|
Seiring dengan terbakarnya pasar Manggarai dan banyaknya penduduk yang kehilangan pendapatan, dampaknya merembes pada kaum remaja di sini. Dengan kesadaran sendiri ataupun karena terpaksa mereka meninggalkan bangku sekolah karena ketiadaan biaya. Mereka menjadi memiliki lebih banyak waktu untuk bergaul dengan sesama rekan-rekannya. Faktor kedekatan geografis mengakibatkan intensitas pertemuan menjadi makin sering, intensitas pertemuan relatif tinggi, berkisar antara 5-10 jam satu hari membuat ikatan antar individu jadi makin erat. Ditambah lagi perasaan senasib di antara mereka, maka lahirlah kelompok geng-geng; motor utama dari tawuran antar kampung di situ.
Setiap pagi dari mulai jam 10:00 mereka berkumpul, sambil ngobrol, main kartu, main gitar atau karambol. Kegiatan ini dilakukan rutin dan seringkali diiringi dengan perjudian dan minuman keras berharga murah, seperti drum atau mansion house serta menghisap ganja. Mereka akan terlihat kembali menguasai malam di Manggarai dengan gitar, kartu, karambol, radio, mabuk, menghisap ganja yang dilakukan hingga tengah malam bahkan menjelang pagi.
Pada akhirnya kegiatan individu berubah menjadi bagian dari kegiatan kelompok. Uang hasil menjadi kuli panggul dan penjaga barang di Pasar Rumput akhirnya tidak bisa digunakan lagi untuk membantu orang tua, melainkan sebagian disetorkan pada ketua geng dan selebihnya dipakai untuk mabuk-mabukan dengan sesama anggota geng.
Anggota geng banyak yang memanfaatkan peluang menjadi tukang parkir dan pak ogah di perempatan-perempatan jalan. Dalam pekerjaannya ini seringkali mereka harus menghadapi persaingan yang keras dengan anggota geng lain. Akibatnya kekerasan seakan sudah menjadi bagian kehidupan, tidak semata untuk jaga gengsi dan kehormatan, namun lebih kepada masalah hidup dan mata pencaharaian.
Salah satu geng yang terkenal di situ adalah Geng Tuyul. Seperti dalam komunitas lain, anggota geng ini memiliki mitos. Mat Gundul adalah patron mereka, seorang jagoan yang pernah merajalela di kawasan ini, yang kisahnya dituturkan turun-temurun.
|