Langkanya Guru Autisme Jumlah anak yang mengidap gejala autisme terus meningkat. Namun guru untuk mendidik anak yang sulit berkomunikasi itu sangat sedikit. |
SEPULUH ruangan berderet, berukuran dua kali tiga setengah meter. Di dalam setiap ruangan ada meja dan dua kursi kecil. Tampak beberapa boneka kayu dan mainan plastik. Suasananya cerah, mirip di sekolah taman kanak-kanak, tapi bukan ruangan kelas yang biasa kita kenal. Kegiatan yang berlangsung di situ juga bukan aktivitas belajar yang lazim terjadi di sekolah umum.
Di salah satu ruangan, seorang bocah, Haikal, 4 tahun, duduk di kursi. Di depannya, duduk seorang wanita guru terapi komunikasi yang kelihatan serius mengajari Haikal. Anak itu dikenalkan pada berbagai konsep warna. Ketajaman indera pendengaran, gerakan tubuh, dan kelancaran bicaranya dilatih.
"Haikal, tos atas. Tos bawah," ujar guru berkerudung itu. Setelah sang guru mengangkat kedua tangannya, Haikal juga mengangkat dua tangannya. Plok. Tos dua tangan kedua orang itu pun bersambut sebagai isyarat keakraban.
Ketika melihat Haikal mulai bersikap acuh tak acuh, sang guru kembali menyapanya, "Duduk manis, Anak Pintar," tuturnya. Dia kemudian meminta Haikal mengenali warna, dengan menyuruhnya mengambil kartu biru.
Ada beberapa anak sebaya Haikal di situ. Mereka juga asyik belajar menyimak ucapan guru, melakukan gerakan sesuai dengan ucapan guru, dan mengenali warna.
Namun Haikal dan teman-temannya bukanlah siswa sekolah taman kanak-kanak. Tugas guru di situ lebih ditekankan pada mengajari anak berkomunikasi dan melatih gerak tubuh ketimbang pengenalan lingkungan. Sederet ruangan yang disebut pada awal tulisan ini pun bukan pemandangan di sekolah taman kanak-kanak, tapi di Klinik Bina Wicara, Akademi Terapi Wicara, di bilangan Kramat, Jakarta Pusat.
Haikal adalah satu dari beberapa anak penderita autisme, yang mengalami gangguan pada salah satu sel kecil di otaknya. Gangguan itu ada yang bersifat motorikingin berbicara tapi tak tahu caranya. Ada pula yang berupa gangguan sensorikanak mampu berbicara tapi tak mengerti apa yang dibicarakan.
Akibatnya, mereka menjadi susah berkomunikasi verbal (berbicara) maupun komunikasi nonverbal (penggunaan bahasa isyarat tubuh). Meski secara fisik sehat, mereka seperti hidup dalam dunianya sendiri. Mereka acap kali memainkan tangan terus-menerus, dengan gerakan aneh.
Banyak anak lain yang juga seperti Haikal tapi belum ada data pasti tentang jumlah penderita autisme di Indonesia. Ketua Yayasan Autisme Indonesia, dr. Melly Budhiman, menaksir jumlah penderita autisme di Indonesia maupun di dunia selama lima tahun terakhir ini meningkat lebih dari sepuluh kali.
Yayasan Autisme Indonesia kini menangani 250 anak, adapun tahun 1996 hanya 65 orang. Dan di Klinik Bina Wicara sekarang ada 60 pasien anak-anaktahun sebelumnya hanya 20 orang. Ini diungkapkan Kepala Bagian Klinik, Yusran Sipala.
Untuk membantu anak-anak penderita autisme, tentu tak cukup dengan pengobatan. Yang penting bagi mereka adalah pendidikan berupa terapi komunikasi, sebagaimana dilakukan di Klinik Bina Wicara. Masalahnya, jumlah guru yang sanggup melatih dan mendidik mereka ternyata sangat sedikit.
Ironisnya pula, jumlah guru autisme dari lulusan Akademi Terapi Wicara sampai sekarang inilah satu-satunya lembaga yang menyediakan guru autismetak banyak. Meski sudah 25 tahun berdiri, dari 55 orang mahasiswanya, baru 23 orang yang lulus.
Dari tahun ke tahun, lembaga pendidikan yang dirintis sejak tahun 1971 oleh Ny. Vreede Varenkampf, Ny. Johana Sunarti Nasution (istri A.H. Nasution), dan dr. Hemdarto Hendarmin itu rupanya sulit meningkatkan jumlah mahasiswa. Sampai-sampai, tahun 1985, akademi yang berkampus di sebuah gedung tua peninggalan Belanda itu terpaksa berfusi dengan Jurusan Speech Therapy
Akademi Rehabilitasi Medis.
Boleh jadi, seperti dikatakan Ninit, salah seorang lulusan akademi tersebut, hal itu disebabkan belum banyak orang yang mengerti arti dan peran guru autisme. "Guru autisme masih kurang dihargai. Padahal, profesinya mulia dan penghasilannya lumayan," tutur Ninit, yang juga bekerja di sekolah terapi wicara. Menyikapi masalah kekurangan guru itu, untuk tahun 2000 Departemen Kesehatan menargetkan jumlah mahasiswa Akademi Bina Wicara mencapai 500 orang. "Saat ini tenaga ahli terapi memang sangat dibutuhkan," demikian kata dr. Rosmadewi, Direktur Akademi Terapi Wicara. Dan agar target tercapai, akan dibuka pendaftaran khusus
bagi lulusan Sekolah Perawat Kesehatan.
Hp. S., Ma'ruf Samudra, dan Edi Budiyarso
|