Katakanlah dengan Ayam Bagaimana cara mencemooh dengan semangat demokrasi, termasuk melindungi martabat para ayam. |
Orang menyatakan cinta dengan bunga, para mahasiswa menyatakan cemooh dengan ayam. Ketika serombongan besar mahasiswa datang ke Kejaksaan Agung untuk mendesak agar bekas presiden Soeharto dibawa ke pengadilan, mereka memberi Jaksa Agung Andi Muhammad Ghalib seekor ayam betina berbulu hitam.
Mengapa ayam betina hitam? Mattulada, ahli kebudayaan yang terkenal dari Ujungpandang, mengatakan kepada Kompas bahwa buat orang Bugis, ayam betina hitam adalah sebuah tanda penghinaan. Sayangnya tak diketahui benarkah itu yang dimaksud, dan apakah mahasiswa antropologi yang punya gagasan. Jangan-jangan mahasiswa sastra Inggris. Sebab, dalam bahasa Inggris slang, ayam betina atau chickenapa pun warna bulunyaberarti penakut. Idiom bahasa Indonesia hampir mirip ketika membandingkan "ayam sayur" dengan "ayam jago". Ayam sayur hanya baik untuk dijadikan sup, ayam jago untuk disabung. Dengan asumsi bahwa membuat sup itu kurang berbobot dibandingkan dengan mengadu ayam.
Jelas, ada sikap meremehkan kerja dapur di sini. Maka awas: meskipun di kalangan ayam belum muncul gerakan feminisme, orang sebaiknya berhati-hati jika mengaitkan kata "betina" dengan "kepengecutan". Bahwa ayam betina tak dipakai untuk bersabung itu bukan salah dia. Lagi pula hantam-menghantam di arena bukanlah alasan hidup, raison d'être, para ayam, apa pun gender-nya. Penjajahan manusia atas dunia unggas sajalah yang menyebabkan karir hewan ini terbatas: atau maju ke gelanggang judi, atau berangkat jadi menu utama Kentucky Fried Chicken.
Sebab itu kepada para mahasiswa yang memperjuangkan demokrasi dapat dimajukan saran. Pertama, harap tak memakai simbul yang mengasosiasikan "feminin" dengan ketakutan. Dalam Sidang Istimewa MPR yang lalu satu-satunya wakil utusan daerah yang berani menentang duduknya ABRI dalam DPR adalah seorang perempuan. Sungguh tak sedap mengejek mereka yang kurang berani dengan mengirimi mereka kutang dan lipstik. Bahkan memakai kata "banci" untuk simbul "tidak berani" pun tak tepat, melihat gigihnya para banci tiap malam di pinggir jalan di Jakarta.
Kedua, harap tak memakai ayam untuk mengejek. Ingat, ayam adalah korban para penyabung dan juru masak yang tak pernah dibela oleh Kontras dan Romo Sandyawan. Lagipula, hewan sudah dianggap lebih layak diajak bicara ketimbang Presiden, seperti dilakukan para mahasiswa di Kebun Binatang Gembira Loka di Yogya dan Kebun Binatang Ragunan di Jakarta. Maka ayam, seperti halnya orang utan dan kalajengking, harus lebih dihormati. Untuk mencemooh, pakai saja nama tumbuh-tumbuhansekalian untuk melakukan diversifikasi dari fauna ke flora. Soalnya tentu harus disepakati lebih dulu tumbuhan apa yang bisa melambangkan ketidakmandirian dan ketakutan. Benalu? Putri malu? Atau, di tahun 1998 ini, beringin?
|