Lambat tapi Enak Diklik Jumlah pelanggan internet di Indonesia terus merayap naik. Tapi perusahaan penyedia jasa internet Indonesia justru terancam ambruk. |
Seorang pengguna internet mengeluh. Belakangan ini, katanya, kecepatan mengakses jaringan internet lambat betul. Sebagai contoh, untuk masuk ke situs tabloid Bintang ia mesti menanti 23 menit. Padahal beberapa bulan sebelumnya, untuk masuk ke sana paling-paling ia hanya butuh waktu dua tiga menit saja.
"Apakah perusahaan-perusahaan penyedia jasa internet (provider) memang sedang terpuruk?'' ia bertanya. Soalnya, ada tanda-tanda ke arah situ. Pertama, turunnya kecepatan akses itu. Kedua, ia diminta melakukan pendaftaran ulang sebagai pelanggan ke Indosat. Padahal sebelumnya ia tercatat sebagai pelanggan Seruling Indah Permai (sebuah Linknet).
Rupanya ia bukan satu-satunya yang mengeluhkan akses yang kian merayap itu. Manajer Umum Hubungan Investasi Indosat, Budi Prasetyo, punya penjelasan begini. Untuk mengalirkan lalu lintas data dari pelanggan ke jaringan internet, provider mesti menyewa apa yang disebut bandwidth ke operator yang menyediakannya. Bandwidth adalah kapasitas jaringan komputer untuk menangani lalu lintas data. Kalau dianalogikan kira-kira sama dengan terowongan yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lain. Maka, bila pelanggan bertambah tapi bandwidth tetap, kecepatan akses melambat.
Sewa bandwidth itu dihitung dalam dolar. Provider yang menyewa sebesar 64 kilobyte misalnya harus mengeluarkan dana sebesar US$ 9.500 per tahun. Kalau mau langsung bayar tiga tahun, ada sedikit potongan, menjadi US$ 9.200 per tahun. Sedang bandwidth sebesar 2 megabyte sewanya sebesar US$ 95.700 per tahun dan untuk tiga tahun ongkosnya US$ 92.700/tahun. Sementara itu, rata-rata provider mengutip biaya langganan perseorangan antara Rp. 50.000 sampai Rp. 100.000 per bulan dan untuk kalangan perusahaan sekitar Rp 1 juta-Rp 3 juta sebulan.
Itulah yang menjadi pangkal masalah. Karena pendapatan penyedia jasa internet dalam rupiah, sedangkan ongkos sewa bandwidth dalam dolar maka ada ketidakseimbangan. Untuk menyeimbangkannya, terpaksa provider mengurangi bandwith agar pengeluaran dolar pun berkurang. Akibatnya, kecepatan akses menjadi lambat.
"Karena kualitas akses kami lambat dan keluhan dari pelanggan cukup besar, akhirnya kami mengalihkan semua pelanggan ke Indosat. Kami menerima komisi saja dari mereka," kata Manajer Umum Linknet, Edy Salim, yang hingga saat terakhir mempunyai sekitar 2000 pelanggan.
Tampaknya bukan hanya Linknet yang terbelit kesulitan. Menurut bisikan sebuah sumber, paling tidak ada empat provider lain yang utangnya macet. Jumlah utang mereka mencapai puluhan miliar rupiah ke Indosat. Ketika dikonfirmasikan ke Indosat, Budi mengaku memang ada penyelenggara jasa internet yang sedang kesulitan keuangan. "Kami dimintai tolong untuk mengelola konsumen mereka," jelas Budi yang mengelak menyebutkan nama dan jumlah perusahaan yang tengah kembang kempis itu.
Menurut sebuah sumber, data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang beranggotakan 45 perusahaan, menunjukkan sembilan perusahaan di antaranya sudah tak aktif lagi, alias bangkrut. Sisanya sudah kembang kempis. Yang boleh dikatakan masih cukup perkasa hanya tujuh perusahaan saja.
Beratnya bisnis internet sekarang ini bisa terlihat dari yang dilakukan Visionindo Network Perdana, pengelola Vision Net, yang terpaksa menutup operasi salah satu cabangnya di Surabaya. Begitu pula yang terjadi pada perusahaan lain seperti Internet Lintas Artha (Idola). Kata Imam Mialim, asisten manajer untuk Layanan Jasa Idola, karena tak kuat sendiri, ada 13 provider yang membayar iuran untuk menyewa bandwidth secara tanggung rente ke Telkom.
Situasi semacam itu sebetulnya sangat ironis. Soalnya, belakangan ini jumlah pelanggan internet di Indonesia cenderung meningkat. Menurut Sekjen APJII Teddy A. Purwadi, pada 1996 jumlah pelanggan internet di Indonesia sekitar 31 ribu dengan jumlah pemakai 110 ribu. Setahun kemudian jumlah pelanggan naik menjadi 75 ribu dan penggunanya 384 ribu. Tahun ini jumlah pelanggan 134 ribu dan penggunanya 421 ribu. Teddy memperkirakan proyeksi pelanggan tahun depan 256 ribu dan pemakai 1 juta.
Untuk menolong perusahaan yang kesulitan, APJII menawarkan program yang disebut Indonesia Internet Exchange (IIX). Ini semacam jaringan bersama yang bisa menghemat sewa bandwidth sampai 60 persen. Cara itu memang bisa menyelamatkan perusahaan tapi bagi pelanggan membuat akses ke internet tak lagi secepat sebelumnya. Tapi ini tentu lebih baik, dari pada tak ada satu perusahaan penyedia jasa internet pun yang bisa bertahan. Biar lambat asal enak diklik.
Wicaksono, Ahmad Fuadi, Dewi Rina Cahyani
|