Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXIIIIIII/01 - 7 Desember 1998
   
Nasional

Agar Senjata Tak Makan Tuan

Pengusutan harta Soeharto juga akan menyeret mereka yang berkuasa saat ini ke pengadilan. Bagaimana menyelesaikannya?

Lelaki itu duduk tenang di depan kamera televisi. Yohanes Yacob, penasihat hukum bekas presiden Soeharto, memang bukan orang yang meledak-ledak. Tapi dengarlah kata-katanya. Jika Soeharto digiring ke pengadilan, katanya, diusut asal-muasal hartanya, itu akan menyeret seluruh jajaran pemerintah, anggota kabinet, dan siapa saja yang disebut-sebut terlibat dalam kolusi dan perkronian, "Ke proses pengadilan yang kacau-balau."

Apa pun kesan Anda atas lelaki ini, Yohanes Yacob telah menggedor urat takut Presiden Habibie. Ia bukan cuma menggertak, tapi juga seperti melempar bom: Kalau saja Habibie berani kutak-kutik, awas kau. Bukankah banyak orang ikut menikmati buah dari persekongkolan yang disebut dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme itu?

Harus diakui, Yohanes tak 100 persen keliru. Data menunjukkan, Soeharto dan keluarganya tak sendirian menikmati bisnis "perkronian" yang dituduhkan kepadanya. Soeharto membaginya, melalui ikatan bisnis, perkongsian, dan patungan dengan banyak kalangan. Tali-temali ini begitu panjang, jalin-menjalin, sehingga tampaknya mustahil mengurai bisnis keluarga Soeharto tanpa menyenggol pihak lain.

Nah, repotnya "pihak lain" itu kini tengah duduk di kekuasaan. Barangkali karena itu pula, pemerintahan Habibie terkesan ogah-ogahan mengusut Soeharto. Bagi Ketua Badan Pekerja Indonesian Corruption Watch, Teten Masduki, ini gampang dipahami. Soalnya, bagi Habibie dan ABRI, kata Teten, "Pemeriksaan Soeharto akan menjadi senjata yang makan tuan."

Sulit dibantah, pengusutan Soeharto akan memojokkan ABRI dan Habibie. Sejumlah perusahaan "Cendana" yang kemudian menerima subsidi dan fasilitas istimewa didirikan sebagai perusahaan patunganantara lain melalui kongsi dengan kedua pihak itu. Dengan demikian, ABRIterutama Yayasan Kartika Eka Paksidan Habibie tampaknya akan sulit mengelak dari sebutan "kroni" Soeharto.

Memang betul, tak semua perusahaan hasil perkawinan Cendana dengan militer menjadi mesin uang bagi keduanya. Beberapa di antaranya malah jatuh bangkrut, tak terselamatkan. Tapi satu hal pasti: perusahaan-perusahaan ini umumnya beroperasi dengan dukungan insentif superistimewa. Sering mereka malah menerobos tabu yang sebelumnya diharamkan. Pendek kata, mereka berpeluang menjadi bahan pengusutan untuk menunjukkan adanya penyalahgunaan kekuasaan.

Dengan pelbagai fasilitas ini, mestinya mereka bisa mengeruk keuntungan. Bahwa kemudian ada yang bangkrut, kata seorang analis pasar modal, "Itu karena tak profesional, boros, atau ramai-ramai dikorupsi."

Besarnya subsidi untuk perusahaan kroni terlihat jelas, misalnya, dalam jatuh-bangunnya Sempati Air. Sebelum akhirnya bangkrut tahun lalu, Sempati pernah tercatat sebagai "anak ajaib" dalam industri penerbangan. Bayangkan. Sudah puluhan tahun lamanya, perusahaan penerbangan milik Tri Usaha Bakti alias Truba (holding company yang memutar duit Yayasan Kartika Eka Paksi, milik Angkatan Darat) itu terseok-seok sebagai perusahaan penerbangan kelas dua.

Harus diakui, sebelum 1988, Sempati merupakan perusahaan gurem yang kurang dikenal. Dengan modal tujuh Fokker 27, pesawat tua yang digerakkan baling-baling, apa boleh buat Sempati tak mungkin banyak bergerak. Jaringannya terbatas, hanya melayani rute domestik berjarak pendek. Jangankan terbang ke Singapura, bahkan rute Medan-Jakarta pun tak dilayani. Saat itu Sempati boleh dibilang satu kelas dengan Bouraq atau Mandala.

