Mereka yang Berebut Pepesan Kosong Dari politisi PDI hingga mantan presiden Amerika Serikat. Dari ahli geologi lapangan hingga Cendana. |
Aktor Asing: Mich Siapa dalang, siapa wayang.ael de Guzman
Ahli geologi Bre-X asal Filipina, salah satu "penemu" tambang Busang yang dijuluki "dinamo hidup", saking kerasnya bekerja. Kegemparan terjadi ketika pekerja keras dan playboy ini jatuh dari helikopter dalam perjalanan ke lokasi tambang. Pilot dan mekanik helikopter menyatakan, De Guzman sengaja terjun. Polisi juga menemukan "catatan bunuh diri". Namun peristiwa sesungguhnya masih misterius. De Guzman dikenal populis terhadap bawahannya. Soepardi, satpam di rumahnya di Jakartarumah yang ia sewa US$ 2.500 per bulan di kawasan Kemangmengenalnya sebagai orang yang baik dan ramah. "Dia sering mengantarkan tukang kebun kami beserta anaknya ke kolam renang ketika liburan," katanya kepada Setiyardi dari TEMPO, pekan lalu.
John Felderhof
Pejabat senior Bre-X untuk eksplorasi di Indonesia, "penemu" lain tambang Busang. Lahir di Negeri Belanda, ahli geologi ini berkeliling dunia memburu emas. Bertemu David Walsh pertama kali pada 1983, Felderhof memperkenalkan Busang dan berhasil meyakinkannya untuk menjadi promotor Bre-X dalam memikat investor di bursa saham Kanada.
David Walsh
Presiden Komisaris merangkap Direktur Utama Bre-X. Sempat hampir bangkrut, promotor saham ini jadi kaya raya dengan menjual saham Bre-X ketika harganya sangat tinggi. Kantornya di Calgary, Propinsi Alberta, Kanada, tapi bermukim di Nassau, Bahama. Sampai akhir hidupnya (meninggal pada Juni 1998), dia bersikeras Bre-X bisa membuktikan pihaknya benar dalam soal kandungan emas.
Warren Beckwith
Pemilik PT Westralian Atan Minerals, perusahaan tambang kecil dari Australia. Bersama tokoh Partai Demokrasi Indonesia, Jusuf Merukh, dan pengusaha asal Banjar (Kalimantan) Haji Syakerani, Beckwith adalah penguasa awal Busang sebelum dibeli oleh Bre-X pada 1993. Westralian memiliki Surat Izin Penyelidikan Pendahuluan. Izin itu pula yang dipakai Bre-X. Bersama Merukh, Beckwith menggugat Bre-X karena merasa ditinggalkan dalam penguasaan lokasi tambang lain, masih di Busang.
James Moffet
Presiden Komisaris dan Direktur Utama Freeport McMoran Copper and Gold. Raksasa tambang dari AS ini digaet Bob Hasan masuk ke Busang. Dalam proses penjajakan awal, Freeport menemukan bahwa deposit Busang tidak seperti yang diklaim oleh Bre-X, bahkan terlalu kecil sehingga tidak ekonomis untuk ditambang.
Peter Munk
Presiden Komisaris Barrick Gold Corp, raksasa perusahaan tambang Kanada. Ia bersaing dengan John Willson dari Placer Domeperusahaan tambang Kanada nomor 2untuk "menemani" Bre-X di Busang. Barrick memanfaatkan lobi tingkat tinggi menuju Soeharto. Namun, baik Barrick maupun Placer harus gigit jari ketika Freeport sukses, lewat Bob Hasan.
George Bush
Mantan presiden Amerika Serikat. Bersama mantan PM Kanada Bill Mulroney, ia menjadi dewan penasihat internasional Barrick. Pembantunya membenarkan bahwa Bush pernah menulis "surat pribadi antar-teman" kepada mantan presiden Soeharto ketika Barrick mengincar posisi di Busang.
Bob Hasan
Setelah Ibu Tien meninggal, "Raja Hutan" yang dekat dengan Soeharto ini dikenal sebagai penengah di antara anak-anak Presiden. Dia mengendus "bau emas" setelah mencoba menengahi persaingan Siti Hardiyanti Rukmana dan Sigit Harjojudanto di Busang. Dia sukses meyakinkan Soeharto untuk memasukkan Nusamba dalam "perkawinan" antara Bre-X dengan Freeportyang berpengalaman dalam bidang ini. Mereka sekaligus menyingkirkan Barrick dan Placer Dome.
Soeharto
Sebagai presiden, ia menandatangani setiap kontrak karya penambangan oleh perusahaan asing. Disadari atau tidak, ia telah membuat keputusan yang menguntungkan diri sendiri. Nusamba berhasil meraup 30 persen kepemilikan Busang, tanpa keluar uang sepeser pun. Perusahaan ini dimiliki oleh tiga yayasan Soeharto sendiri (80 persen).
Sigit Harjojudanto
Bre-X memintanya untuk "menaklukkan" Mentamben I.B. Sudjana dan melobi Presiden. Imbalan yang ditawarkan: "honor konsultasi" US$ 40 juta dan 10 persen kepemilikan Busang. Belakangan, ia menemukan dirinya bersaing dengan saudara perempuannya.
Siti Hardiyanti Rukmana
Barrick, yang lebih berpengalaman, merasuki Cendana lewat Tutut. Peter Munk menawari Grup Citra, milik Tutut, kontrak pembangunan kompleks tambang Busang jika berhasil membujuk ayahnya menyetujui perkawinan Barrick dengan Bre-X. Tutut tertarik untuk mendapatkan lebih besar ketika tahu Sigit memperoleh tawaran yang begitu menggiurkan dari Bre-X.
Jusuf Merukh
Politisi Partai Demokrasi Indonesia ini adalah juga pemilik Kraeng Geusi. Bersama pengusaha dari Banjar, Haji Syakerani, Merukh adalah partner lokal PT Westralian yang masing-masing menguasai 10 persen kepemilikan Busang. Kepemilikan itu berlanjut setelah Busang dibeli Bre-X. Belakangan, Merukh menggugat Bre-X dan Syakerani yang berpatungan memperluas wilayah tambang (Busang II dan III) tanpa mengajaknya. Nama ini "hilang" setelah Cendana masuk.
I.B. Sudjana
Ia menjabat Menteri Pertambangan dan Energi ketika kasus ini merebak. Tutut, atas nama Barrick, berhasil membujuknya mencabut perpanjangan izin eksplorasi Bre-X yang dikeluarkan oleh Dirjen Pertambangan Umum Kuntoro Mangkusubroto. Tak hanya Tutut yang menggodanya. Barrick rupanya juga memanfaatkan Dharma Yoga, putra Menteri Sudjana. Untuk memuluskan semua ini, Sudjana (dengan persetujuan Istana) menyingkirkan Kuntoro. Ironis, Kuntoro-lah yang belakangan masuk ke kabinet Soeharto, menggantikan Sudjana.
|