Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXIIIIIII/08 - 14 Desember 1998
   
Ekonomi dan Bisnis

Martiono Hadianto: Setoran ke Golkar? Tidak

Pergantian Direktur Utama Pertamina tiba-tiba ditunda. Rencananya, Senin (7 Desember) ini Soegijanto akan digantikan oleh Martiono Hadianto, bekas Dirjen Bea Cukai. Namun karena ''Pertamina sedang sibuk menyiapkan ulang tahun", resepsi serah terima jabatan itu ditunda hingga pekan depan.

Penundaan ini, tak pelak, melahirkan spekulasi baru: jangan-jangan, dalam waktu sepekan ini akan muncul calon baru selain Martiono. Apa boleh buat, pergantian jabatan Dirut BUMN ternama Indonesia itu penuh kontroversi. Soegijanto baru setahun menjalani masa jabatan, yang lazimnya lima tahun.

Selain itu, sosok Martiono sendiri diragukan banyak pihak. Mantan Dirjen Pembinaan BUMN ini dinilai kurang cakap menangani soal minyak. Kedekatan Martiono dengan pengusaha pribumi, seperti keluarga Aburizal Bakrie, juga melahirkan kekhawatiran: jangan-jangan akan timbul kroni baru di Pertamina.

Apalagi, belakangan ini Pertamina sedang disorot lantaran menunjuk Singapore Petrolium Co. sebagai salah satu pemasok minyak (yang dulu dipegang oleh Perta dan Permindo). Perusahaan kecil ini konon dibeking oleh Petrocom—sebuah perusahaan minyak yang dipercaya punya ''hubungan" khusus dengan Nirwan Bakrie.

Nah, terpilihnya Martiono memperkuat spekulasi bahwa bendera Bakrie dan kawan-kawan bakal makin berkibar di Pertamina. Benarkah demikian? Dwi Arjanto dan Ali Nur Yasin dari TEMPO mewawancarai Martiono seputar keraguan atas dirinya dan visinya dalam memberantas korupsi di Pertamina.



Selama ini Pertamina dibelit proyek KKN. Apa tindakan Anda nanti?

Harus dievaluasi. Kontrak kerja sama perlu dilihat satu-persatu, apakah kontrak itu seimbang atau tidak, apakah Pertamina betul-betul membutuhkannya, dan apakah Pertamina bisa melaksanakan sendiri. Nah, dengan cara itu kita mengevaluasi suatu proyek, apakah diteruskan atau tidak. Saya ingin menaikkan efisiensi Pertamina untuk meningkatkan pendapatan pemerintah.

Caranya?

Saya belum tahu. You aneh juga, barangnya saja belum lihat. Tentunya saya harus melihat secara umum, efisiensi dan efektivitas, untuk meningkatkan pendapatan pemerintah sekaligus menekan subsidi. Ini tidak sederhana, memerlukan analisis dan penelitian.

Kiat Anda memberantas korupsi di Pertamina?

Korupsi di Pertamina itu baru dugaan, belum dibuktikan. Saya harus lihat benar atau enggak.

Apa kiat Anda untuk membongkar itu?

Semuanya itu harus dikembalikan pada aturan. Saya yakin, Pertamina punya aturan. Masalahnya, aturan itu dilaksanakan atau tidak. Kedua, masalah niat saja. Mudah-mudahan saya bisa mengajak teman-teman di Pertamina untuk lebih mematuhi ketentuan yang ada.

Apakah Anda punya keberanian memangkas ''proyek Cendana" yang merugikan negara Rp 11 miliar sehari?

Kenapa Anda pertanyakan itu? Anda kan tahu track record saya. Lagi pula, siapa yang berani menentang arus reformasi? Kenapa Anda mempersoalkan keberanian saya?

Karena Anda orang nomor satu di Pertamina dan sampai saat ini belum ada kemajuan berarti dalam penanganan KKN di Pertamina.…

Tadi saya katakan apa? Rule-nya ada kan di sini (sambil mengetuk buku tentang Pertamina di mejanya). Saya tinggal jalankan. Pemerintah saja tidak menanyakan hal itu, kok Anda tanyakan. Anda meragukan integritas saya?

Bagaimana tanggapan Anda dengan isu bahwa sebagai Dirut Pertamina Anda harus menyetor sekian persen untuk Golkar?

Anda pernah tahu saya, enggak? Kalau sudah tahu, ya, jangan begitu, dong. Berarti Anda meragukan integritas saya. Enggak ada pesanan harus setor dana politik ke Golkar. La, kalau saya melenceng dari ketentuan, risiko saya kan besar. Buat saya, nama itu enggak bisa dibeli. Reputasi saya sudah dibangun sekian lama. Masa, saya mau dalam sedetik segalanya hancur.

Anda dinilai kurang memahami persoalan Pertamina. Bagaimana Anda bersikap?

Saya tidak buta sama sekali tentang Pertamina. Masalah-masalah pokok, saya tahu.

Ada yang bilang, Anda dipilih karena kedekatan dengan Habibie.…

Itu pendapat. Boleh, silakan. Kenapa dipersoalkan? Pak Habibie orang yang sangat rasional. Dia tidak menugaskan seseorang yang dianggap tidak mampu.

Konon, Anda dipilih atas "lobby" Aburizal Bakrie. Apa benar?

Enggak. Bagaimana mungkin Aburizal bisa melobi? Anda merendahkan pemerintah, dong. Dia memang teman saya, sama-sama sekolah di ITB. Tapi, saya enggak pernah bicara soal jabatan Pertamina. Lihat track record saya, ada enggak saya punya hubungan bisnis dengan Ical?

Bagaimana dengan kontrak Pertamina dengan perusahaan Nirwan Bakrie?

Saya betul-betul enggak tahu. Blank. Sampai sekarang, saya hanya baca laporan keuangan Pertamina.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data