Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXIIIIIII/08 - 14 Desember 1998
   
Ekonomi dan Bisnis

Kalau Banjir Sampai ke Hidung

Bisnis pelesiran terancam. Beberapa negara meminta warganya tak datang ke Indonesia. Apa akal?

Denpasar tetap bergairah. Turis mancanegara masih ramai berlalu-lalang. Malah, dua pekan lalu, bertepatan dengan Hari Antikekerasan terhadap Perempuan Sedunia, puluhan bule turut berdemonstrasi. Dengan mengenakan udeng (kain ikat kepala khas Bali) dan membawa bunga kemboja, mereka bergabung dengan aktivis lembaga swadaya masyarakat dan mahasiswa di Lapangan Puputan. "To make a better world," seru seorang gadis berambut pirang. Tak ada kesan seram. Demonstrasi berlangsung cerah.

Sayang, situasi aman tenteram itu tak tersebar hingga penjuru dunia. Yang terekam dalam kamera kantor berita asing hanyalah kacau-balaunya Indonesia. Stasiun televisi seperti CNN, ABC News, atau NBC, dari jam ke jam, seperti tak bosan-bosan menyiarkan kembali tragedi Semanggi.

Gambar-gambar orang luka berat dan belasan orang yang tertembak tampak bergelimpangan. Kemudian, bentrokan antarkelompok masyarakat dalam kerusuhan Ketapang, Jakarta, yang berbuntut pembakaran sejumlah gereja, juga meramaikan pemberitaan jaringan televisi dunia itu. Lalu Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang kemudian membara, tak luput ikut nongol. Kacaunya wajah Indonesia menjadi makin komplet seiring dengan naiknya tingkat kriminalitas di kota-kota besar.

Kekacauan yang tak bisa diingkari itu, toh, kemudian berbuah tak enak—bagi dunia bisnis, terutama usaha pariwisata. Indonesia divonis sebagai negara yang kacau, tak aman. Sejumlah negara—Jepang, Australia, Belanda, Belgia, dan Amerika Serikat—melansir travel advisory alias imbauan untuk warganya agar tidak datang ke Jakarta.

Tingkat keseriusan imbauan itu memang amat bervariasi. Jepang, misalnya, menganut skala peringatan dari yang teringan, siaga I, hingga yang terberat, siaga IV. Untuk Bali, Jepang memberikan status peringatan travel warning siaga I. Daerah selain Bali dinilai setingkat lebih gawat: siaga II. Padahal, pemerintah Jepang hanya membolehkan biro perjalanan menjajakan daerah yang aman: paling bahaya siaga I. Akibatnya, saat ini, biro perjalanan di Jepang cuma boleh menjual paket wisata ke Bali. Untuk daerah selain Bali, stop.

Memang betul, negara-negara itu cuma mengeluarkan imbauan, bukan larangan alias travel ban. Status ini pernah disandang Indonesia tak lama setelah kerusuhan Mei. Saat itu, tingkat hunian hotel rata-rata anjlok sampai 10 persen. Sejumlah negara mengevakuasi warganya yang berada di Indonesia. Namun, seiring dengan mendinginnya suhu politik, beberapa negara mulai mencabut status travel ban. Yang paling lambat bereaksi adalah Jepang. Negara ini baru menghentikan status larangan berwisata September lalu. Namun, belum sempat kondisi pariwisata pulih, kerusuhan datang lagi. Dan travel advisory digelar kembali.

Repotnya, imbauan ini cukup manjur. Dalam sepekan terakhir, banyak turis Jepang yang membatalkan perjalanan ke Indonesia. Harum Indah Sari Travel Agent, penyedia jasa perjalanan wisata di Bali, misalnya, mencatat pembatalan turis Jepang mencapai 40 persen. Menurut pengalaman Wayan Kertasa, staf Harum Indah Sari, turis Jepang memang terkenal patuh pada anjuran pemerintahnya. Begitu travel advisory dilontarkan, langsung saja para calon wisatawan bereaksi.

Apa yang terjadi pada Harum Sari juga dialami biro perjalanan Rama Tour, Paradise Tour & Travel, dan Japan Travel Beuro. Pembatalan terutama terjadi pada paket wisata kombinasi Jawa-Bali. Umumnya turis yang telanjur mengikuti paket kombinasi memilih tinggal di Bali dan batal ke Yogya atau daerah lain di Jawa. Jakarta? Apalagi. Ibu kota Republik Indonesia ini benar-benar menjadi daerah "verboden".

