Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXIIIIIII/08 - 14 Desember 1998
   
Investigasi

'Mereka Jual, Kami Beli'

Ini kisah para "prajurit tempur" Manggarai. Ibu-ibu dan remaja putri ikut terlibat. Ada intelijen, bagian logistik, dan tim medis.

Mulyadi: Bertaruh Nyawa di Garis Depan

Sepintas anak muda 19 tahun ini terlihat tenang dan alim. Kalau ngobrol ia lebih banyak mengumbar senyum ketimbang menimpali lawan bicaranya. Mulyadi yang agak kurus tinggi ini sepertinya bukan tampang tukang tawur. Tapi jangan salah sangka. Kalau lawan menyentuh garis batas kampungnya, apalagi menyerang jauh hingga ke gang-gang kampung, Mulyadi akan mempertaruhkan nyawanya paling depan.

Berani betul? "Orang tuaku tidak melarang. Mereka hanya minta agar tidak terlalu nekat dalam tawuran," katanya kalem. "Tapi, begitu melihat kenekatan pihak lawan, aku sepertinya tertantang." Ia mengaku berani maju ke garis depan melawan samurai lawan kendati ia hanya bermodal kayu. Sebuah peluru mimis menusuk dadanya pada pertempuran Mei 1997 dan sekarang masih bersarang dalam tubuhnya.

Tawuran susah dihentikan. "Paling minim sekali dalam seminggu," kata Mulyadi. Setiap malam Minggu dia "meronda" bersama kawan-kawan sekampung. Ia mengaku tak tega membiarkan para orang tua turun mengamankan kampung, apalagi menghadapi musuh yang juga begitu nekat. "Kami anak mudalah yang harus berdiri paling depan."

n Endang: Tertinggal di Kampung Musuh

Cewek ini mengaku selalu terlibat dalam setiap tawuran di kampungnya, termasuk pada Juli 1998. "Bersenjatakan sebilah bambu saya nekat ikut menyerbu kampung lawan. Kami mengejar musuh hingga ke gang-gang kampung mereka," kata gadis berusia 18 tahun ini.

Tapi tawuran antarkampung tak ubahnya permainan tarik tambang: ada saat maju dan ada saat mundur. Suatu saat Endang pernah tertinggal di kampung musuh ketika rekan-rekannya mundur. "Saya menjadi sasaran empuk musuh kami yang lagi berang itu." Untunglah warga sekampungnya balas menyerbu. Ia pun selamat. Namun pergelangan tangan kanannya tersambar pedang. "Urat tangan saya putus. Untung saja tulangnya tidak patah," katanya. Setelah menjalani operasi kini tangannya sehat lagi. Dan siap bertempur lagi.

n Joni: Selalu Siap Dorlop dan Pistol Mimis

Pekerjaan sehari-harinya mencari uang sebagai petugas parkir "swasta" alias tidak resmi di sebuah toko buku di Jalan Proklamasi. Pemuda 20 tahun ini bersama rekan-rekannya terlibat tawuran pada pertengahan November lalu. Pemuda yang matanya selalu merah itu?katanya akibat kemasukan debu?termasuk yang mengompori pemuda Tambak agar angkat senjata. "Masa, lu diam aja diserang,'' begitu katanya pada teman-temannya. Maka jadilah tawuran itu. "Pokoknya, mereka jual, kita beli,'' kata Joni.

Anak-anak Tambak, kata Joni, tak pernah memulai perang. "Kami selalu bertahan,'' ujarnya lagi. Tapi tak urung senjata-senjata untuk perang selalu disiapkan: senjata tajam, dorlop, atau pistol mimis. Entah berkhayal atau tidak, Joni menyebutkan ada mata-mata Menteng Jaya di pihaknya. Apa buktinya? Pernah suatu ketika terjadi tawuran. Untuk membedakan anak Tambak dengan yang lain, dipasanglah pita putih melingkar di lengan. Tapi "rahasia'' itu bocor ke anak-anak Menteng, yang memakai tanda serupa.

n Syamsudin: Lima Kali Baca Ikrar Damai

`'Pokoknya, ada anak Menteng Jaya masuk kemari, mati aja,'' kata Syamsudin, warga Tambak berusia 50 tahun ini. Perawakannya kecil tapi dia mengaku cukup disegani anak-anak muda di situ. Meski tidak langsung ikut perang, dia adalah sang komandan. `'Meski saya bukan jeger (preman), anak-anak pasti mendengar apa kata saya," ujarnya. Mungkin karena dia jago silat, keterampilan yang diwariskan dari kakek dan bapaknya.

Syamsudin rileks saja melihat dua anak lelakinya menjadi prajurit tempur kampung. "Abis mau gimana, udah membaur gitu. Kalau saya larang, apa kata orang? Biarin saja, tapi selalu saya ingatkan agar hati-hati," katanya.

Seperti tiap warga kampung yang terlibat, Syamsudin menyatakan kampungnya tidak pernah menyerang atau memulai tawuran. "Kalau diserang, baru kami lawan." Dalam pertempuran terakhir, seorang pemuda musuh tertangkap warga kampungnya. "Ibu-ibulah yang pertama-tama menggarapnya. Anak itu akhirnya mati," katanya. "Mati nggak ada urusan kalau lagi perang!"

Sebagai orang yang disegani, dia mengaku selalu menjadi wakil kampungnya dalam perundingan perdamaian. "Sudah ada sembilan kali ikrar perdamaian. Lima kali saya membaca ikrar seperti itu." Usai dibaca ikrar, toh perang terus berkobar


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data