Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXIIIIIII/08 - 14 Desember 1998
   
Investigasi

Manggarai, Sebuah 'Kuldesak'

Jalanan berarti segalanya. Tempat bermain, mencari uang, berkelahi, dan merenda mimpi. Konflik urban kian panas dan susah dipadamkan.

Gang itu sangat sempit. Lebarnya tak lebih dari satu meter. Tak ada pekarangan atau teras tempat bersantai. Setiap pagi tampak nenek-nenek yang cuma berkutang duduk di depan rumah sembari mengisap rokok keretek. Pikirannya menerawang bersama dengan kepulan asap yang meninggi lalu menghilang.

Di jalan itu pula anak-anak berlari-larian ditingkahi suara mereka yang lantang. Ibu-ibu yang berbalutkan handuk, biasanya menggosok gigi sembari berjongkok atau berdiri di tepi selokan yang airnya mampat. Ada pula yang mencuci piring, penggorengan, dan peralatan masak lainnya. Itu terpaksa dilakukan di depan rumah karena tak ada dapur atau ruang cuci. Kalau mau mandi bisa mampir ke permandian umum dengan tarif 250 perak.

Kendati bukan kompleks perumahan, "bangunan" rumah mereka hampir punya kesamaan bentuk. Rumah yang berjejer rapat itu?berdinding semen dan kayu?rata-rata berukuran 3 x 4 meter. Ada yang lebih besar sedikit, tapi banyak juga yang hanya berdimensi 2 x 3 meter. Warnanya pun mirip, abu-abu atau kecokelatan. Sejumlah rumah masih menyisakan warna gosong?akibat dibakar "musuh".

Walaupun dibuat dua tingkat, kalau satu rumah dihuni sampai delapan orang, bisa dibayangkan bagaimana mereka membagi ruang untuk hidup. Untung ada olesan antinyamuk. Jadi mereka bisa tidur di luar. "Kalau tidur di luar, pasti begadang dulu, nongkrong dulu. Kalau sudah nongkrong, pasti minum, pasti menjaili orang lewat," kata Abdul Kahfi, Wakil Gubernur Bidang Pemerintahan DKI Jakarta.

Begitulah potret perkampungan Manggarai, sebagian Menteng dan Bukitduri, yang menjadi sentra lokasi pertempuran.Wilayah seluas sekitar 300 hektare di sentral Jakarta itu terbagi dalam lima kelurahan, yakni Pegangsaan (Tambak), Menteng (Menteng Jaya), Manggarai (Manggarai Atas dan Bawah), Manggarai Selatan, dan Bukitduri.

Menteng Jaya termasuk wilayah yang kecil. Luasnya cuma 28,3 hektare tapi dipadati sekitar 10.000 jiwa, yang terdiri dari 2.000 kepala keluarga. Kue pembangunan hampir tak pernah mereka cicipi. Kalaupun ada, menurut Toha Sudrajad, Ketua RW 08, paling-paling sebatas menjadi pegawai kantor rendahan, pedagang kecil, dan buruh harian. Wilayahnya yang dikepung perkampungan membuat sektor informal seperti membuka warung atau juru parkir tumbuh subur.

Daerah Tambak, sang tetangga, berpenduduk 4.987 jiwa, memiliki lokasi yang strategis karena dekat jalan raya. Selain menjadi buruh bangunan, kesempatan membuka warung atau berprofesi sebagai tukang ojek menjadi lebih terbuka. Kendati demikian, penghasilan mereka tetaplah minim. Menyekolahkan anak bukan lagi menjadi prioritas sebagian besar warga. Urusan perut jauh lebih penting.

Di tengah situasi yang serba sulit ini jurang sosial menganga begitu lebar. Daerah Tambak dianggap wilayah yang cukup mudah untuk menambang rupiah, terutama bagi mereka yang tak punya pekerjaan tetap. Tahun 1990, misalnya, berdiri Gedung Perumtel Perwakilan Jakarta Timur. Warga Tambak ikut kecipratan rezeki dari lahan parkir yang mereka kuasai.

Hijaunya rumput di pekarangan tetangga itu membuat masyarakat Menteng Jaya tak sanggup menahan air liurnya. Diawali dengan teror kecil, belakangan berbuah tawuran. Oleh tokoh setempat rezeki diatur dan dibagi rata. Misalnya pekan ini giliran warga Tambak yang menjadi juru parkir, minggu berikutnya lahan parkir dikelola pemuda Menteng Jaya. "Tapi usianya tak lama. Setelah itu tawuran lagi," kata Karsidja, Ketua RW 06 Tambak.

Sebaliknya, wilayah Tambak sangat sumpek. Tak ada tempat bermain bagi anak-anak. Sedangkan Menteng Jaya punya Gedung Proklamasi yang memiliki halaman luas. Jalanannya pun relatif sepi. Di lokasi inilah anak-anak daerah Tambak kerap "mencuri" kegembiraan dengan bermain kelereng atau petak umpet. Tapi keceriaan di sana kerap berubah menjadi ketegangan. Perang batu menjadi hal yang biasa karena warga Menteng Jaya tak rela arealnya dijadikan tempat bermain oleh anak Tambak.

