Mengerat Busang di Tapos Bre-X menggaet Sigit. Barrick merangkul Tutut. Pemenangnya adalah Bob Hasan, dan tentu saja Soeharto. |
Apa yang tampak tidak selalu apa yang sesungguhnya. "Ya" bisa berarti "tidak". Sopan santun dan kelembutan bisa menyembunyikan keris yang siap menancap. Itulah filsafat wayang yang begitu dominan dalam gaya pemerintahan Soeharto. Itulah pula pelajaran pahit bagi Barrick Corp.raksasa pertambangan Kanada. Sempat sangat meyakinkan, Barrick tumbang dalam persaingan memperebutkan Busang. Freeportraksasa lain dari Amerikaterbukti sudah sangat mafhum akan "tradisi" itu, dan memenangkannya.
Pahit? Barrick belakangan mungkin bersyukur tidak harus menahan malu ketika terbukti emas Busang kosong belaka. Namun, sampai awal 1997, siapa yang beranidan siapmenelan kekecewaan dengan meragukan temuan akbar itu? Dan meski Bre-X sendiri belum beroperasi, bahkan belum jelas benar apakah bisa memperoleh izin penambangan, ia sudah memperkaya banyak orang dalam jumlah ratusan juta dolaryakni para investor dan pialang yang menunggang grafik saham Bre-X menuju langit.
Barrick bahkan tak bisa menyembunyikan nafsunya. Adalah Peter Munk sendiri, Presiden Direktur Barrick, yang sempat datang ke sini menemui Siti Hardiyanti Rukmana. Munk bukanlah orang sembarangan. Elegan, jet-set, dia cukup ternama untuk masuk dalam "Lingkaran Davos", forum diskusi para menteri keuangan dan gubernur bank sentral terkemuka dunia.
Munk menyebut George Bush dan Bill Mulroney sebagai pendukung Barrick. Kedua tokoh itudi samping Senator Amerika Howard Baker dan mantan gubernur Bundesbank, Karl Otto Pohladalah anggota dewan penasihat internasional Barrick. Namun, karena Munk tak menyebut jabatan yang pernah mereka pegang, Tutut tampaknya hanya menduga Bush dan Mulroney sebagai pengusaha yang sangat berminat dalam bisnis emas.
Belakangan terbukti, adalah Bush sendirimantan presiden Amerika Serikatyang merasa perlu menulis surat kepada Soeharto. Mulroneymantan PM Kanadamelakukan hal serupa kepada Mentamben I.B. Sudjana. The Bre-X Fraud menulis: baik Bush maupun Mulroney adalah bagian aktif dari manuver Barrick dalam memperebutkan kue Busang.
Dengan Tutut, Sudjana, dan Soeharto dalam genggamannya, Barrick berhasil menekan Dirjen Pertambangan Umum Kuntoro Mangkusubroto untuk mencabut izin Bre-X. Dan, pada November 1996, bahkan Barrick bisa melancarkan "kudeta", tanpa Bre-X bisa berkutik: pemerintah Indonesia "menyarankan" agar Bre-X membentuk perusahaan patungan dengan Barrick. Komposisi saham yang disarankan lebih merupakan pemerkosaan ketimbang perkawinan: Barrick 75persen dan Bre-X 25 persen.
Semua orang sepakat, Barrick akan segera mendapatkan Busang. Itulah pula kemenangan Tutut atas Sigit Harjojudantoputra Soeharto yang disewa Bre-X.
Pada Desember, perayaan Natal Barrick di pusat kota Toronto tampak lebih meriah dengan aroma kemenangan. Namun, Munk melupakan dalil khas Indonesia: "mereka yang tampak berkuasa, bisa jadi tak berkuasa sama sekali" dan "apa yang tampak (bahwa Soeharto) sudah ada dalam genggaman, tidaklah demikian halnya."
"Kawin paksa" itu mengundang kontroversi lebih besar. Kecaman terhadap Barrick datang dari pengamat asing maupun domestik. Dan Soeharto tak ingin citra Indonesia kian buruk oleh persaingan yang melibatkan anak-anaknya di bawah sorotan internasional.
Masuklah Bob Hasan. Ada beberapa spekulasi tentang turunnya Bob ke kancah pertempuran Busang. Pertama, dia dibujuk Sigit (Bob berkongsi dengan Sigit di Nusamba, dan sama-sama kurang menyukai Tutut). Kedua, Soeharto-lah yang memanggilnya untuk menengahi pertengkaran anak-anaknya. Dan, ketiga, Bob sendiri memang tergoda aroma emas Busang itu, mengingat dia sudah pula secara diam-diam membeli saham dua perusahaan partner lokal Bre-X.
Semua spekulasi menjadi tidak penting setelah, belakangan, krisis keluarga "bisa diselesaikan". Dalam sebuah pertemuan dengan Soeharto di Tapos, Bob membawa serta Jim Bob Moffett dari Freeport. Moffett adalah nama yang lama dikenal Soeharto. Keduanya berhasil meyakinkan Soeharto bahwa Bre-X adalah perusahaan hijau dalam pertambangan, khususnya jika dihadapkan dengan Freeport yang telah lama malang-melintang di Indonesia. Juga, bahwa Nusamba harus turut serta terjun di Busang (yayasan-yayasan Soeharto menguasai 80 persen saham Nusamba, 10 persen lainnya milik Bob).
Rumus baru telah ditemukan. Dan, kali ini, Barrick-lah yang harus menelan kudeta. Pemerintah mengumumkan pada Februari 1997 bahwa penguasaan Busang adalah sebagai berikut: 45 persen Bre-X, 15 persen Freeport, 30 persen Nusamba, dan 10 persen Pemerintah Indonesia. Sigit, yang memiliki 10 persen Nusamba, berhasil membuat revans atas Tutut.
Dan, orang pun tahu, siapa dalang dan siapa yang harus menjadi wayang pada zaman Soeharto.
|