Pinochet Menghitung Hari House of Lords menolak status kekebalan Pinochet. Nasib mantan diktator Cile itu kini bergantung pada Kementerian Dalam Negeri Inggris. |
Bandul keberuntungan menjauhi Pinochet. Setelah sempat menghirup udara bebas sekitar satu bulan dan dirawat d i klinik mewah di London, bekas diktator Jenderal Augusto Pinochet kini kembali berstatus tahanan. Law Lords of House of Lords, lembaga hukum tertinggi di Inggris, menolak status kekebalan diplomatik Pinochet dengan suara 3 dibanding 2. Sebelumnya, lembaga pengadilan di bawahnya menyatakan Pinochet tidak bisa diadiliberdasarkan Piagam Nuremberg. Dalam piagam yang lahir tahun 1945 itu, dinyatakan bahwa seorang bekas kepala negara tidak bisa diadili oleh pengadilan negara lain karena tindakannya sebagai kepala negara. Namun, menurut House of Lords, kejahatan seperti penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan tidak bisa digolongkan sebagai tindakan fungsional seorang kepala negara, sehingga yang bersangkutan tidak selayaknya beroleh kekebalan. Maka, keputusan kekebalan itu pun dibatalkan.
Beragam reaksi bermunculan atas keputusan ini. Isabelle Allende, putri mendiang Salvador Allende, presiden Cile yang tewas saat kudeta yang dilancarkan Pinochet pada 1973, menyambut keputusan ini dengan gembira. ''Keputusan ini menunjukkan bahwa prinsip keadilan universal telah ditegakkan, bahwa tidak ada diktator yang boleh bepergian dengan menyandang kekebalan dan berpikir dirinya di atas hukum," ujar Isabelle. Sedangkan putra tertua Pinochet, yang juga bernama Augusto, menyatakan putusan tersebut kejam dan sadis mengingat dijatuhkan bertepatan dengan ulang tahun Pinochet yang ke-83 pada 26 November lalu.
Ibu kota Cile, Santiago, kembali terbelah. Barisan pendukung dan penentang mantan diktator itu sama-sama turun ke jalan. Para pendukung Pinochet menghujat kaum komunis yang mereka anggap berada di belakang kasus ini, sementara para penentang mendukung keputusan pengadilan Inggris. Bentrokan tak terhindarkan di beberapa tempat, sekalipun belum dilaporkan ada yang cedera serius. Polisi yang kerepotan akhirnya menggunakan meriam air untuk memisahkan keributan.
Saat ini, nasib Pinochet selanjutnya berada di tangan Menteri Dalam Negeri Inggris, Jack Straw, yang akan mengeluarkan pernyataan resminya pada 2 Desember mendatang. Dalam kapasitasnya, Straw bisa memperbolehkan Pinochet meninggalkan Inggris dengan alasan kesehatan atau meluluskan permintaan ekstradisi atas Pinochet dari pemerintah Spanyol. Negara matador itu memang sangat berkepentingan dalam kasus ini. Penangkapan Pinochet pada 16 Oktober lalu oleh polisi Inggris berawal dari permintaan hakim Spanyol, Baltasar Garzon. Tuduhannya, Pinochet bertanggung jawab atas terbunuhnya tujuh warga Spanyol di Cile semasa pemerintahannya.
Reputasi Pinochet dalam pelanggaran hak asasi manusia memang luar biasa. Paling tidak, dalam rentang waktu 1973-1990, menurut data resmi pemerintah Cile, 3.197 orang dinyatakan tewas atau hilang. Yang ikut menemui ajal di Cile, selain warga Spanyol, ada warga Prancis, Italia, Swiss, Swedia, Jerman, dan Belgia. Semua negara tersebut juga telah mengajukan permintaan ekstradisi kepada pemerintah Inggris.
Pemerintah Cile telah mengirimkan Menteri Luar Negeri Jose Insulza ke Inggris agar ekstradisi tidak terjadi. ''Kami tidak bermaksud melindungi diktator masa lalu. Namun, kami harus melindungi proses transisi demokrasi di negara kami," ujar Duta Besar Cile untuk Inggris, Mario Artaza. Argumen ini dikemukakan mengingat Pinochet, terlepas dari kekejamannya, adalah seorang diktator yang akhirnya bersedia turun dengan demokratis di saat masih sangat berkuasa.
Yang menarik, di Spanyol malah ada suara dari sebagian orang penting di pemerintahan yang ingin agar ekstradisi tidak terjadi karena akan menimbulkan kesulitan baru bagi Spanyol. Namun, mengingat Menteri Jack Straw di masa mudanya dikenal berhaluan kiri dan pernah berunjuk rasa menentang Pinochet, tipis harapan Pinochet bisa bebas begitu saja. Dari sebuah klinik tempatnya dirawat, Pinochet menyatakan bahwa ia tak akan mudah dikalahkan. Hukuman memang belum jatuh. Namun, tampaknya, sang Jenderal sudah harus mulai menghitung hari.
Yusi A. Pareanom
|