Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXIIIIIII/01 - 7 Desember 1998
   
Olahraga

Resepnya dari Ajax, Sekolahnya di Menteng

Sekolah sepak bola anak-anak tumbuh bagai jamur. Banyak pengelola yang nombok agar sekolah mereka tetap eksis.

BOLA disorongkan ke depan gawang. Airlangga, yang bersiap, segera menghunjamkan tendangan kerasnya. Gol! Penonton bersorak. Sang pencetak gol mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil tersenyum bangga. Ini bukan potongan Liga Indonesia yang berjalan "senen-kemis" itu. Ini cuma pertandingan latihan anak-anak peserta Akademi Sepak Bola Intinusa Olah Prima (AS-IOP) di Lapangan Menteng, Jakarta Pusat, pekan lalu. Dan Airlangga adalah pelajar SMP berusia 12 tahun.

Sekolah sepak bola anak-anak dan remaja sedang menjadi mode (lagi). Di Indonesia, setidaknya ada 200 sekolah semacam ini. Di Jakarta, yang paling besar mungkin AS-IOP. Sekolah yang pelatihnya mantan pemain nasional Ronny Pattinasarani itu kini memiliki 250 anak didik berusia 6-16 tahun. Dengan iuran Rp 25 ribu per anak per bulan, mereka dapat berlatih dua kali seminggu selama 2 jam.

Tapi jangan dulu bicara untung. Menurut Anda Subrata, direktur sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Olah Inti Nusa itu, setidaknya Rp 50 juta harus mereka keluarkan untuk biaya sehari-hari, dari sewa lapangan sebesar Rp 10 juta, honor pelatih, sampai tetek-bengek lainnya. Padahal, dari iuran anak didik, mereka paling hanya mendapat Rp 3-4 juta. Akhirnya, biaya memang harus ditombok pengelola yayasan yang dimiliki pengusaha kakap seperti Bambang Trihatmodjo, Johanes Kotjo, dan Yapto Suryosumarno itu.

Selain ada AS-IOP, di Jakarta ada lagi Sekolah Sepak Bola Pratama Bekasi. Seperti AS-IOP, sekolah yang dipimpin Bachtiar Abdullah, bekas pemain sepak bola Perkekap Pasuruan, ini juga tidak mengharap untung dari kegiatannya. Dengan 150 murid dan iuran Rp 25 ribu, tiap bulan yayasan harus nombok sekitar Rp 2,5 juta. Untungnya, untuk biaya lapangan, mereka tidak harus mengeluarkan uang. Soalnya, Siswono Yudhohusodo, mantan menteri dan pemilik perumahan Kemang Pratama, mengizinkan lapangan di perumahan di kawasan Bekasi itu dipakai secara gratis. Siswono memang salah satu ketua yayasan yang menaungi sekolah ini.

Meski dijalankan dengan semangat nombok yang tinggi, sayangnya, sekolah-sekolah ini belum disinergikan dengan klub sepak bola. Akibatnya, lulusan sekolah sepak bola tidak otomatis bisa direkrut sebagai kader tim junior yang bisa memperkuat tim dalam klub. Selain itu, kendala lain adalah belum adanya kompetisi antarsekolah bola yang bisa mengasah kemampuan teknis mereka secara riil. Yang ada adalah kompetisi sepak bola junior. "Kita memang baru merencanakan kompetisi itu," kata Tondo Widodo dari bagian Humas PSSI.

Keadaan yang lebih baik ada di Provinsi Jawa Timur. Di sana, sekolah bola secara organisatoris terkait dengan klub. Klub Sepak Bola Petrokimia Gresik, misalnya, memiliki sekolah Petrokimia. Persebaya bahkan memiliki beberapa sekolah bola, di antaranya Putra Gelora, Indonesia Muda, Sasana Bhakti, dan Kinibalu. Di seluruh Jawa Timur, menurut catatan PSSI Ja-Tim, setidaknya ada 58 buah sekolah bola.

Tapi, dalam hal fasilitas, sekolah bola daerah memang tidak seberuntung rekannya di Jakarta. Sekolah bola UNIUitzpanning na Insparning, bahasa Belanda, yang artinya "bersenang-senanglah setelah bekerja"di Bandung, misalnya. Murid sekolah bola yang dimiliki Yayasan Perkumpulan Olah Raga ini harus berlatih di lapangan tak berumput yang tersembunyi di balik rumah-rumah penduduk. Jika sore menjelang, latihan harus segera dihentikan karena lapangan itu tak berlampu.

Meski berbeda fasilitas, dalam hal pola dan materi latihan, sekolah-sekolah bola di daerah tidak mau kalah dengan yang ada di Jakarta. UNI Bandung, misalnya, menjadikan permainan tim Jerman dan Belanda sebagai kiblat. Di AS-IOP, Ronny dan kawan-kawan mencoba membuat buku panduan latihan sendiri yang mereka adaptasi dari sekolah bola Ajax Amsterdam, Feyenoord, Bayern Muenchen, dan Manchester United. Pratama Bekasi menggunakan buku panduan yang dikarang Wiel Coerver.

Jika kurikulum sudah bagus, lalu kenapa jarang muncul pemain nasional berbakat dari sekolah bola anak-anak? Tidak ada jawaban pasti. Tapi, selain fenomena sekolah bola ini belum lama, PSSI sendiri tampaknya sampai saat ini belum siap menampung pemain berbakat dari sekolah itu. "Mereka terus bicara soal program, tapi tidak ada realisasinya," ujar Ronny sengit.

Aneh jika Ronny berharap dari PSSI, karena pasti mantan pemain nasional itu tahu persis bahwa PSSI baru sampai tahap memberesi "borok" sendiri, misalnya mafia wasit. Maaf.

Arif Zulkifli, Hardy R. Hermawan (Jakarta), Munib Rofiqi (Surabaya), Upik Supriatun (Bandung)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data