Tapi tiba-tiba nasib berubah semudah mengedipkan mata. Tahun 1989, Tommy Soeharto dan Nusamba (perusahaan yang sahamnya dikuasai yayasan-yayasan Soeharto) masuk. Masing-masing membeli 25 persen saham (Tommy) dan 35 persen (Nusamba alias Soeharto). Sisanya, 40 persen tetap dikuasai Truba.

Kehebatan Tommy dan Soeharto segera terlihat. Tak sampai setahun kemudian, Sempati memesan tujuh pesawat jet Fokker 100. Harap dicatat, ketika itu perusahaan penerbangan swasta Indonesia masih dilarang mengoperasikan pesawat jet.

Setelah itu, Sempati seperti tancap gas. Agutus 1990, Sempati langsung menerbangi Medan. Enam bulan kemudian, mulai terbang dari Jakarta ke Singapura. Kemudian mulai menjelajah Penang, Kuala Lumpur, dan kemudian Malaka. Sukses seperti tinggal menunggu waktu. Sempati berbiak begitu cepat. Tak sampai lima tahun kemudian, armada Sempati dilengkapi dengan tujuh jet Fokker 100, enam Boeing 737-200, dan tiga Airbus 300-B4.

Tak cuma berhasil dalam pengembangan usaha, Sempati juga sukses melabrak sejumlah tabu industri penerbangan swasta Indonesia. Selain soal pemakaian pesawat jet tadi, Sempati mencatat rekor lain. Misalnya, Sempati merupakan penerbangan swasta pertama yang mendapat rute terbang ke luar negeri.

Kecuali sejumlah fasilitas yang kasat mata itu, sulit dibantah, ada beberapa insentif lain yang sulit dilacak, misalnya siapa yang membeking finansialnya. Agar tumbuh cepat, Sempati mestinya perlu bandar duit yang tangguh. Seorang analis industri penerbangan menduga, Sempati dibeking bank pemerintah dan beberapa bank swasta yang dikenal dekat dengan kekuasaan. Benarkah? Wallahualam, belum ada bukti yang meyakinkan, memang.

Selain Sempati, bangunan bisnis ajaib hasil perkawinan Cendana dengan Yayasan Kartika Eka Paksi adalah Satelindo. Perusahaan jasa telekomunikasi ini pada awalnya dimodali PT Bimagraha Telekomindo, perusahaan patungan antara Bimantara milik Bambang Trihatmodjo dan Artha Graha milik Yayasan Kartika Eka Paksi, kemudian Telkom dan Indosat. Dua tahun kemudian masuklah DeTeMobil, anak perusahaan Deutchse Telekom dari Jerman, sebagai investor baru.

Seperti halnya Sempati, Satelindo juga dihadiahi banyak fasilitas yang semula tabu. Tengok saja. Satelindo merupkan perusahaan swasta pertama yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi dasar. Satelindo merupakan satu-satunya perusahaan swasta (hingga sekarang) yang bersama Indosat bergerak dalam bisnis jasa gerbang telekomunikasi internasional (gateway). Satelindo juga merupakan perusahaan swasta pertama yang diberi hak mengelola satelit Palapa. Hingga saat ini Satelindo telah mengoperasikan tiga satelit Palapa generasi C.

Dengan pelbagai fasilitas itu, seperti Sempati, Satelindo melejit bak meteor. Baru dua tahun beroperasi, nilai Satelindo sudah dihargai amat tinggi. Tahun 1995, DeTe Mobil membeli 25 persen saham Satelindo dengan harga US$ 586 juta. Padahal, kala itu, proyeksi laba Satelindo tak sampai Rp 60 miliar (atau sekitar US$ 24 juta saat itu). Artinya, Satelindo dibeli dengan harga hampir 100 kali proyeksi pendapatan. Ini 10 kali lipat lebih mahal dari harga saham Telkom atau Indosat di pasar modal.

Lalu mengapa DeTeMobil berani bertaruh begitu mahal? Tak ada jawaban yang lain kecuali bahwa Satelindo punya begitu banyak hak istimewa. "Satelindo seperti bisa melakukan apa pun yang mereka maui," kata seorang analis industri telekomunikasi di pasar modal.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data