|
Kupang membara. Kerusuhan berbau SARA yang melumpuhkan ibu kota Nusa Tenggara Timur yang berpenduduk 300.000 jiwa itu terjadi Senin kemarin. Masjid Attaqwa Naikoten dirusak. Api membakar tiga masjidDarul Hijrah, Oebobo, dan satu lainnya di kantor Wali Kota Kupangsatu gedung Kantor Urusan Agama, SMP, dan Universitas Muhammadiyah. Juga, puluhan kios dan toko. Sedikitnya 10 orang luka-luka dalam insiden itu.
Bencana itu berawal dari acara Perkabungan Umat Kristiani se-NTT atas kasus Ketapang, Jakarta, maupun kerusuhan serupa beberapa waktu lalu. Acara yang diprakarsai PMKRI, GMKI, dan GAMKI itu sebenarnya direncanakan berupa doa bersama di masing-masing gereja pada pukul 12.00 Wita.
Namun, sejak pukul 07.00, ratusan ribu warga memadati seluruh jalan dan gang di tiap penjuru kota. Tiba-tiba, perkabungan damai itu berubah menjadi aksi brutal. Api berkobar paling tidak di tujuh lokasi. Menurut saksi mataseperti kasus Ketapang aksi ini disulut oleh provokator yang datang dengan empat truk dan tiga minibus. Merekalah yang menghasut massa di depan Masjid Attaqwa dengan isu pembakaran Gereja Protestan Ketapang dan Gereja Kristus Raja. Maka, kerusuhan pun menjalar cepat.
Hingga berita ini diturunkan, suasana Kupang masih mencekam. Warga bersenjata tajam memblokade jalan-jalan. Dua SSK Brimob Polres Kupang dan satu kompi Batalion 743 Kupang menjaga ketat seluruh penjuru kota. Sejak sore, hubungan telepon ke Kupang terputus sama sekali.
Gubernur NTT, Piet A. Tallo, kepada pers menyatakan penyesalan dan mengutuk kebrutalan itu. Sementara itu, di Ciganjur, sehabis mengadakan pertemuan dengan Kardinal Julius Darmaatmaja dan pemuka agama lainnya, Gus Dur bersuara keras. "Ini adalah upaya adu domba umat Kristen dan Islam," tegasnya.
|