Menyembuhkan Stres Pascatrauma Veteran Perang Vietnam yang stres perlu dikirim kembali ke medan perang. Prinsip terapi untuk memaksa pasien belajar menghadapi masalahnya ini juga bisa diterapkan bagi masyarakat umum. |
Perang Vietnam telah lama usai, tapi penderitaan para veteran perang tak kunjung reda. Ratusan ribu orang kini menderita luka jiwa yang seperti tak berkesudahan. Mereka didera penyakit post-traumatic stress disorder (PTSD). Mereka sering diganggu mimpi buruk, sulit tidur, pikiran dan ingatan kacau, terisolasi, depresi, dan berbagai masalah tingkah laku lainnya.
Menurut sekelompok peneliti dari Emory University Georgia Tech dan Rumah Sakit Atlanta, Amerika Serikat, cara terbaik untuk menyembuhkan mereka justru dengan mengirim mereka kembali ke ''medan perang". Para peneliti itu menciptakan bagi mereka program baru, sebuah simulasi komputer yang dinamakan Virtual Vietnam.
Lewat program itu, para veteran dimasukkan ke dalam suatu ''hutan" buatan komputer yang dibuat mirip dengan medan laga, lengkap dengan suara salakan senapan sniper dan raungan mesin helikopter. Selama mengikuti program, denyut nadi dan jantung peserta dipantau. Peserta juga menjalani bermacam tes biokimia. Sementara itu, tim penguji menerapkan semacam tes stres yang dilakukan setiap lima menit sekali untuk melihat jenis tekanan yang sedang dialami peserta.
Program simulasi itu, seperti dilaporkan The Sunday Times November lalu, membantu para penderita gangguan stres pascatrauma menghadapi ketakutan mereka dan mengingatkan yang pernah terjadi pada masa lalu. Ini didasarkan pada pendapat para ahli jiwa bahwa trauma diakibatkan oleh ingatan penderita yang hanya muncul sepotong-sepotong alias tidak lengkap. Program ini diharapkan membantu penderita menyambung potongan memori itu, kemudian menempatkannya dalam suatu konteks agar mereka lebih mampu memahami yang telah terjadi.
Menurut Kepala Dinas Psikologi Angkatan Darat Bandung, Brigjen TNI Sjahlan Idris, prajurit memang potensial terkena PTSD karena tekanan yang terus-menerus selama perang. Daya tahan setiap prajurit terhadap tekanan itu tidak sama, bergantung pada kematangan pribadinya. ''Tapi biasanya hanya tiga bulan, paling lama enam bulan. Ini bergantung pada faktor dan bobot permasalahan daerah operasi yang sedang dihadapi,'' kata Sjahlan kepada Upik Supriyatun dari TEMPO.
Post-traumatic stress disorder sendiri sebenarnya bisa menyerang siapa saja, bukan hanya aparat keamanan. Bukan tak mungkin kekerasan yang dilakukan aparat maupun massa yang belakangan makin sering terjadi di republik ini juga memunculkan banyak penderita PTSD. Tentang itu sumber TEMPO punya kisah dari kasus penembakan mahasiswa Universitas Trisakti 13 Mei lalu.
Tersebutlah seorang mahasiswa Trisakti yang melihat dengan mata kepala sendiri tentara mengejar teman-temannya, memukuli, dan menembaki mereka. Beberapa saat setelah perisitiwa berdarah itu berlalu, si mahasiswa itu suka mengoceh dan memberi komentar yang tak bisa dihentikan, kalau ia menonton televisi dan menyaksikan demonstrasi mahasiswa. Tiga bulan sesudahnya, ia memang kembali normal. Tapi sekarang, ketika demo mahasiswa marak, ia kumat lagi.
Ahli psikologi klinis dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Dharmayati Utoyo Lubis, menduga tragedi ''perang" Semanggi yang meminta ratusan korban luka dan 12 nyawa itu membuat orang-orang yang terlibat menderita trauma dan stres. Yang mengalami bisa saja mahasiswa sebagai korban, mungkin juga petugas yang harus melakukan sesuatu di luar nuraninya. Tapi, apakah mereka menderita PSTD, baru bisa diketahui dua-tiga bulan yang akan datang. ''Seseorang yang mengalami gangguan dalam gerakan massa bisa menangis dan stres. Ini belum tentu post-traumatic stress disorder. Kalau berlangsung terus dan nggak sembuh-sembuh dalam dua tiga bulan, itu sudah post-traumatic stress disorder,'' katanya.
Soal penanganannya mungkin saja justru dengan memaksa pasien melihat peristiwa yang sama dengan terapi reliving (membangkitkan kembali). Program Virtual Vietnam agaknya termasuk dalam terapi jenis ini. ''Terapi reliving bisa menyebabkan orang itu nggak sembuh-sembuh karena terus-menerus diingatkan kembali. Tapi untuk kasus tertentu terapi ini justru disengaja karena menjadi suatu cara bagi pasien untuk belajar. Pasien disuruh mengeluarkan semua perasaan yang membuat dia merasa takut. Ini cara untuk membuat orang lega kembali,'' kata Dharmayati. Boleh dicoba di sini, mumpung lagi banyak kerusuhan.
Wicaksono, Arif A. Kuswardono
|