Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXIIIIIII/01 - 7 Desember 1998
   
Investigasi

Pertaruhan Sang Pialang

Busang menyelamatkan David Walsh dari kebangkrutan, lalu membenamkannya lagi ke dasar sumur sang nasib.

Para pialang saham, konon, hidup dengan debar jantung yang terlalu cepat, didera oleh ketamakan dan kepanikan. Greed and Fear. Namun, ketika David Walsh meninggal di mansionnya yang indah di pesisir Bahamasebuah pulau di kawasan Pasifikpada 4 Juni 1998, penyebabnya bukanlah harga saham. Para dokter di Doctors Hospital, Nassau, memastikan, riwayat pria gendut yang gemar rokok dan minuman keras itu tamat oleh stroke berat, yang menyerang empat hari sebelumnya.

Hanya sedikit yang menangisi kepergian David Walsh: Jeanette dan kedua putranya, Sean dan Brett. Namun, banyak sekali yang "kehilangan" pria Kanada berusia 52 tahun itu. Bedanya, rasa kehilangan mereka diluapkan dalam bentuk penyesalan dan tuntutan kepada bekas pialang dan promotor saham Bre-X ini.

Permainan saham Bre-X memang telah menyeret banyak kreditur ke dalam kerugian dan kebangkrutan. Jumlahnya bervariasi dari ribuan hingga jutaan dolar. Tentu saja, itu gara-gara informasi "emas Busang" Bre-X yang kemudian terbukti tak lebih dari pepesan kosong. Tak mengherankan, kepada Walsh, pendiri dan Direktur Bre-X-lah segala tuntutan dan sumpah serapah dialamatkan. Juga ancaman bom.

Promotor saham ini lahir dan dibesarkan di lingkungan pialang. Ayah dan kakeknyakeluarga Walsh menempati kawasan elite di Westmount, Montrealbekerja sebagai pialang. Walsh kemudian meneruskan profesi keluarga tersebut. Ia memulai dengan perusahaan kecil yang mencoba mengadu untung di sana-sini. Kehidupan ekonominya sangat pas-pasan. Pada 1993, ia dan istrinya, Jeanette, kena perkara gara-gara tak mampu membayar bunga 15 kartu kredit sebesar US$ 59.000. Padahal, penghasilan Walsh ketika itu kurang dari US$ 1.000 per bulan. Kehidupan serba-kekurangan ini makin membulatkan niat Walsh untuk membuat "terobosan penghasilan"

Terobosan ini memang terjadi ketika Bre-X mengumumkan menemukan "gudang emas" di Busang, Kalimantan Timur. Bulan Maret 1995, saham Bre-Xyang tadinya bahkan tak dilirik pada level di bawah US$ 50 senmerangkak ke nilai US$ 2,05. Empat bulan kemudian, melejit ke US$ 14,87. Ini grebrakan pertama setelah Busang membuat pengumuman awal tentang timbunan emas. Angka ini terus meroket menjadi US$ 200, lalu mencapai puncaknya US$ 286,50 pada akhir September 1996.

Peran Presiden Bre-X sekaligus promotor saham ini besar sekali dalam meroketkan harga saham. Ia tahu bagaimana menguangkan informasi "harta karun Busang", yang dikirim Mike de Guzman dari belantara Kalimantan, di lantai bursa. Media-media terbitan Kanada menuliskan, hasil penjualan saham Bre-X memberikan rezeki sebesar US$ 20 juta kepada Walsh.

Namun bulan madu itu tak berlangsung lama. Tanggal 19 Maret 1997, setelah ada kabar Mike de Guzman bunuh diri, menyusul berita emas Busang yang fiktif, nilai saham Bre-X langsung melorot. Begitu hebat kejatuhan ini, sampai-sampai Bursa Efek Toronto mencoret penjualan saham Bre-X dari lantainya.

Walsh lalu melakukan aksi gerak cepat. Ia memboyong keluarganya ke Bahama. Namun, di negeri berhawa mediteranian ini pun, Dewi Fortuna tetap meninggalkannya. Pengadilan Tinggi Nassau membekukan aset Walsh di seluruh Bahamadiperkirakan sebesar US$ 21 jutaatas permintaan Deloitte & Touche. Lembaga ini mewakili kepentingan para kreditur Bre-X yang menuntut tanggung jawab Walsh atas bangkrutnya perusahaan tersebut.

Dalam sebuah wawancara, satu pekan sebelum meninggal, Walsh tetap menolak terlibat dalam manipulasi sample eksplorasi Busang yang menyebabkan perkiraan depositnya menjadi besar. Kesaksian itu juga dikuatkan oleh penyidikan independen yang dipimpin oleh seorang mantan polisi bereputasi bagus.

Begitulah. De Guzman mati mengenaskan di hutan. Walsh mati di rumah sakit kelas satu. Namun, istrinya tak mampu membayar biaya rumah sakit di Nassau dan pemakaman di Montreal sebesar US$ 39.233,85. Pertaruhan hidup itu tampaknya terlalu berat, bahkan untuk jantung seorang pialang saham sekelas David Walsh.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data