Special Rapporteur di Jakarta |
BENARKAH terjadi pemerkosaan massal dalam kerusuhan Mei lalu? Meski Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) sudah membuktikannya dengan adanya 15 korban yang diverifikasi, beberapa pihak masih meragukannya. Kini, orang tak bisa ragu karena yang memberikan komentar adalah seorang special rapporteur on violence against women di PBB, yang datang di Jakarta sejak tanggal 20 November lalu. ''Laporan itu cukup bagus, obyektif, dan dapat dipercaya,'' kata Radhika Coomaraswamiy, sang pelapor khusus PBB.
Kedatangan wanita Sri Lanka itu adalah untuk meneliti kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, terutama di Aceh, Irianjaya, Timor Timur, dan dalam kerusuhan Mei lalu, yang nantinya akan dilaporkan ke Sekjen PBB. Sayang, dengan alasan keamanan, ia gagal terbang ke Aceh dan Irianjaya, maka ia hanya menemui korban-korbannya di Jakarta. Untuk kasus kerusuhan Mei, Radhika sudah menemui pelbagai pihak seperti Kapolri, para aktivis hak asasi manusia, dan korbannya sendiri.
Kedatangan pelapor khusus seperti ini diharapkan tak membuat pemerintah bermain-main dengan data korban kerusuhan. Apalagi, Januari mendatang akan datang juga pelapor khusus PBB soal diskriminasi rasial.
|