Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXIIIIIII/01 - 7 Desember 1998
   
Investigasi

Tragedi di Akhir Pesta

Misteri kematian ahli geologi Bre-X Mike de Guzman. Bunuh diri atau dibunuh?

Michael de Guzman bukan "sekadar" geolog yang gemar melewatkan malam-malam sepi di bar karaoke dengan melantunkan nomor-nomor pop Frank Sinatra atau Bee Gees. Namanya serta-merta membawa ingatan kita pada tragedi dahsyat bisnis pertambangan antara 1996 dan 1997, pada skandal keuangan paling edan sepanjang sejarah, pada kejatuhan harga saham superlaris di berbagai bursa dunia menuju titik nadir.

Dan pada betapa cepatnya sebuah garis nasibbila jalan nasib adalah sesuatu yang boleh diyakinimengubah perjalanan hidup Mike, nama kecilnya.

Pekan kedua Maret 1997, dalam sebuah pesta tahunan komunitas pertambangan Prospectors and Developers Association of Canada, ia dielu-elukan sebagai selebriti. Mata dan telinga undangan di Park Royalhotel kalangan ternama di KanadaToronto itu seolah terpaku pada bibir De Guzman. "Hitungan emas di lokasi pertambangan di Busang sana bukan hanya 100 juta ons, tapi 200 juta," ujarnya tegas. Hadirin ternganga, mengangguk-angguk, lalu tercenung mengangankan hutan belantara di sebuah pulau tropis bernama Borneo dengan kandungan emas yang tak tepermanai harganya.

Tiba-tiba, di tengah gelak tawa dan aliran sampanye, telepon berdering mencari De Guzman. Suara penuh amarah di seberang Pasifik menanyakan: ke mana berjuta-juta ton emas yang diuar-uarkan De Guzman dan kawan-kawan ke seluruh dunia itu? Kemarahan ini dilontarkan David Potter, Kepala Geolog Freeport-McMoran Cooper & Gold Inc.

Maklum bila Potter naik darah. McMoran ikut menanam modal untuk penambangan emas Bre-X di Busang. Sebagai "ahli emas", tim geolog McMoran tentu tidak diam saja. Mereka berikhtiar mengebor tanah untuk membuktikan kehadiran "monster emas" yang dijanjikan De Guzman dan timnya. Hasilnya? Nihil. Maka, permintaan Potter kepada De Guzman cuma satu: kembali ke Busang dan jelaskan semuanya.

De Guzman memang kembali sepekan setelah itu. Pada 18 Maret, ia terbang dari Jakarta ke Balikpapan. Di sana, ia menginap di sebuah hotel sederhana bersama anak buahnya, Rudy Vega, sesama orang Filipina. Keduanya bersantap di restoran setempat. Keesokan harinya, Rudy mengantarnya ke bandar udara. Sebuah pesawat carter Aloutte 3, buatan Prancis, milik Indonesia Air Transport (IAT), sudah menunggu di landasan bersama Kapten Edi Tursono dan mekanik penerbangan Adrian Milan.

Edi, seorang letnan penerbang, segera membubungkan pesawat carter itu melewati hutan lebat menuju Busang, Kalimantan Timur. Pukul 11.00 waktu setempatsekitar 17 menit setelah lepas landasEdi dan Adrian merasakan embusan keras udara dari belakang. Saat itulah keduanya sadar penumpang satu-satunya itu sudah hilang, menyisakan jendela yang masih terbuka. Diperkirakan, De Guzman terjun bebas dari ketinggian 240 meter, saat pesawat melaju pada kecepatan 150 kilometer per jam.

Empat hari setelah polisi sia-sia menyisir hutan, jenazah ayah tujuh anak ini ditemukan dua orang Dayak pegawai Bre-X. Kematian tersebut ternyata melahirkan debat baru tentang De Guzman. Ada yang bilang jenazah itu entah siapa, dan De Guzman yang sesungguhnya sudah melenggang ke Cayman Island dengan tas yang disesaki dolar.

Namun, Jojo de Guzman, adik Michael nomor sepuluh, menegaskan jasad itu milik abangnya. "Jika Anda sudah hidup bersama seseorang selama 38 tahun, kenali dia lewat aroma tubuh," ujar Jojo. Hasil autopsi di Indonesia dan Filipina juga memastikan bahwa tubuh itu milik De Guzman adanya.

Yang agak meragukan adalah surat wasiat yang ditinggalkannya, sepanjang delapan halaman. Dalam surat itu, ia tak menyebut kontroversi Busang sebagai alasan berat yang mungkin akan ditanggungnya, melainkan penyakit hepatitis-B. Padahal, ini bukan penyakit "final". Surat itu juga menuliskan secara salah nama istrinya: Theresaseharusnya Teresa. Satu lagi: bagian dari surat yang diyakini ditulis di atas helikopter terlalu rapi. Dan mungkinkah seorang De Guzman membuka pintu pesawat yang terbang berkecepatan tinggi tanpa diketahui dua awaknya?

