Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXIIIIIII/01 - 7 Desember 1998
   
Media

Peluang di Tengah Pengangguran

Tabloid politik bermunculan. Tapi Peluang memilih menjadi satu-satunya media yang menggarap tema lowongan kerja, yang pernah gagal dilakukan Paron.

Sampul mukanya tak ubahnya tabloid hiburan. Tiga nomor awal Peluang memasang wajah penyiar Ira Koesno, artis Elma Theana, dan penyanyi Yuni Shara. Padahal tabloid yang mulai dilempar ke pasar November lalu itu tak ada urusannya dengan artis. Ini satu-satunya tabloid di Indonesia yang khusus menginformasikan lowongan kerja, di tengah membanjirnya tabloid politik.

Melawan arus? Mungkin tidak. Di tengah krisis ekonomi ini, ada 18 juta korban pemutusan hubungan kerja. Belum lagi angkatan kerja yang baru lulus dari perguruan tinggi. Teorinya, mereka membutuhkan informasi lowongan pekerjaan dan ide usaha yang bisa memberikan penghasilan ekstra.

Tabloid ini lahir dari gagasan Joko Santosa H.P., yang bertahun-tahun berkutat di industri iklan. Ide itu muncul setelah ia terkesan oleh suplemen sebuah terbitan Hong Kong yang isinya hanya lowongan kerja. Kemudian ia mencoba membuat dummy dan mentabulasikan iklan lowongan di berbagai media. "Ketika selesai, saya kaget, ternyata guntingan koran yang saya kumpulkan itu bisa menjadi satu koran sendiri. Sejak itu saya dalami ide ini dan saya buat proposal. Tapi waktu itu saya nggak dapat-dapat investor,'' ujar Joko, yang kini dipercaya menjadi pemimpin redaksi Peluang.

Dari sudut segmen pencari kerja, sebenarnya Peluang bukanlah yang pertama. Beberapa tahun lalu pernah ada tabloid Paron, yang sebelum mengubah haluan menjadi tabloid politik, sempat menggarap dunia kerja. Tapi tabloid ini akhirnya gulung tikar juga di jalur politik.

Peluang tak ingin seperti Paron, yang terkesan membidik pencari kerja kelas menengah ke bawahsegmen yang tidak diminati pengiklan. "Target audience kami bukanlah penganggur, tapi lebih kepada yang ingin pindah kerja,'' kata Joko.

Tak berarti jalan Peluang menambang iklan jadi mulus. Menurut media buying manager biro iklan multinasional JWT AD-Force, Latifah, tabloid pada umumnya kurang diminati pengiklan. Apalagi media yang sangat spesifik seperti Peluang. Alasannya, kertas koran yang dipakai tabloid kurang bergengsi untuk mengangkat citra merek yang diiklankan. "Orang lebih memilih memasang iklan di majalah. Ini sudah menjadi rumusan baku," ujar Latifah. Itu sebabnya pengiklan yang memasang iklan di Nova, misalnya, masih merasa perlu beriklan pula di Femina. Padahal tiras tabloid Nova jauh lebih besar daripada majalah Femina.

Namun, banyak juga yang memanfaatkan jasa Peluang. Beberapa perusahaan yang iklan lowongan kerjanya terpasang, misalnya, mengaku mendapat respons lumayan dari pembaca media baru ini. Very Ryang Hepat, managing partner sebuah perusahaan pencari tenaga profesional yang biasa disebut headhunters, mengaku telah menerima 40 surat lamaran setelah iklannya dimuat di tabloid ini. Karena itu, ia bermaksud merancang iklan lowongan satu halaman penuh lagi. "Saat ini banyak sekali perusahaan yang bergerak dalam bidang apa saja yang membutuhkan karyawan," kata Very, tapi ia tak menyebutkan seberapa besar order yang ia terima. Ia menduga banyaknya permintaan ini karena setelah krisis berakhir mencari tenaga kerja tidak akan semudah sekarang.

Anehnya, Peluang justru tidak akan menjaring iklan sebagai penopang bisnisnya. Gratis pada nomor-nomor awal, iklan lowongan selanjutnya hanya kena "tarif sumbangan untuk sembako". "Itu tidak untuk income kami," kata penyandang dana dan Pemimpin Umum Peluang, Hajah Endang Pudjiastuti. Dengan target tiras 75 ribu eksemplar, mereka yakin bahwa modal Rp 3,5 miliar yang telah dikeluarkan akan kembali dalam dua tahun.

Menurut ahli pemasaran Rhenald Kasali, ide Peluang sebetulnya cerdik. Tapi tabloid itu masih belum digarap dengan baik sehingga pembaca tidak bisa langsung membedakannya dengan tabloid lain. "Tampaknya mengarah kepada mereka yang mencari side job, lebih mengarah pada kewirausahaan, bukan lowongan. Ini kesan pertama saya, dan kesan pertama itu penting," kata Rhenald.

Apakah Peluang berpeluang untuk maju, sulit ditebak di tengah ratusan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers yang terbit dengan gampang seperti sekarang.

Gabriel Sugrahetty, Setiyardi, dan Raju Febrian


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data