Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXIIIIIII/01 - 7 Desember 1998
   
Galeri

Galeri

Teater

BRANDWEER Nyelonong di Priok adalah judul naskah teater yang mengingatkan orang pada peristiwa berdarah Tanjungpriok pada 1984. Karya yang dipentaskan oleh kelompok Teater Kanvas ini bercerita tentang Bang Amir, seorang guru mengaji di perkampungan kawasan Tanjungpriok. Tiba-tiba saja, Bang Amir menghilang, seusai mengajar anak gelandangan, penjual koran, pemulung, tukang semir, dan pengamen. Raibnya Bang Amir membuat muridnya mencari ke mana-mana sembari bertanya. Mereka menanyai kantor pemerintah, kantor HAM, LSM, pengadilan, dan polsek, tapi tak satu pun yang memberikan jawaban. Semua membisu sampai bertahun-tahun lewat. Meski rezim sudah berganti dan murid-murid Bang Amir sudah beranjak dewasa, jawaban terhadap satu pertanyaan sederhana itu tak kunjung muncul. Sutradara Zak Sorga mendapat kehormatan mementaskan karya ini dalam rangka 30 tahun usia Taman Ismail Marzuki. Teater Kanvas dikenal banyak mengangkat fenomena kaum urban, khususnya masyarakat kumuh di perkotaan.

Tempat: Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta
Waktu: 2 dan 3 Desember 1998, Pukul 20.00



Putu Wijaya, sutradara teater yang gemar meneror publik teater, akan menggelar karya terbarunya berjudul Keos. Pementasan ini dalam rangka peringatan ulang tahun ke-30 Taman Ismail Marzuki. Berbeda dengan karyanya Ngeh pada Art Summit 1998 lalu yang mengeksplorasi bahasa rupa dan gerak, Keos pada hakikatnya merupakan monolog yang dimainkan oleh Putu Wijaya dan dibantu oleh Teater Mandiri. Monolog ini berusaha melihat riuh-rendah pekik-sorak penghujatan, penjarahan, pemerkosaan, pembakaran, pendirian partai, dan unjuk rasa dalam gelombang reformasi dari kacamata yang berbeda.

Tempat: Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta
Waktu: 9 Desember 1998, Pukul 20.00



Seni Rupa

Yusmantoro Adi, pelukis yang memenangi grand prize Lomba Lukis Philip Morris Awards 1997 di Filipina, menggelar karya lukisnya dalam pameran Uang dan Bocah Kita. Ia menggunakan simbolisasi uang dan anak untuk mengungkapkan komentarnya terhadap kehidupan sehari-hari. Menurut pelukis alumni Institut Seni Indonesia ini, uang dan bocah adalah cermin kejujuran. Orang tidak bisa bersikap pura-pura kalau sudah berurusan dengan uang, sedangkan bocah adalah makhluk paling lugu yang pernah dikenal peradaban manusia. Yuswantoro mengekspresikannya dengan teknik realis.

Tempat: Gedung Bentara Budaya, Jalan Suroto 2-A, Yogyakarta
Waktu: 1 Desember-8 Desember 1998



Herman -Josef Kuhna meneror penonton dengan ribuan titik dalam berbagai warna lewat karya lukisnya. Uniknya, teror ini menghasilkan suasana riang, ritmis, serta imaji struktur dan ruangan. Karya lukis seniman asal Jerman ini adalah sebuah kosmos yang dipenuhi titik-titik warna. Di dalam kosmos ini setiap titik warna menempati tempatnya yang pasti terhadap titik warna di sekitarnya. Hal ini terlihat jelas dalam pengaruh timbal balik yang teratur dan dinamis. Setiap titik warna menunjukkan titik warna lainnya. Pameran ini merupakan rangkaian acara Tendensi Seni Rupa Kontemporer di Jerman yang diselenggarakan Goethe Institut.

Tempat: Galeri Lontar, Jalan Utankayu 68-H, Jakarta
Waktu: Sampai 12 Desember 1998 (Pameran)



Yustoni Voluntero, perupa yang juga aktivis gerakan mahasiswa, memamerkan lukisan bercorak propaganda. Lukisannya merupakan penajaman potret terhadap realitas untuk dapat digunakan sebagai alat pergerakan melakukan tindakan perlawanan dan perebutan keadilan rakyat. Perupa dari Institut Seni Indonesia ini berprinsip bahwa seniman dan karyanya harus berada di antara rakyat dan berguna bagi pembangkit atau pendorong gerakan kerakyatan. Meskipun demikian, karyanya yang berbentuk poster ini sebuah karya yang independen.

Tempat: Galeri Cemeti, Jalan Ngadisuryan 7-A, Yogyakarta
Waktu: 4 Desember-15 Januari 1998


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data