Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXIIIIIII/01 - 7 Desember 1998
   
Ilmu dan Teknologi

Yang Cantik yang Terancam

Ditemukan enam jenis ikan cantik yang mirip ikan hias. Tapi dikhawatirkan jumlahnya cepat berkurang karena penduduk acap menangkapi lalu menjualnya dengan sangat murah.

Keakraban bangsa Indonesia dengan samudra lebih banyak ditentukan oleh keuntungan yang bisa diraup dari sana. Laut didekati karena berbagai ikan yang enak dimakan, dan mutiara yang bisa diternakkan. Selain itu, laut memiliki deposit pasir laut dan terumbu karang yang bukan saja bermanfaat untuk bahan bangunan, tapi cara memperolehnya pun tidak sukar. Bak kata Koes Plus dalam salah satu lagunya, "Bukan lautan hanya kolam susu..., ikan dan udang menghampiri dirimu...."

Nah, lautan yang bagaikan kolam susu dan sering dikuras habis-habisan itu sejak beberapa waktu lalu diselidiki oleh sebuah tim gabungan peneliti dari Indonesia dan Australia. Dan baru-baru ini mereka menemukan enam jenis ikan cantik nan eksotik di perairan Togean dan Banggai di Sulawesi Utara. Para peneliti yang bergabung dalam Marine Rapid Assessment Program itu bahkan tak menduga keenam jenis ikan langka ini hidup di perairan tersebut.

Tim peneliti yang diketuai Gerald R. Allen, Ph.D., seorang ahli ikan dari Western Australian University, memang masih mengonfirmasi nama ataupun sebutan untuk enam jenis ikan itu ke Conservation International, yakni sebuah induk organisasi kelautan di Australia. Ternyata, spesies dan genus keenam jenis ikan itu sudah terdeteksi, yakni spesies pomacentrus dan ambypomacentrus dari genus Pomacentridae, spesies cirrhilebrus dan pracheillinus dari genus Wrasses atau Labridae, serta dua spesies ecsenius dari genus Blennidae.

Selama penelitian, hampir setiap hari para peneliti menyelam di kedalaman 3 meter hingga 40 meter. Penelitian mereka menjangkau wilayah seluas 400 hektare, mulai dari kawasan Banggai hingga menyusuri tujuh pulau besar yang tergabung dalam gugusan Kepulauan Togean.

Dari 850 spesies ikan yang diperkirakan hidup di dua perairan itu, tim penelititerdiri dari tujuh orangberhasil mengobservasi 500 jenis ikan. Enam jenis ikan diketahui sebagai jenis yang baru terdeteksi ada di kedua perairan itu.

Diduga, keenam jenis ikan ini tergolong ikan hias. Badannya kecil, panjangnya 5 sampai 15 sentimeter. Kulitnya ditutupi sisik yang beraneka warna dan mencolok mata. Jenis Pomacentrus, misalnya, badannya berkilau keperakan dengan lingkaran hitam.

Tim peneliti berpendapat, ikan-ikan itu hanya bisa ditemukan di wilayah tertentu di perairan Togean dan Banggai. Genus Labridae, contohnya, hidup dan berkembang biak di terumbu karang terjal, sedangkan genus Blennidae lebih suka berenang di ceruk tenang.

Sebagai ikan karang, keenam jenis ikan itu hidup bergerombol di kedalaman 3 sampai 15 meter. Sesuai dengan habitatnya, ikan-ikan itu memakan lumut laut (algae) yang hidup di terumbu karang. Mereka berkembang biak dengan bertelur. Ikan-ikan cantik itu cenderung menjauhi tempat gelap dan menyukai daerah yang terang, dengan suhu sekitar 31 derajat Celsius. Selain itu, tim peneliti juga menemukan 15 jenis terumbu karang yang baru dikenali di situ. Tentu saja, penemuan 6 jenis ikan dan 15 jenis terumbu karang di perairan Banggai dan Togean ini sangat berarti bagi perkembangan ilmu kelautan di Indonesia. Dan juga bagi kekayaan koleksi bawah laut Nusantara.

Bersamaan dengan itu, menurut Jatna Supriatna, Ph.D., Direktur Conservation International Indonesia, tim peneliti juga menemukan bahwa kelestarian biota laut terancam karena gencarnya penangkapan ikan hias oleh penduduk. Sebut saja ikan kardinal yang hidup di perairan Banggai dan ditemukan tiga tahun silam oleh Gerald R. Allen. Kini, populasi ikan hias bertubuh elok itu semakin menyusut. Soalnya, nelayan di Pulau Pelleng, Kepulauan Banggai, selain menangkap ikan kerapuuntuk mata pencaharian sehari-harijuga menjala ikan kardinal.

Rupanya, ikan kardinal, yang kecil dan panjangnya 8 sentimeter itu. gampang ditangkap. Sebabnya tak lain karena ikan ini hidup di perairan dangkal, kedalaman 1 hingga 10 meter. Jadi, mudah dilihat. Apalagi ia tak lari bila didekati orang. Tak mengherankan bila seorang nelayan bisa menjala kardinal sampai 10 ribu ekor sehari.

Ironisnya, di pasar lokal, ikan kardinal cuma dihargai Rp 100 sampai Rp 150. Di Manado, pedagang biasa menjual kardinal seharga Rp 1.500 per ekor. Sekadar perbandingan, di Eropa dan Amerika, harga ikan itu US$ 30 seekor. "Pernah harganya mencapai US$ 62," tutur Syafyuddin Yusuf, ahli terumbu karang dari Universitas Hassanudin, Ujungpandang, kepada Tomi Lebang dari TEMPO.

Perkembangan itulah yang kini mengancam kelestarian ikan hias di Sulawesi. Tak mustahil jika enam jenis ikan yang baru dikenali tim peneliti tadi pun, dalam waktu singkat, akan menjadi langka lantaran ditangkapi orang. Bukankah lautan masih dianggap kolam susu, dan isinya selalu dikuras habis-habisan....

Ma'ruf Samudra dan Dwi Arjanto


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data