Yang Penting Bunganya, Bung! |
Bunga apa yang paling menarik? Jawabnya bunga deposito. Tapi bank mana yang paling layak untuk memeram deposito Anda? Ya, jelas: bank yang tawaran bunganya tinggi. Tak perlu lagi memilah mana bank yang sehat? Ah ya, kuno, kan semua kewajiban bank kini dijamin pemerintah.
Tapi persoalannya, akhir-akhir ini bunga deposito cenderung terus merosot sejalan dengan turunnya suku bunga sertifikat Bank Indonesia (SBI). Pekan lalu, suku bunga SBI merosot jadi 42 persen dari sebelumnya 46 persen. Dalam satu bulan terakhir ini, suku bunga SBI turun 11 persen lebih. Dan seiring dengan itu, bunga deposito yang masih dijamin pemerintah juga diturunkan.
Akibatnya, tawaran bunga deposito merosot drastis. Sejumlah bank besar yang ternama memangkas tingkat suku bunga simpanan (dalam satu bulan) dari 45 persen per tahun menjadi hanya 35 persen. Bahkan ada bank yang berani memasang deposito dengan bunga cuma 30 persen.
Jadi, menyimpan uang dalam deposito tak menguntungkan lagi? Dilihat dari tawaran bunga, deposito memang tak semenarik beberapa bulan lalu. Ketika itu suku bunga SBI masih nangkring di 60 persenan. Saat itu, orang memilih memeram uangnya dalam deposito satu bulanan, kemudian di-roll over, ketimbang dalam deposito jangka panjang yang bunganya jauh lebih rendah.
Tapi sekarang, dengan laju penurunan suku bunga yang demikian pesat, para pemeram deposito harus berpikir ulang. Membiarkan simpanan berada dalam deposito bulanan mungkin tak lagi menguntungkan. Soalnya, ketika di-roll-over bulan depan, bunga baru yang ditawarkan sudah tidak lagi menarik.
Sebagai gantinya, orang kini mulai melirik deposito dengan jangka enam atau dua belas bulan. Soalnya, deposito yang lama cair seperti ini akan memberikan kepastian suku bunga dalam tempo yang lebih panjang.
Nah, bagaimana memilih masa jatuh tempo deposito? Sejumlah analis memberikan tip praktis.
Menurut Direktur Treasury Bank Buana Indonesia, Pardy Kendy, deposito tiga bulan yang paling menguntungkan. Deposito satu bulan, kendati berbunga tinggi, sudah tak menguntungkan lagi. Soalnya, laju penurunan suku bunga sudah terlalu kencang.
Tapi mengapa tak memilih tenor atau masa jatuh tempo yang lebih panjang, setahun misalnya? Pardy menimbang, untuk simpanan deposito enam bulan dan satu tahun, risikonya juga terlalu besar. Soalnya, kondisi politik masih tak menentu. Ini bisa ''meledakkan" nilai tukar rupiah sewaktu-waktu. Nah, kalau nilai tukar rupiah runtuh, berapa pun imbalan suku bunga di bank tak terasa manisnya lagi.
Saran Pardy itu sesuai dengan tren yang terjadi di BCA. Menurut T.H. Wiryana, Wakil Kepala Divisi Consumer Banking BCA, nasabah deposito bank milik Sudono Salim itu juga beralih dari satu bulan ke tiga bulan.
Ini berbeda dengan yang terjadi di Bank Lippo. Menurut Roy Kemur, Manajer Treasury di sana, para deposan tetap bertahan pada deposito dengan jangka satu bulan.
Adapun Safir Senduk, pengamat ekonomi dan perancang keuangan keluarga, berpendapat bahwa deposito satu tahunlah yang paling menguntungkan. Alasannya, suku bunga SBI terus turun berkala. Jika depositonya berjangka pendek, satu atau tiga bulan, misalnya, imbalannya tak akan mengejar penurunan suku bunga.
Lalu bagaimana Safir menghitung ketakpastian politik? Ia yakin, Habibie akan berusaha mati-matian mempertahankan wajah kestabilan ekonomi, kestabilan kurs hingga akhir masa pemerintahan. Setelah itu, memang masih sulit ditebak. Karena itu, ''Kalau depositonya enam bulan, kan pas dengan akhir masa jabatan Habibie," katanya.
Sebenarnya, kalau ingin lebih untung alias dapat bunga yang lebih tinggi dari suku bunga deposito resmi, ada pilihan untuk minta di bawah tangan. Bank-bank ada yang memberikan bunga khusus di atas 50 persen. Bahkan, menurut Pardy, masih ada bank yang memberi bunga ''perdamaian" di atas 75 persen.
Kalau banknya tiba-tiba gulung tikar? Tak usah khawatir. Bukannya promosi, tapi seperti sudah dijanjikan, pemerintah menjamin semua kewajiban bank.
Bina Bektiati dan Ardi Bramantyo
|