|
Jauh sebelum Soeharto diturunkan mahasiswa, berkali-kali saya mengimbau melalui surat dan faksimile agar Anda berdua menyatukan gerak langkah mengatasi krisis nasional, yang konon terparah sepanjang peradaban umat manusia. Untuk itu, Anda berdua harus berbuat yang lebih nyata untuk rakyat.
Saya sependapat dengan pemikiran yang menyatakan bahwa jalan paling baik untuk mengatasi krisis multidimensi sekarang ini adalah melalui pemilu demokratis, sehingga dihasilkan pemerintahan yang benar-benar memiliki legitimasi. Namun, masalahnya: mungkinkah proses tersebut terealisasi sesuai dengan harapan?
Menyadari kompleksnya masalah, seperti kepentingan status quo untuk mempertahankan kekuasaan, keadaan ekonomi yang makin parah, budaya bangsa yang belum kondusif bagi pemilu yang demokratis (sebagian masih intoleran dan mudah dihasut), serta kemiskinan dan pengangguran yang meluas, saya meyakinkan Anda berdua bahwa memilih kepemimpinan nasional melalui cara "konstitusional murni" merupakan harapan yang sia-sia. Tanpa penanganan yang cepat dan tepat, sebelum/menjelang pemilu nanti, krisis nasional sudah berubah menjadi bencana nasional.
Mbak Mega dan Mas Amien yang saya cintai dan saya hormati, saya kira kita sepakat bahwa tuntutan reformasi total yang diperjuangkan oleh mahasiswa, kini, melenceng arahnya. Kecenderungan arah reformasi yang melenceng ini akan terus berlanjut selama para Soehartois masih berkeliaran, apalagi sebagian masih diberi kesempatan menjalankan pemerintahan. Mari kita ambil contoh:
Krisis hukum. Tindakan hukum kepada tiga orang mantan gubernur Bank Indonesia yang diduga melakukan kolusi-kolusi dalam pengucuran dana bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) hingga kini tidak jelas juntrungannya. Begitu pula dugaan KKN mantan presiden Soeharto. Lalu muncul kasus Bulog dan dugaan KKN Ginandjar dalam kontrak Freeport. Dalam bidang kriminal, belum lagi tragedi kerusuhan, penjarahan, dan kekerasan seksual 12-14 Mei 1998 dituntaskan, muncul lagi masalah kriminal lain.
Krisis ekonomi. Prasyarat bagi pemulihan krisis ekonomi adalah pulihnya kepercayaan kepada pemerintah, baik bagi masyarakat dalam negeri maupun komunitas internasional. Selama krisis kepercayaan tidak bisa diatasi, jangan berharap keterpurukan ekonomi bisa dihambat. Ini karena upaya restrukturisasi perbankan, penurunan tingkat suku bunga bank untuk menggerakkan kembali roda ekonomi, capital inflow, stabilitas kurs rupiah, dan lain-lain tidak mungkin berhasil tanpa pemulihan kepercayaan lebih dulu.
Berdasarkan uraian di atas, menunda proses reformasi total hingga enam bulan mendatang bukanlah tindakan bijaksana. Yang pasti, semakin lama krisis kepemimpinan nasional berlangsung, semakin parah krisis lainnya, dan akhirnya akan semakin sulit bagi siapa pun yang kelak memimpin bangsa untuk mengatasinya.
Namun, mohon diingat pula, janganlah ada di antara Anda, juga tokoh nasional lainnya, yang terlalu percaya diri, merasa mampu mengatasi krisis mahadahsyat ini sendiri-sendiri. Karena itu, saya menyarankan agar Anda berdua beserta tokoh nasional lain seperti Gus Dur, Cak Nur, Bang Ali, dan Pak Wiranto segera menanggalkan egoisme kelompok, dan bertindaklah sebelum terlambat.
Sugriwan Soedarmo Pertamina Divisi Gas EP, Gd. Kwarnas Lt. 9 Jalan Merdeka Timur 6 Jakarta 10110
|