Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXIIIIIII/01 - 7 Desember 1998
   
Kolom

Obituari untuk Semanggi


Ignas Kleden

Pengamat sosial, tinggal di Jakarta

Demonstrasi mahasiswa Indonesia pada November 1998 sudah lebih dari sekadar gerakan moral. Peningkatan dan kesinambungan aksi unjuk rasa itu agaknya lebih tepat disebut sebagai getaran moral. Ia menjadi sasmita bahwa kesalahan dan kejahatan bisa selalu dimaafkan, tetapi tidak selalu bisa disembunyikan dengan terus-menerus mendiamkannya. Kebajikan mungkin menjadi besar kalau disembunyikan di balik pintu terkunci, tetapi kesalahan dan penyelewengan pastilah menjadi kecil kalau diakui di depan khalayak.

Memang, tidak mudah untuk memahami, tetapi selalu bisa disaksikan betapa anak-anak muda usia, lelaki dan perempuan, di tengah terik atau berhujan-hujan, meninggalkan kampus yang tenang, turun ke jalanan. Mereka, dengan kepala berikat dan dada yang terbuka untuk segala macam risiko, siap menyampaikan tuntutan dan bersikeras menyampaikannya. Apakah mereka memaksakan kehendak? Apakah mereka melecehkan konstitusi? Apakah mereka mutlak-mutlakan?

Ada banyak silang pendapat yang tetap akan sulit dikompromikan, bagaikan minyak dengan air. Namun, satu hal selalu terang-benderang untuk hati yang tidak terlalu rapat dikatupkan: pandangan pihak yang berada dalam kekuasaan pastilah berlainan, kalau bukan berkebalikan, dari mereka yang berada di luarnya. Seseorang dalam mobil berkaca gelap dengan AC yang menyemburkan hawa dingin akan melihat debu dan terik siang bagaikan panorama pegunungan yang nyaman. Tetapi mereka yang berdiri di pinggir jalan harus memicingkan mata menahan uap panas dari aspal yang mendidih. Kompromi persepsi terjadi kalau kaca mobil sedikit dibuka. Panas dan debu memang berembus masuk. Tetapi kita akhirnya tahu bahwa jalanan ternyata tidaklah seindah redup senja hari di pegunungan.

Tentu saja amat mudah menuduh para mahasiswa memaksakan kehendak. Tetapi mengapa gerangan tidak diingat bahwa sudah amat lama kita dipaksa untuk tidak berkehendak apa pun, dan pikiran yang sujud di hadapan kehendak penguasa sudah terlalu lama dianggap wajar? Mahasiswa datang dan memasang poster. Mereka seolah ingin meneriakkan bahwa berhala politik adalah dosa dan kita perlu mengakhirinya.

Apakah perbuatan itu melecehkan konstitusi? Amboi, janganlah meremehkan inteligensi publik. Seseorang yang buta ilmu hukum sekalipun akan paham bahwa hukum dan undang-undang harus dites pada dua tujuan. Di sisi yang satu ia harus menjamin ketertiban sambil di sisi lain ia harus menegakkan keadilan. Ketertiban tanpa keadilan adalah formalisme tanpa jiwa. Keadilan tanpa ketertiban pastilah mengundang kekerasan. Kalau pencuri karbon di kantor departemen atau pencuri arus listrik di perumahan begitu mudah ditemukan dan dihukum, apa pasalnya seseorang yang diduga keras telah bermain gila dengan kekuasaan negara, uang rakyat, dan milik masyarakatdemi investasi kesewenang-wenangan dan hobi keluarganyatidak segera dihadapkan ke pengadilan? Mengapa tetap ada percobaan untuk bermain sulap dengan akal-akalan legalistis agar dia imun terhadap tuntutan hukum apa pun?

Tes terhadap konstitusi adalah apakah undang undang dapat diberlakukan pertama-tama pada pihak yang besar kuasanya, dan bukannya pada mahasiswa yang tanpa kekuasaan apa pun. Hukum sudah terlalu lama menjadi alat kekuasaan untuk menjamin ketertiban menurut pengertian penguasa. Mahasiswa datang dan membawa kembang dengan catatan spidol di atas secarik kertas: "Tolonglah, kembalikan keadilan hukum kepada rakyat."

Mutlak-mutlakan? Mahasiswa bertahan dua-tiga minggu untuk dua-tiga tuntutan yang dianggap harus didengarkan. Lupakah kita bahwa selama dua-tiga dasawarsa kita diharuskan tunduk kepada kuasa yang dibuat mutlak oleh penguasa, baik dengan ancaman gebuk maupun dengan berbagai ketetapan undang-undang yang menentang hukum untuk membenarkan hampir segala kepentingan yang dapat atau tidak dapat dibayangkan oleh akal sehat? Rupanya, sebuah pikiran aneh sudah amat dalam merasuki budaya politik negeri ini: sejelek-jelek kesalahan penguasa masih lebih baik dari niat baik orang yang tak berkuasa. Mahasiswa datang dan menitipkan pesan: hanya pemerintahan yang bersih yang dapat terbuka, dan hanya pemerintahan yang terbuka yang dapat terjamin kebersihannya.

Anak-anak muda itu barangkali berlebihan untuk selalu disebut sebagai bunga bangsa (karena hampir tak pernah diberi kesempatan untuk mekar dan merekah kelopaknya). Tetapi kalau darah tumpah di Semanggi dan nyawa harus pergi tanpa pamit, mereka benar-benar menjelma menjadi gugur bunga. Belasan jiwa di antara dua ratusan juta penduduk barangkali akan diabaikan oleh statistik. Tetapi kalau Semanggi pada suatu hari menjadi kuburan, maka belasan bunga kemboja yang rontok di sana harus membuat kita menundukkan kepala serendah debu dan mengangkat doa setinggi langit.

Ketika lewat di sana, entah apa sebabnya, saya terkenang akan nisan di kubur Dante, penulis Divina Comedia, yang membuka pintu renaisans di Italia. "Di sini beristirahat Dante, putra Florens, seorang ibu yang tak mengenal cinta". Sejarah cukup sering berulang karena Dante dan Florens ternyata ada di mana-mana.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data