Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXIIIIIII/01 - 7 Desember 1998
   
Lingkungan

Mengharap Udang, Diberi Limbah

Limbah pabrik gula Bone mencemari Sungai Kaju. Petani tambak udang dirugikan miliaran rupiah.

Inilah nasib buntung yang kini dira sakan petani tambak udang di Desa Bulue, Tonrong Tellue, dan Pasaka, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Keuntungan akibat lonjakan harga udang, yang selama ini terbayangkan, kini lenyap bersama dengan ribuan udang yang mati di tambak mereka.

Sirnanya harapan tersebut akibat tercemarnya Sungai Kaju, yang menjadi sumber utama air tambak oleh limbah pabrik gula Bone milik PT Perkebunan Nusantara XIV, Sulawesi Selatan. Kerusakan itu memang tidak main-main. Dalam limbah yang dibuang itu, kadar biochemical oxygen demand dan chemical oxygen demand-nya cukup tinggi. Selain itu, bahan pembantu pembuatan gula seperti kapur, belerang, fosfat, flokulan, ikut masuk ke sungai.

Akibatnya, permukaan sungai sepanjang 9 kilometer ini diliputi selaput limbah pekat setebal 1,5 sentimeter. Selain itu, beberapa bagian sungai tampak berbusa dan berbau pesing. Kemudian diketahui air telah tercemar racun dan kadar oksigennya kurang dari angka normal, yakni 4-7 tpm, seperti yang dibutuhkan oleh benur udang untuk hidup.

''Hanya satu jam setelah saya membuka katub air untuk tambak, udang-udang itu langsung naik ke permukaan. Megap-megap keracunan," kata Ketua Kelompok Tani Bulue, Andy Syamsul, satu dari 89 pemilik tambak dengan luas 321 hekatare. Karena itu kini, lewat Pengacara Andi Rudianto Asapa, para petani mempersiapkan gugatan perdata dan pidana terhadap pabrik gula tersebut.

Menurut Syamsul, pada April 1998, ia membeli 700 ribu ekor benih udang windu seharga Rp 90 juta. Bayi udang itu lalu disebar di areal 12 hektare miliknya. Dalam hitung-hitungan kasar, Syamsul pada saat panen akan mendapat 24 ton udang. Jika harga ''si bongkok" saat itu Rp 125 ribu per kilogram, dalam benak Syamsul paling tidak ia akan meraup untung Rp 3 miliar.

Tapi kenyataan berkata lain. Syamsul, purnawirawan ABRI ini, cuma mendapatkan 500 kilogram udang. Itu pun kualitasnya di bawah standar. Mestinya, satu kilogram berisi 30 ekor, tapi kenyataannya berisi 60 hingga 100 ekor. ''Udangnya kurus-kurus," tambahnya. Alhasil, jangankan untung, uang benih dan pemeliharaannya saja tak kembali.

Petani lain, M. Yusuf, punya cerita yang lebih pahit. Akibat kerugian yang dialaminya, ia terpaksa berpisah dengan lahan garapannya karena disita Bank Rakyat Indonesia cabang Watampone. Tambak seluas 1,4 hektare itu memang diagunkan ke bank untuk pinjaman modal Rp 25 juta. Rencana melunasi pinjaman itu selepas panen gagal total.

Pabrik gula yang didirikan tahun 1975 itu sejak awal kerap berperkara dengan penduduk perihal limbahnya. Meski sering memprotes, petani memang tidak melakukan tindakan lain. ''Kami selalu berharap pembuangan limbah itu berhenti," kata Syamsul sia-sia. Pernah mereka mengadu ke bupati, DPRD, bahkan ke presiden. Tapi protes itu tak bermanfaat, maka petani memilih berhenti menebar benur.

Nah, ketika belakangan harga udang meroket akibat depresiasi rupiah terhadap dolar, harapan mereka bangkit lagi. Namun, itulah, mereka justru babak-belur didera utang.

Pihak pabrik gula Bone tidak mengelak tuduhan petani tambak itu. Melalui administraturnya, H. Sucipto Abdul Djati, mereka mengaku belum memiliki sistem pengolahan limbah yang memadai. Bahan buangan pabrik hanya diendapkan sebentar di bak penampungan, lalu digelontor ke sungai.

Biaya pembangunan pengolah limbah senilai Rp 45 miliar dinilai terlalu mahal untuk pabrik yang menurut Sucipto belum pernah untung sejak didirikan. Sucipto menawarkan solusi dengan mengalihkan pembuangan limbah ke perkebunan tebu, apalagi kandungan fosfat limbah menyuburkan tebu.

Tentu itu solusi sementara. Soalnya, jika kebun tebu tidak bisa menampung seluruh limbah, Sungai Kaju kembali akan menjadi bak penampung. Dan derita petani masih akan berlajut.

Arif Zulkifli dan Tomi Lebang (Ujungpandang)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data