Berbagai upaya lantas ditempuh untuk mengurangi konflik. Pada 1995 misalnya, dibentuk satuan tugas (satgas) bersama antara warga Tambak dan Menteng Jaya. Mereka meronda ketiga wilayah itu. Harapannya, asal dapat uang rokok dan kopi, cukuplah. "Tapi kenyataannya, bantuan yang dijanjikan dari kantor kecamatan tak pernah sampai," kata Karsidja. Satgas lantas cuma berumur satu setengah tahun karena tak ada dana.

Selain didera persoalan ekonomi, lingkungan tempat mereka tinggal sangat padat dan sumpek. Mereka tentunya haus hiburan. Pernah ada acara bersama yang dimaksudkan sebagai upaya rujuk: kedua kampung berwisata bareng ke Puncak dan Pelabuhanratu, dengan menyewa empat bus dan lima truk. Tapi perdamaian cuma beberapa bulan saja. "Saat meletus kerusuhan Mei, kampung di sini juga bergolak tawuran tak kalah hebat," ujar Karsidja.

Manggarai Bawah juga menyimpan sebuah cerita yang cuma enak didengar tapi begitu pahit bila harus diselami. Dihuni keluarga yang secara ekonomi jauh dari pas-pasan, sulit sekali menggali rezeki meski cuma membuka warung. Mengadu untung di balik kartu domino menjadi pilihan pahit yang banyak ditempuh pemuda dan orang tua.

Daerah ini lantas akrab dengan sebutan "Tuyul". Soalnya, para penjudi yang kalah itu selalu menggadaikan barang-barang kepada rentenir, mulai dari jam tangan, kemeja di lemari, hingga kaus oblong dan celana panjang yang dipakainya. Mereka baru pulang ke rumah bila sudah setengah bugil.

Situasi ini agak kontras dibandingkan dengan wilayah Manggarai Atas. Menurut Budi, salah seorang warga di sana, rezeki masih bisa ditambang di situ. Dari stasiun kereta api yang dikuasainya, pekerjaan "lumayan" berlimpah. Mulai dari membersihkan kereta api Argo Bromo, tukang ojek, hingga timer angkutan umum. "Anak Manggarai Bawah selalu mencari gara-gara untuk berebut lahan di sini," kata Budi.

Manggarai adalah "kuldesak" alias jalan buntu. Juga lingkaran setan. Kekerasan dalam persaingan mencari nafkah menghasilkan budaya gang?anak-anak muda yang mencari identitas dalam gerombolan atau kelompok. (lihat peta). Merekalah yang umumnya menjadi picu pertempuran antarkampung. Pertempuran itu pada gilirannya memperkuat solidaritas serta fanatisme kampung mereka. Ada kepahlawanan di situ, ada mitos, dan ada pengorbanan.

Memang tak semua keributan berawal dari perebutan lahan yang sanggup menghasilkan uang. Sering juga karena hal sepele, remeh-temeh, bahkan yang tak jelas muasalnya. Singkatnya, bagi warga, berkelahi bukan menjadi hal yang istimewa, apalagi dihindari.

Rumah yang sempat terbakar, ya, harus dibangun lagi. Tak perlu mengungsi selamanya. "Kalau seperti itu sudah nasib, mau apa lagi?" kata Ma' Iah, 58 tahun, warga Tambak yang kini terpaksa tinggal di penampungan lantaran huniannya ludes dilalap api pada perkelahian akhir November silam. Sudah jamak terlihat jika terjadi "pertempuran" lalu lintas di lima wilayah itu dihentikan untuk sementara.

Masyarakat di lima wilayah tersebut sebenarnya sudah bosan dengan perkelahian yang sering menimbulkan korban jiwa. Tapi, begitu pecah tawuran, kejengkelan itu sirna. Kentongan dipukul bertalu-talu dan seluruh warga langsung siap siaga. Semua orang tua ikut "bergerak", termasuk ibu-ibu. Lempar batu perlu dibalas dengan batu. Kalau perlu disambung dengan bom molotov. Bila ada yang tertangkap petugas, semua warga ramai-ramai mengutuk dan membebaskannya.

Alhasil, petugas yang ditempatkan jadi kewalahan. Baik polisi dari kesatuan Brigade Mobil maupun tentara Artileri Medan, yang sempat ditempatkan berbulan-bulan di wilayah tersebut, akhirnya cuma menjadi penonton. Seorang provos yang markasnya di Guntur?terletak ratusan meter dari kawasan rawan itu?hanya bisa geleng-geleng kepala. "Tahu cara memadamkan pertempuran ini? Biar saja mereka saling bunuh," ujar sang CPM sambil mengayun-ayunkan kelewang, menghentikan "pertempuran" akhir November lalu.

Inikah tanda keputusasaan mengurai kerawanan laten di Manggarai?


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data