Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXIIIIIII/08 - 14 Desember 1998
   
Ilmu dan Teknologi

Mengakses Dunia, Serentak Sekejap

Generasi baru telepon genggam mampu mengakses data lebih cepat dan melayani multimedia. Tahun 2001, pasar Jepang, Eropa, dan Amerika akan dibanjiri telepon ini, sedangkan Indonesia harus menunggu lebih lama.

Sampai detik ini, kebolehan mengontak seantero dunia dari sebuah kendaraan yang melaju kencang masih dianggap luar biasa. Apalagi kalau lawan bicara kita bisa dilihat wajahnya. Teknologi secanggih itu dapat diperoleh tanpa harus menjadi awak Star Trek. Anda cukup memanfaatkan telepon genggam generasi terbaru, yang cikal-bakalnya kini sedang dipersiapkan oleh Siemens di Eropa atau Motorola di Amerika Serikat. Jadi, tak lama lagi dunia benar-benar akan tergenggam di tangan Anda.

Selain mampu menaklukkan jarak yang jauh, lewat telepon genggam itu, Anda juga bisa menjelajahi rimba internet ataupun e-mail. Bahkan sambungan telepon tak perlu diputus bila Anda hendak berhubungan dengan rekan yang lain untuk sebuah konferensi atau seminar. Pendek kata, kecanggihan teknologi itu tak jauh berbeda dari kecanggihan telepon genggam yang bisa dilihat di berbagai film kartun atau serial Star Trek. Suara, data komputer, maupun gambar, bisa tampil pada waktu bersamaan. Komunikasi pun dijamin tak terputus-putus. "Begitu pula suara dan gambar yang dihasilkan," ujar Peer Wiethoff, Manager Technical Planning Mobile Networks Division Siemens Indonesia.

Terobosan teknologi baru itulah yang kini gencar dikembangkan oleh raksasa telekomunikasi dunia seperti Siemens dan Motorola. Mereka menamakan teknologi itu sebagai generasi ketiga--generasi dengan tiga fungsi, yakni suara, data komputer, dan gambar, tanpa saling mengganggu. Seperti diketahui, generasi pertama telepon seluler merupakan perangkat telepon yang hanya dapat digunakan untuk satu fungsi, yaitu menerima atau mengirim suara. Adapun generasi kedua lebih meningkat fungsinya, yakni bisa untuk suara dan data atau gambar, tapi kurang sempurna.

Kini Siemens membangun teknologi generasi ketiga yang diberi nama integrated mobile telecommunication (IMT)-2000. Adapun Motorola menjagokan teknologinya dengan sebutan wideband code division multiple access (WCDMA).

Setelah generasi ketiga itu, tentu akan muncul program telekomunikasi seluler yang lebih modern. Sebab, satu telepon bisa dipakai untuk dua sistem yang sekarang beroperasi di Indonesia secara sekaligus, yakni global system for mobile communication (GSM) dan advanced mobile phones system (AMPS). Selain itu, tiada lagi keluhan sinyal yang acap hilang atau kontak mendadak macet bila kendaraan pengguna telepon melintasi terowongan panjang.

Dibandingkan dengan digital cellular network yang kini beredar di pasaran, telepon generasi ketiga itu unggul dalam kecepatan mengakses data. Saat ini telepon seluler memiliki kecepatan 9,2 kilobit per detik. Pada teknologi baru yang digagas Siemens maupun Motorola, kecepatannya dipacu 2 sampai 3 megabit per detik alias 200 sampai 300 kali lebih cepat.

Dengan begitu, suara yang dihasilkan IMT-2000 atau WCDMA tentu amat jernih. Kecepatan men-download data internet di komputer juga tinggi, cukup dalam hitungan kejapan mata. "Kualitas gambarnya pun tak perlu diragukan," kata Andy Cobham, Presiden Direktur PT Motorola Indonesia.

Untuk itu, niscaya perlu frekuensi lebih lebar (wide band). Bila operator GSM di Indonesia dijatah pada frekuensi 25 megahertz--dan itu diperebutkan oleh Satelindo, Telkomsel, dan Excelcomindo--frekuensi IMT-2000 diplot dari 145 sampai 170 megahertz. Itu berarti sekitar enam kali frekuensi GSM dan jauh di atas frekuensi suara RRI ataupun frekuensi gambar TVRI.

Namun teknologi yang kedengarannya fantastis itu hanya mungkin lahir dari sebuah proses evolusi generasi terdahulu. IMT-2000, umpamanya, dikembangkan dari Universal Mobile Telecommunication System berkecepatan 2 megabit sedetik--salah satu bagian dari program GSM yang sangat populer di Eropa. Adapun WCDMA merupakan generasi lanjutan dari CDG (CDMA Development Group) yang mengakar di Amerika Serikat. Selain itu, diadopsi pula teknologi Integrated Services Digital Network, yang merupakan cikal-bakal telepon seluler untuk mengakses data dalam satu layanan.

Tapi generasi ketiga itu baru dipasarkan oleh Siemens maupun Motorola setelah tahun 2001. Itu pun hanya di Amerika, Eropa, dan Jepang. Setelah itu, barulah giliran Asia, termasuk Indonesia. Sekalipun begitu, tahun depan Siemens akan melakukan uji coba frekuensi di sini. Bagaimanapun, "Teknologi ini perlu disiapkan jauh hari," ucap Peer Wiethoff.

Masyarakat Telekomunikasi Indonesia, menurut ketuanya, Sukarno Abulrachman, juga telah mengantisipasi kedatangan teknologi itu. Mereka tak henti-hentinya mendiskusikan, antara lain masalah pengaturannya kelak. "Frekuensi yang bisa digunakan generasi ketiga harus dibahas serius supaya nantinya tak berbenturan dengan frekuensi yang sudah digunakan fasilitas lain," kata Sukarno.

Ma’ruf Samudra dan Ahmad Fuadi


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data