|
Teater
BRANDWEER Nyelonong di Priok adalah judul naskah teater yang mengingatkan orang pada peristiwa berdarah Tanjungpriok pada 1984. Karya yang dipentaskan oleh kelompok Teater Kanvas ini bercerita tentang Bang Amir, seorang guru mengaji di perkampungan kawasan Tanjungpriok. Tiba-tiba saja, Bang Amir menghilang, seusai mengajar anak gelandangan, penjual koran, pemulung, tukang semir, dan pengamen. Raibnya Bang Amir membuat muridnya mencari ke mana-mana sembari bertanya. Mereka menanyai kantor pemerintah, kantor HAM, LSM, pengadilan, dan polsek, tapi tak satu pun yang memberikan jawaban. Semua membisu sampai bertahun-tahun lewat. Meski rezim sudah berganti dan murid-murid Bang Amir sudah beranjak dewasa, jawaban terhadap satu pertanyaan sederhana itu tak kunjung muncul. Sutradara Zak Sorga mendapat kehormatan mementaskan karya ini dalam rangka 30 tahun usia Taman Ismail Marzuki. Teater Kanvas dikenal banyak mengangkat fenomena kaum urban, khususnya masyarakat kumuh di perkotaan.
Tempat: Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Waktu: 2 dan 3 Desember 1998, Pukul 20.00
Putu Wijaya, sutradara teater yang gemar meneror publik teater, akan menggelar karya terbarunya berjudul Keos. Pementasan ini dalam rangka peringatan ulang tahun ke-30 Taman Ismail Marzuki. Berbeda dengan karyanya Ngeh pada Art Summit 1998 lalu yang mengeksplorasi bahasa rupa dan gerak, Keos pada hakikatnya merupakan monolog yang dimainkan oleh Putu Wijaya dan dibantu oleh Teater Mandiri. Monolog ini berusaha melihat riuh-rendah pekik-sorak penghujatan, penjarahan, pemerkosaan, pembakaran, pendirian partai, dan unjuk rasa dalam gelombang reformasi dari kacamata yang berbeda.
Tempat: Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Waktu: 9 Desember 1998, Pukul 20.00
Seni Rupa
Yusmantoro Adi, pelukis yang memenangi grand prize Lomba Lukis Philip Morris Awards 1997 di Filipina, menggelar karya lukisnya dalam pameran Uang dan Bocah Kita. Ia menggunakan simbolisasi uang dan anak untuk mengungkapkan komentarnya terhadap kehidupan sehari-hari. Menurut pelukis alumni Institut Seni Indonesia ini, uang dan bocah adalah cermin kejujuran. Orang tidak bisa bersikap pura-pura kalau sudah berurusan dengan uang, sedangkan bocah adalah makhluk paling lugu yang pernah dikenal peradaban manusia. Yuswantoro mengekspresikannya dengan teknik realis.
Tempat: Gedung Bentara Budaya, Jalan Suroto 2-A, Yogyakarta Waktu: 1 Desember-8 Desember 1998
Herman -Josef Kuhna meneror penonton dengan ribuan titik dalam berbagai warna lewat karya lukisnya. Uniknya, teror ini menghasilkan suasana riang, ritmis, serta imaji struktur dan ruangan. Karya lukis seniman asal Jerman ini adalah sebuah kosmos yang dipenuhi titik-titik warna. Di dalam kosmos ini setiap titik warna menempati tempatnya yang pasti terhadap titik warna di sekitarnya. Hal ini terlihat jelas dalam pengaruh timbal balik yang teratur dan dinamis. Setiap titik warna menunjukkan titik warna lainnya. Pameran ini merupakan rangkaian acara Tendensi Seni Rupa Kontemporer di Jerman yang diselenggarakan Goethe Institut.
Tempat: Galeri Lontar, Jalan Utankayu 68-H, Jakarta Waktu: Sampai 12 Desember 1998 (Pameran)
Yustoni Voluntero, perupa yang juga aktivis gerakan mahasiswa, memamerkan lukisan bercorak propaganda. Lukisannya merupakan penajaman potret terhadap realitas untuk dapat digunakan sebagai alat pergerakan melakukan tindakan perlawanan dan perebutan keadilan rakyat. Perupa dari Institut Seni Indonesia ini berprinsip bahwa seniman dan karyanya harus berada di antara rakyat dan berguna bagi pembangkit atau pendorong gerakan kerakyatan. Meskipun demikian, karyanya yang berbentuk poster ini sebuah karya yang independen.
Tempat: Galeri Cemeti, Jalan Ngadisuryan 7-A, Yogyakarta Waktu: 4 Desember-15 Januari 1998
|