada genangan air di bola matanya.

Ketika pertempuran berkobar, Ma' Iah tengah pergi ke Bogor, menyunatkan putranya. Anak perempuannya, yang tinggal sendirian di rumah, cuma berhasil menyelamatkan beberapa potong pakaian. Semua harta keluarga si Ma' habis ditelan si jago merah. Rumah yang ditinggalinya sejak 1950-an itu kini tinggal puing.

Kendati terlunta-lunta akibat tawuran, toh sebagian besar penghuni "kamp pengungsi" itu tetap akan membangun rumah mereka kembali, dengan risiko terbakar atau rusak lagi. "Sudah nasib. Mau ke mana lagi?" kata Ma' Iah, pelan. Tentu saja, jika mereka punya uang untuk membangun rumah lagi. Kini, mereka bergulat dengan hal yang lebih mendesak: makan dan kesehatan. Palang Merah Indonesia membuat dapur umum. Namun hanya berlangsung tiga hari. Setelah itu, mereka harus mencari sendiri.

Meski melindungi penghuninya dari terik panas dan guyuran hujan, ruko itu bukan tempat yang sehat. Sebagian dari mereka harus tidur di mana saja, termasuk di lantai-lantai yang masih berpasir atau di lantai semen tanpa alas. Enam orang di antaranya mengeluh sakit, merasakan benjolan-benjolan di tubuhnya. Rasanya meriang. Ke dokter? "Uang dari mana, Mas?" kata salah seorang dari mereka.

n Suherman: Dua Mimis Kenangan

Toh hanya timah. Tidak membahayakan," kata Suherman, enteng. Pemuda Menteng Jaya berumur 20 tahun ini justru bangga menunjukkan dua peluru senapan angin (mimis) yang bersarang di tubuhnya. "Yang ada di dagu ini sudah sejak tahun 1997," katanya. "Yang di paha baru November kemarin." Dia masih menyimpan dua peluru lain yang dengan mudah bisa dikeluarkan karena "hanya nempel di kulit".

Selain bom molotov, yang belakangan ini makin populer, senapan angin adalah senjata favorit pertempuran antarkampung di Manggarai. Menurut seorang tokoh di situ, sekitar 75 persen anak muda Menteng Jaya pernah terkena mimis. "Sekitar 50 persen (mimis itu) masih bersarang di tubuh mereka," katanya.

Bagi Suherman, mimis-mimis yang bersarang dalam tubuhnya itu adalah kenang-kenangan dari tawuran. "Dulu, waktu pertama-tama tawuran pakai mimis, sempat takut juga. Tapi sekarang tidak apa-apa. Asal jangan kena mata," kata pemuda pengangguran yang sempat mengenyam pendidikan sampai kelas dua STM itu. "Kalau terkena mimis, paling tiga hari panas dingin. Setelah itu, ya, enggak apa-apa."

Suherman mengaku selalu aktif dalam setiap pertempuran. Orang tua merestuinya, seraya mengingatkan untuk tidak terlalu emosi dan tidak terlalu maju ke garis depan. Rumahnya sendiri agak terlindung di pedalaman kampung, tapi dia mengaku harus ke depan kancah pertempuran untuk menjaga rumah bibinya. "Kami hanya menjaga kampung dari serbuan orang-orang kampung lain," katanya. Jawaban yang khas, yang bisa didengar pula dari para pemuda kampung musuhnya. "Kami sebenarnya ingin bisa terus berdamai. Tapi, kalau kami diserang, mau apa lagi??"

n Johari: Mimpi Ibu dan KTP Baru

Saminem, 51 tahun, membuka warungnya hampir non-stop di Pasar Rumput, Manggarai. Ia berjualan nasi, indomie, teh, dan kopi. Wanita asal Klaten, Jawa Tengah, itu harus bekerja keras menghidupi empat anaknya. Suaminya telah lama meninggal. Mungkin karena berpenghasilan pas-pasan, Saminem pun merajut mimpi: Johari, 24 tahun, anak lelaki tertuanya yang drop-out SMP, segera bisa bekerja untuk mengurangi beban.

Sang ibu lalu membiayai pembuatan KTP anaknya untuk bekal bekerja di sebuah restoran. Tapi, takdir tak bisa dicegah. Johari meninggal dua hari sebelum surat penduduknya kelar, 23 November lalu. Mungkin inilah risiko tinggal di Kampung Manggarai Bawah. Dalam setiap pertempuran, kampung ini dijepit oleh dua kampung musuhnya: Manggarai Atas dan Menteng Jaya.

Pada malam yang nahas itu, Johari merasa lapar. Ia berpamitan kepada adik-adiknya untuk mencari warung indomie di luar. Tanpa dinyana, ratusan massa?membawa kelewang, senapan, dan celurit?menyerbu kampungnya ketika dia mencapai mulut gang. Johari tewas oleh senapan "dorlop". Dada kanannya tertembus potongan besi dari senapan rakitan tangan yang biasa dipakai berburu babi.

Andai cepat ditolong, Johari mungkin selamat. Tapi tubuhnya lama dibiarkan tergeletak di tengah pertempuran. Tak ada kendaraan yang berani lewat daerah itu untuk segera membawanya ke rumah sakit. "Mungkin dia kehilangan banyak darah," kata Saminem sambil terisak. "Johari itu anak baik, dia tidak pernah ikut berantem," kata ibunya. Banyak teman-teman sebayanya bergabung dalam Geng Tuyul, para "pejuang" Kampung Manggarai Bawah. Tapi, karena matanya menderita trakom dan tak bisa melihat jauh, teman-teman melarangnya ikut tawuran.

Dua hari setelah pertempuran terhebat dalam sejarah Manggarai, warga kampung-kampung yang bertikai berkumpul untuk membuat ikrar perdamaian bersama. Semua orang tua membawa anaknya, terutama yang lelaki. Kecuali Saminem. Menyadari itu, matanya tiba-tiba gelap. "Saya pingsan," katanya. Bagaimanapun, dia sedikit terhibur. "Anak saya pergi meninggalkan perdamaian."


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Kapolda Jawa Barat Copot Dua Kapolsek - 05 Sep 2008 | 21:29 WIB
Bupati Aceh Besar Mengundurkan Diri - 05 Sep 2008 | 21:19 WIB
Guru Tolak Aturan Pendanaan Pendidikan - 05 Sep 2008 | 21:16 WIB
Fernando Alonso Kuasai Free Practice 2 - 05 Sep 2008 | 21:07 WIB
Al Amin Mengaku Tak Berpengaruh di Komisi Kehutanan DPR - 05 Sep 2008 | 21:02 WIB
Kapolda Jawa Barat Mengaku Ditawari Suap Rp 10 Miliar - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Hughes Bersumpah Jadikan City Raksasa Eropa - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Bupati Aceh Besar Mundur, Surat ke Menteri Ditulis Tangan - 05 Sep 2008 | 20:44 WIB
Simulasi Pemilihan 2009 Dinilai Tak Efektif - 05 Sep 2008 | 20:40 WIB
Bapepam Akan Gugat Eurocapital - 05 Sep 2008 | 20:32 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data