Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXIIIIIII/01 - 7 Desember 1998
   
Investigasi

Rezeki Si Penjelajah

John Felderhof kemungkinan besar justru otak dari segala otak dalam skandal Busang.

Toronto, pekan kedua Maret 1997. Ruang pesta Hotel Park Royal penuh sesak oleh para undangan yang serba wangi dan rapi. Makanan dan sedap-sedapan terhidang berlimpah. Anggur mengalir, sampanye dituang. Malam itu ada toast untuk seorang geolog yang oleh komunitas pertambangan Kanada dirasakan patut dihargai sebagai Prospector of The Year 1997: John Felderhof.

Kawan-kawannya agak sulit membayangkan pria yang gemar merambah hutan dan sungai itu beralih menjadi selebriti dalam balutan tuksedo. Toh, itulah yang terjadi. Ayah tiga anak itu dilanda hoki besar setelah tim geolog yang dikepalainya mengumumkan penemuan emas besar-besaran di Busang, Kalimantan Timur. Akibatnya? Koran-koran Kanada menulis bahwa kepala tim geolog Busang dan Direktur Operasional Bre-X Indonesia tersebut meraup tak kurang dari US$ 29 juta.

Sebetulnya, John Felderhof sudah 30 tahun lebih keluar-masuk hutan mengebor tambang sebelum naik daun pada 1997 lalu. Menjadi geolog bukan cita-cita awalnya. Selepas SMU, ia ingin belajar sains dan mengikuti jejak ayahnya menjadi dokter. Entah kenapa, ia kemudian pindah ke Fakultas Pertambangan Dalhousie University, Nova Scotia, Kanada.

John Felderhof berdarah Belanda tulen. Ia anak pertama dari 12 bersaudara. Pada usia 14 tahun, ayahnya memboyong mereka sekeluarga ke New Glasgow, Nova Scotia. John populer sejak remaja. Di SMU Glasgow, namanya beken gara-gara aktif di bidang olahraga dan menjadi kapten tim rugbi. Selepas studi di Dalhousie University, Nova Scotia, ia menjajal nasib sebagai geolog. Hidupnya berpindah-pindah dari Kanada, Afrika Selatan, Australia, hingga Indonesia. Namanya melambung tatkala ia berhasil menemukan Ok Tedi, tambang tembaga yang masyhur di Papua Nugini.

Namun, kemasyhuran di Papua Nugini tak diiringi oleh kekayaan. Baru 21 tahun kemudian, kekayaan itu datang tatkala ia berkenalan dengan David Walsh, yang datang bersama dengan teman lama Felderhof, Michael de Guzman. Dalam jamuan makan malam di Hotel Sari Pasifik itu, Walsh mulai membeberkan soal Busang. Makan malam berakhir dengan sukses: de Guzman dan Felderhof setuju merogoh kantong untuk "bantingan modal" saham Bre-X.

Douglas Goold dan Andrew Willis, dalam bukunya The Bre-X Fraud, menulis beberapa sisi yang berbeda tentang John Felderhof. Ada yang menyebutnya sebagai hedonis sejati yang lebih suka menenggak bir di bar selama berjam-jam sembari membual tentang kehebatannya sebagai geolog, ketimbang menyupervisi anak buahnya. Ia juga disebut-sebut sebagai tokoh paling licik di balik seluruh permainan Bre-X.

Sedangkan kawan-kawan dekatnya menggambarkan Felderhof sebagai sosok yang sangat cinta petualangan. "Ia tangguh menjelajah sungai dan hutan selama berbulan-bulan hanya dengan ransel di punggung," ujar seorang kenalannya. Di setiap dusun, ia menyantap apa saja yang disajikan penduduk, sebelum meneruskan perjalanan menembus hutan, gunung, kali, dan rawa. Ia juga kuat menahan serangan malaria dan hawa tropis yang sering membawa demam.

Kendati tergila-gila pada tambang, ada masa saat Felderhof bosan menjadi geolog. Tahun 1992 ia bertani kacang di Australia. Di sela-sela menyiangi kebun, ia kerap berunding dengan beberapa kawan dekatnyasesama geologuntuk membuka usaha pariwisata dan udang di Indonesia. Namun darah geolog rupanya terlalu deras mengalir di tubuh Felderhof.

Ketika situasi bisnis pertambangan di Indonesia mulai membaik, ia mendadak lupa pada cita-citanya menjadi petani. Ia buru-buru kembali ke Indonesia, bekerja sebagai konsultan yang mengevaluasi kadar besi dan emas. Di situ ia menemukan berbagai laporan yang prospeknya sangat menarik tapi tak dilirik pebisnis tambang.

Nalurinya menjelajah kembali tergerak. Ia ingin turun lagi ke lapangan membuat terobosan dalam penemuan mineral. Niat itu disambut Davis Walsh dengan menawarkan proyek Busang. Kerja sama mereka terbukti sukses. Si penjelajah sungai menjadi geolog ternama sekaligus hartawan baru. Namun kisah John Felderhof tampaknya belum akan berakhir di sini.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data