Dengan travel advisory ini, daerah tujuan wisata di luar Bali terlihat sepi pengunjung. Yang kelihatan paling nelangsa tak lain adalah Ibu Kota Jakarta. Bukti paling gamblang bisa dilihat di Jalan Jaksa. Kawasan yang biasanya ramai oleh turis asing itu sudah beberapa pekan belakangan terlihat lengang. Australia dan Amerika Serikat secara resmi telah mengimbau warganya agar menghindari Jakarta. Imbauannya: silakan datang untuk urusan tugas, bisnis, atau konferensi, tapi kalau cuma mau jalan-jalan, sebaiknya tunda dulu.

Bukan cuma itu. Bahkan Kedutaan Besar Amerika di Jakarta sudah mengeluarkan larangan agar kapal pesiar kelas dunia tidak berlabuh di Tanjungpriok. Akibatnya, Jakarta kehilangan kesempatan disinggahi ratusan turis penumpang Silver Wind (Monako), Olivia (Jepang), Sky Princess (AS), dan New Amsterdam (AS). Dulu, kapal pesiar asing yang diageni PT Pelni biasa berlabuh satu atau dua hari di Tanjungpriok. Dengan adanya larangan berlabuh ini, kapal-kapal pesiar langsung menuju Tanjungemas, Semarang, atau ke Gilimanuk, Bali.

Bagi dunia pariwisata, travel advisory seperti pil getir yang justru menyakitkan. Yanti Sukamdani Hardjoprakoso, petinggi Grup Hotel Sahid, memastikan bahwa dalam pekan-pekan mendatang pembatalan paket liburan akhir tahun akan mengalir semakin kencang. Saat ini tingkat hunian hotel rata-rata sudah 30 persen, sementara di pengujung Desember nanti, Yanti meramalkan, "Tinggal 20-an persen."

Dengan pertimbangan itu, Yanti yakin, target pemasukan devisa di atas US$ 6 miliar dari pariwisata hanya tercapai kurang dari separuh. Memang betul, tak tercapainya target pemasukan wisata itu bukan cuma karena ramainya kerusuhan. Krisis perekonomian yang hampir terasa di seluruh dunia ikut memberikan andil.

Karena pelbagai sebab itu, menurut Yanti, kondisi pariwisata Indonesia kini sudah mendekati tahap SOS atau save our soul. Banyak hotel yang tak sanggup lagi menutup biaya operasional. Lebih-lebih hotel baru yang dibangun dengan utang luar negeri. Pemasukan tak ada, sementara beban bunga utang harus tetap dibayar. "Ibarat kebanjiran, air sudah sampai di hidung," kata Yanti.

Sebegitu parahkah? Tidak seluruhnya, memang. Pulau Bali, misalnya, masih bisa diandalkan sebagai primadona wisata. Dengan pelbagai persoalan di atas, menurut pemantauan TEMPO, tingkat hunian hotel di Bali rata-rata masih 60 persen. Turis Australia masih mendominasi hotel di Bali. Rupanya, ungkapan bahwa Bali adalah rumah kedua bagi warga Australia ada benarnya.

Gede Wirata, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, tetap optimistis Bali akan kebanjiran turis Australia akhir tahun ini. Sebabnya, nilai dolar Australia sedang terdepresiasi terhadap dolar Amerika. Akibatnya, ongkos wisata dari Australia ke Amerika atau Eropa menjadi sangat mahal. "Kemungkinan besar Bali menjadi tujuan alternatif," kata Gede Wirata. Tentu saja optimisme itu masih disertai catatan: situasi keamanan nasional harus terjaga. Kalau tidak, status primadona wisata Bali bakal ikut tercabut.

Sayangnya, pemerintah masih berkesan cuek. Kabar travel advisory tidak ditanggapi segera. Faisol Hasim, Ketua Umum PHRI, mengaku heran atas sikap diam pemerintah. Mestinya, menurut Faisol, ada pejabat yang secara resmi menjelaskan kondisi Indonesia, lepas dari mereka mau percaya atau tidak. "Kalau kita diam, calon wisatawan akan menyimpulkan sendiri," kata Faisol.

Tentu saja pemulihan citra ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Korea Selatan, misalnya, bisa disimak sebagai contoh. Guna memulihkan citra pariwisata, Korea Selatan gencar menggelar kampanye. Tak tanggung-tanggung, Presiden Kim Dae-Jung ikut turun tangan. DJ Kim—begitu panggilannya—rela menjadi bintang iklan Welcome to Korea yang cukup glamor dan cantik. Iklan berdurasi satu menit ini hampir tiap hari ditayangkan di layar CNN.

Tentu kampanye saja tak ada artinya tanpa tindakan nyata memulihkan keamanan. Tanpa rasa aman, tingkat kegawatan bisnis pelesiran makin menjadi. Akankah pariwisata dibiarkan bangkrut? Tolong.

Mardiyah Chamim, Agus Hidayat, I Nyoman Sugiharta


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data