|
Kalau saja Megawati seorang laki-laki, menurut keyakinan saya, penolakan sebagian kalangan terhadap pencalonan dirinya sebagai pemimpin nasional tetap akan terjadi. Ada beberapa alasan.
Pertama, figur Megawati masih diselimuti sisi remang-remang, terutama yang berhubungan dengan data demografis, khususnya agama, latar belakang pendidikan formal, dan sebagainya.
Kedua, keberpihakan Mega terhadap gerakan reformasi diragukan. Ketika sebagian besar mahasiswa berunjuk rasa menuntut Soeharto turun, Mega dan PDI-nya cuma diam. Bahkan, setelah Soeharto tumbang dan sebagian masyarakat menuntut Soeharto diadili, Mega justru "mengimbau" agar masyarakat tidak menghujat.
Ketiga, Mega sebagai calon pemimpin nasional tidak pernah menelurkan karya intelektualnya, misalnya berupa karya tulis. Bahkan, pidato-pidato Mega selama ini tidak memberikan kesan intelektual sebagaimana bila kita simak pidato-pidato Bung Karno.
Keempat, Megawati bukanlah seorang "tokoh" yang independen. Ia selalu meminta advis dari Gus Dur (dan sebagainya) sebelum memutuskan sesuatu.
Tidak bisa dimungkiri, Megawati adalah sebuah fenomena di dunia politik Indonesia. Namun, lebih tepatnya, Megawati hanyalah sebuah "fatamorgana" bagi massanya. Karena itu, massa Megawati tidak akan pernah mendapatkan air demokrasi untuk menghapuskan dahaga mereka.
Kalau Mega memang arif, ia tentu tidak akan membebani rakyat. Sebab yang dibutuhkan rakyat adalah seorang pemimpin yang cakap (capable), mampu melakukan komunikasi global, jelas data demografisnya, dan mandiri, bukan seorang pemimpin yang gamang.
F.X. Rudy Wibisono Kompleks Basmol 8 Cengkareng Jakarta 11610
|