Ada Keajaiban Baru Setelah debu Busang luruh, pemerintah siap menawarkan lagi kawasan tambang itu. |
Emas yang tiba-tiba hilang, menurut mitologi suku Dayak Kenyah, bukanlah soal aneh. Butir emas yang mereka dulangdari sungai-sungai secara tradisionalsering berubah wujud menjadi batu atau pasir tanpa nilai, akibat niat jahat.
Sekelompok ahli geologi Australia yang menerobos hutan Kalimantan pada 1980-an mungkin tak pernah mendengar cerita seperti itu. Demikian pula Bre-X. Melihat orang Dayak menapis emas dari sungai-sungai, mereka hanya yakin bahwa kawasan itu kemungkinan besar memiliki deposit dalam jumlah banyak. Dari situlah Busang kemudian "ditemukan".
Wilayah eksplorasi Busang terhampar pada lahan sekitar 15 ribu hektare, nun jauh di pedalaman, yang semula berpenghunikan berbagai macam kera dan beberapa ratus orang Dayak Kenyah, yang hidup dari berburu babi dan menangkap ikan di Sungai Busang. Kota besar terdekat adalah Tanahtenggarong, sekitar 150 kilometer, bekas wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai, kerajaan pertama di Indonesia. Lapangan terbang terdekat ada di Samarinda, sekitar 360 kilometer.
Jalan darat hampir mustahil ditembus. Hutan terlalu lebat, belantaranya masih perawan, dan dihuni berbagai binatang buas, dari macan sampai kobra, dan juga nyamuk ganas penyebar malaria yang mematikan. Orang harus memanfaatkan Sungai Mahakam: menempuh 8 jam dengan speedboat sepanjang Sungai Mahakam, lalu berjalan kaki 30 kilometer menembus hutan.
Kelak, keterpencilan kawasan ini menjadi dalih banyak orang untuk cuci tangan dari skandal, dengan alasan kemungkinan mengirimkan tim independen sangat lemah. Data eksplorasi dari Busang telah mengecoh lembaga-lembaga keuangan besar di Kanada dan Amerikadari otoritas pengawas saham di Toronto Stock Exchange hingga NASDAQ, dari Lehman Brothers, Fidelity, hingga JP Morgan. Saham Bre-X menjadi "Cinderella" yang mitos dan dongengnya tak pernah dijernihkan.
Hak eksplorasi kawasan ini pertama-tama, pada 1987, dimiliki PT Westralian Atan Minerals (WAM). Mereka menemukan emas tapi tak berhasil meyakinkan lembaga keuangan Australia untuk mengucurkan modal; tak cukup banyak emas yang membuatnya layak ditambang secara ekonomis.
Banyak ahli geologi dan Westralian Resources Project menyerah dan angkat kaki. Namun, John Felderhof, Mike de Guzman, dan kawan-kawan dari Filipina, meski mereka terancam kehilangan kerja, tak mau pulang dengan hampa.
Adalah berkat bujukan Felderhof, "bos" Bre-X David Walsh membeli Busang I pada 1993, lalu Busang II dan III, dua tahun berturut-turut, yang diyakini memiliki kandungan emas lebih banyak. Kemudian mengalirlah kabar-kabar dari Busang menuju Toronto tentang hasil eksplorasi yang kian hari kian tinggidari hanya beberapa juta ons menjadi 200 juta ons. Dan semuanya terbukti gombal belaka.
Namun, gairah di Toronto telah membuat Busang mekar. Walsh percaya benar dengan masa depannya, dan menyuntikkan banyak dana ke situ.
Dari udara, kamp Bre-X di Busang tampak seperti sebuah pulau peradaban di tengah lautan belantara. Di tengah rimba itu, menyembul sebidang tanah yang telah diratakan. Ada helipad di situ, antena parabola, dan berbagai kendaraan proyek, baik truk maupun jip. Selain itu, ada bungalo nyaman buat eksekutif senior, yang dilengkapi komputer dan kulkas. Karyawannya, sebanyak 370 orang, tinggal di rumah-rumah panjang dengan atap berwarna putih.
Dayak Kenyah menyebut desa baru mereka dengan Mekar Baru. Mereka membangun jalan, toko, lapangan sepak bola, sekolah dasar, serta dua gereja, satu Katolik dan satu lagi Protestan, di tengah kerimbunan pohon palem dan hutan yang menyentuh pinggir desa. Orang Dayak pun mulai membeli generator listrik pribadi, parabola, dan jendela kaca. Kabel listrik bahkan telah menghubungkan setiap rumah, dengan harapan listriknya akan disuplai oleh operator tambang.
Long Tesak, sebuah kota kecil terdekat, berubah menjadi pusat perdagangan. Kedai-kedai yang dulu hanya menjual makanan pokok dan bumbu-bumbuan mulai menjajakan Coca-Cola, bir Bintang, Marlboro, dan Close-Up. Rakit kayu disaingi speedboat yang membawa bahan bakar dan perlengkapan ke Busang. Anak-anak muda kebagian rezeki dengan mengangkut barang menuju Busang. Belum lagi yang bisa bekerja sebagai tukang masak, pembersih, buruh, dan kalau beruntung menjadi drilleryang bisa meraup sampai US$ 450 sebulan.
Setahun yang gegap-gempita kemudian padam bersama bangkrutnya Bre-X. Tapi akankah Busang mati selamanya?
Direktur Jenderal Pertambangan Umum Rozik B. Soetjipto masih berharap bisa menawarkan kawasan tambang itu kepada pengusaha baru. "Tentu saja jika kasus lamanya sudah dianggap selesai," katanya kepada Agus Hidayat dari TEMPO pekan silam, "Kami kini tengah menunggu kepastian dari kepolisian Indonesia dan Kanada."
Penyidikan awal Freeport dan Strathcona (konsultan independen dari Kanada) memang telah mematikan harapan adanya emas di situ. Namun, Rozik tidak pesimistis. "Namanya juga penyidikan awal," katanya, "Secara statistik, hasil sebenarnya baru bisa dipastikan setelah dua atau tiga kali penyidikan."
Jadi? Bersiaplah dengan kejutan baru.
|