|
Rupiah Aman Menjelang Lebaran
Kurs rupiah terhadap dolar terbukti anteng di kisaran Rp 7.000 dalam tiga bulan terakhir. Akhir minggu lalu, rupiah ditutup pada posisi Rp 7.450?Rp 7.550. Pasti itu karena intervensi Bank Indonesia. Selain itu, para spekulan di pasar tampaknya sedang berlibur. Spekulan asal Singapura, contohnya, tak
satu pun berada di pasar. Karena anteng itu, pemerintah berani menurunkan suku bunga SBI dari 46 persen menjadi 42 persen.
Bagaimana posisi rupiah Desember ini? Logikanya akan melemah. Orang akan ramai belanja untuk Natal sampai Lebaran. Pemerintah juga akan bertahan agar rupiah kuat di akhir tahun. Maksudnya, agar laporan keuangan perusahaan-perusahaan bisa disusun dengan kurs yang mantap.
Nah, menurut Pardy Kendy, Direktur Treasury Bank Buana Indonesia, rupiah akan tetap berada di kisaran Rp 7.000 karena pasar sepi. Begitu juga menurut Syahrial dari Pentasena, hedge fund (spekulan uang) sudah malas bertransaksi rupiah karena sudah banyak kalah di Rusia. ''Jadi pemerintah tidak perlu ambil risiko untuk intervensi," kata Syahrial.
Rekapitalisasi Bank, Akhirnya?
Akhirnya, ada juga sedikit kejelasan tentang program rekapitalisasi perbankan. Akhir minggu lalu Direktur BI, Subarjo Joyosumarto, mengumumkan 25 dari 200-an bank sudah jelas nasibnya. Putusannya: ada 15 bank yang tidak perlu ikut program rekapitalisasi, karena pemiliknya sudah menyuntikkan dana hingga ke batas rasio kecukupan modal (capital adequcy ratio), yaitu 4 persen. Sedangkan sejumlah 10 bank, harus ikut program rekapitalisasi (tahap pertama), yang dimulai akhir Desember. Dengan demikian, pemerintah menyuntikkan 80 persen dana yang berupa kertas berharga (bond) kepada bank-bank yang direkapitalisasi. Sebagai imbalannya, pemerintah mendapat non-voting shares.
Menurut Gubernur BI, Sjahril Sabirin, dibutuhkan uang Rp 350 triliun untuk rekapitalisasi, dengan syarat kurs rupiah yang berkisar Rp 7.000. Dana sebesar itu sebanding dengan besarnya rekapitalisasi bank di Thailand. Nama-nama bank yang direkapitalisasi, menurut Sjahril, akan diumumkan Desember ini juga.
Yang harus ditunggu adalah kelanjutan nasib 175-an bank lainnya. Apakah mereka masuk C minus?dengan rasio kecukupan modal di bawah minus 25 persen. Kalau itu terjadi, berarti akan ada lagi bank yang dilikuidasi.
Reformasi ala Robby Djohan
Kabar buruk bagi sekitar 25 ribu karyawan bank-bank BUMN: akan ada pengurangan karyawan. Menurut Direktur Utama Bank Mandiri?bank yang menjadi wadah Bapindo, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bank Dagang Negara?Robby Djohan, karyawan akan menyusut 8.000 hingga 10.000 orang. Padahal, sebelumnya pemerintah mengumumkan tidak akan ada rasionalisasi karyawan yang tergabung dalam Bank Mandiri.
Robby juga mengumumkan bahwa akan ada pergantian manajemen untuk keempat bank BUMN tersebut. Konon, posisi papan atas keempat bank BUMN itu diganti dengan orang-orang Bank Niaga, bank tempat Robby berkarir sebagai presiden direktur sebelum ke Garuda Indonesia dan Bank Mandiri.
Reformasi besar-besaran di bawah konsultasi Deutche Bank AG itu dilakukan agar program merger bank BUMN ke dalam Bank Mandiri tepat waktu. Bank Mandiri itu nantinya memiliki aset senilai Rp 269 triliun dan sekitar 300 cabang di seluruh pelosok Nusantara. Proses merger, menurut pemerintah, sudah dimulai sejak Oktober lalu dan pemerintah sudah mengeluarkan Rp 4 triliun. Rencananya, proses merger itu butuh waktu setidaknya dua tahun, yang didahului dengan mergernya Bapindo dengan Bank Exim hingga Juni 1999, disusul BBD dengan BDN.
"Asal Tidak di Indonesia," kata Kearney
INDONESIA akan dijauhi investor asing. "Mimpi buruk" itu dihawa oleh riset paling anyar dari AT Kearney, sebuah lembaga penelitian investasi dunia asal Amerika Serikat. Malah, investor disebut enggan mempelajari kemungkinan bisnis di sini. Nasib buruk seperti Indonesia itu juga menimpa Rusia.
Menurut 1.000 responden Kearney, yaitu para investor top dunia, mereka lebih suka memilih berinvestasi di dalam negeri. "Pokoknya negara yang fundamental bisnisnya dinilai keropos akan dijauhi investor," kata Paul Laudicina, Wakil Presiden Kearney yang mengepalai riset tersebut.
Di mana surga investasi selain AS? Brasil, Cina, Inggris, dan Jerman menduduki tangga teratas. Diikuti Korea Selatan, Thailand, dan Jepang. Bahkan India, Sri Lanka, dan Polandia masih dinilai menarik untuk investasi industri berat.
|