Mewakili keluarga dan teman-teman almarhum, Jojo kemudian menyampaikan kecurigaan bahwa Mike dibunuh pihak tertentu. Alasannya? "Bunuh diri bukan kebiasaan keluarga kami maupun orang Filipina," ujarnya kepada pers tak lama setelah kejadian itu.

Jojo juga mengatakan abangnya diculik sekelompok orang di Jakarta sekitar Februari 1997. Kejadian itu berlangsung tak lama setelah hasil perundingan Bre-X dan Bob Hasanyang menanam saham di "emas Busang" atas nama PT Nusamba dan beberapa yayasan mantan presiden Soehartodiumumkan pada 17 Februari. Menurut Jojo, abangnya banyak membicarakan soal penculikan itu hingga menjelang saat meninggalnya.

Di luar kematiannya yang kontroversial, hidup De Guzman juga penuh warna. Di antaranya, ia memperistri empat wanita. Istri pertamanya, Teresa, dinikahinya secara Katolik dan memberinya enam anak. Ia lalu kawin lagi pada 1990, dengan seorang perempuan Bogor. Pada 1995, ia masuk Islam, lalu memperistri Susasi Mawengkang, gadis Manado. Perkawinan ini menghasilkan satu anak. Istri terakhirnya Lilis, berasal dari Samarinda. Keduanya menikah pada 1995 dalam sebuah upacara Protestan.

Sampai hari matinya, De Guzman dengan sangat teliti merahasiakan hubungannya dengan setiap istrinya. Banyak kawannya menganggapnya beruntung karena sukses di lapangan dan di rumah tangga, dengan empat istri yang selalu menanti.

Namun, Douglas Goold dan Andrew Willis, penulis The Bre-X Fraud (McCelland & Stewart Inc., The Canadian Publishers, 1997), agaknya tidak sependapat. Keduanya menulis, De Guzman sesungguhnya pribadi yang kesepian. "Tak seorang pun dari empat istri itu sungguh-sungguh mencintainya," tulis keduanya, mengutip ujaran seorang teman dekat almarhum.

Mike de Guzman lahir dari sebuah keluarga miskin di Quezon City. Ia anak nomor lima dari 12 bersaudara. Kendati begitu, pada 1970-an ia sempat populer di kalangan ABG (anak baru gede) Manila karena prestasinya sebagai bintang basket. Prestasi itu kemudian berakhir ketika lutut kirinya dihajar sekelompok preman pada suatu malam sepulang latihan.

Selepas studi di Adamson, ia bergabung dengan Benguet Inc.sebuah perusahaan tambang Filipinapada Juli 1989 dengan gaji 198,80 peso per minggu (US$ 10 untuk ukuran pertengahan 1997). "Mike memang bermimpi membuat penemuan raksasa di bidang mineral," ujar Roy Llorca, sesama geolog asal Filipina. Impiannya terwujud setelah ia bertemu dengan John Felderhof dan membuka bisnis di Indonesia. Mereka sangat cocok sebagai orang lapangan. Keduanya juga yakin suatu ketika akan memecahkan rekor penemuan mineral.

Rekor itu memang pecah di Busang pada 1996dan mengalirkan uang sekaligus ketenaran kepada dua sekawan ini. Komunitas pertambangan Kanada memberikan gelar prospector of the year pada 1997 kepada John Felderhof. Sementara itu, di Filipina, Geological Society of the Philippines mencalonkan De Guzman sebagai penerima anugerah tahunan 1997.

Soal kekayaan? Entah berapa juta dolar yang masuk ke kantong De Guzman. Gaya hidupnya lantas berubah sesuai dengan kemapanan ekonomi: dari membeli vila pribadi, rumah mewah, dan jam tangan Rolex, hingga membantu anak-anak miskin di Quezon City. Ia juga banyak bepergian keliling dunia, untuk bisnisdan sesekali pelesir.

De Guzman, sepertinya, tidak lebih dari pria beruntung yang mampu menggapai impian. Ini setidaknya sampai pesta di Hotel Park Royal pertengahan Maret 1997 itu. Lalu, sebuah telepon berdering mencarinya. Namun, dering itu agaknya terlalu keras untuk ditanggung. Sepekan setelah itu, ia terjun bebas di hutan Kalimantan. Sebuah kematian yang sunyi dan tragis. Sebuah kematian yang masih terus menimbulkan tanda tanya. Sampai kini.

Di sebuah bar pada malam sebelum kematiannya, ia menyanyikan lagu Frank Sinatra favoritnya, My Way. Tapi benarkah sengaja terjun dari helikopter merupakan "jalan" yang memang dipilihnya untuk mati?


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data