Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXIIIIIII/01 - 7 Desember 1998
   
Film

Hasil Perdana Kuartet Sutradara Muda

Setelah dua tahun, akhirnya film karya empat sutradara ini beredar juga. Sebuah sketsa kehidupan anak muda urban yang gelisah.

KULDESAK
Sutradara: Mira Lesmana, Nan T. Achnas, Riri Riza, dan Rizal Mantovani
Pemain: Oppie Andaresta, Iwa K., Sophia Latjuba, Maya Lubis, Wong Aksan, dan Bianca Adinegoro
Produksi: Day for Nights Films

Mereka adalah anak muda yang me-nembus malam. Mereka adalah anak Jakarta yang resah, gelisah, dan berteman dengan rasa sepi dan kelam. Tetapi mereka berada di empat tempat yang berbeda, empat pojok kota Jakarta. Mereka bernama Dina (Oppie Andaresta), Lina (Bianca Adinegoro), Aksan (Wong Aksan) dan, Andre (alm. Ryan Hidayat). Mereka memiliki keinginan, kerinduan, pencarian tapi bagaimana seluruh keinginan itu diekspresikan? Dina, seorang penjaga loket bioskop, bak dalam sebuah film, hidup di alam khayal. Ia penggemar acara televisi Max Manolo Show dan mengisi kesepiannya dengan sepasang tetangganya yang memiliki hubungan homoseksual. Lina, seorang karyawati biro iklan, suatu malam diperkosa oleh atasannya dan berusaha mengatasi trauma itu. Aksan, seorang anak muda yang berbakat, cuma punya satu ambisi dalam hidup: membuat film. Dan untuk itu dia terpaksa merampok uang ayahnya. Andre seorang musikus yang tak habis-habisnya mencari dirinya dan mengidentifikasi rasa putus asanya dengan musikus Kurt Cobain.

Empat sutradara Mira Lesmana, Nan T. Achnas, Riri Riza, dan Rizal Mantovani meramu film Kuldesak (sebuah kata Prancis yang berarti: jalan buntu) ini menjadi sebuah film yang terdiri dari empat segmen yang dihubungkan dengan satu tema: kehidupan anak-anak muda urban. Format seperti ini sudah pernah dilakukan oleh trio sutradara Martin Scorsese, Woody Allen, dan Francis Ford Coppola dalam film The New York Stories atau kelompok Quentin Tarantino-Robert Rodriguez dalam film Four Rooms. Tetapi tentu saja ini sebuah upaya pertama dalam perfilman Indonesia untuk menyatukan empat sineas dalam sebuah produksi. Tentu bukan persoalan format saja yang menjadikan film ini menarik dibicarakan. Ada sebuah kecenderungan pendekatan sinematik dari sineas muda yang rata-rata baru berusia awal 30-an ini (baca: They are the New Kids on the Block). Dibandingkan dengan sutradara angkatan Teguh Karya, Syuman Djaja, dan Arifin C. Noer, para sutradara baru ini memiliki bahasa dan interpretasi yang sangat berbeda tentang hidup. Berbeda dengan, katakanlah Teguh Karya yang sangat mementingkan penokohan dengan konteks latar belakang dan tradisi, tokoh-tokoh anak muda dalam film ini seolah "terlepas"meski tidak berarti mandiridari ikatan komunitas keluarga, orang tua, atau kakak-adik. Mereka hidup begitu saja, seperti sosok yang tiba-tiba muncul dalam sebuah mimpi buruk. Ayah, ibu, atau kakak-adik bisa hanya tampil dalam bentuk percakapan ("babe gue yang kaya") atau suara ibu yang nyelonong di mesin perekam telepon. Tokoh-tokoh muda yang rata-rata mencampuradukkan bahasa Inggris dan Indonesia inikecuali untuk segmen tokoh Dina yang diperankan Oppie Andarestamemang wakil dari selapis tipis masyarakat kota (baca: Jakarta) Indonesia: urban, kaya raya, kosmopolit, sibuk mencari identitas, dan hidup dalam sepi. Karena itu, tidak mudah bagi setiap penonton (Indonesia) mengidentifikasi diri dengan tokoh macam Sofia (Sophia Latjuba) yang mengatakan "You are so disgusting" atau tokoh Maya (Maya Lubis) yang berjingkrak-jingkrak di pinggir jalan sambil mengucapkan kata "f" yang terlarang itu. Tidak mudah juga bagi setiap anak mudakecuali mereka mahasiswa jurusan sinematografilangsung paham idiom yang terlontar dari mulut para tokohnya Pulp Fiction, buku Rebel without a Crew, Quentin Tarantino, Robert Rodriguez, dan seterusnya. Tapi satu hal harus diakui bahwa dialog dan peran para pemain dalam film ini begitu wajar, lancar, mulus, dan alamiah. Dan ini jarang kita temui dalam perfilman Indonesia.

Dari segi visualisasi, keempat sutradara telah melakukan kerja yang optimal. Kerja kamera yang sangat eksploratif, terutama pada segmen tokoh Oppie Andaresta (dengan sutradara Nan T. Achnas) dan pemilihan musik yang dahsyat itu (dari kelompok band Netral, PAS, Slank, Iwa K., Ahmad Dhani) belum pernah tertandingi oleh film-film Indonesia sebelumnya.

Mungkin film ini tidak berpretensi untuk mereguk kedalaman, mungkin juga para sutradara (muda) itu tidak ingin mengajak penonton merenung. Yang tampil adalah setumpukan sketsa anak-anak muda yang terdesak oleh situasi dan masing-masing memilih jalan keluar sendiri. Dan sikap yang cukup "baru" dalam film ini adalah: mereka tidak moralistis. Ada adegan bunuh diri sebagai sebuah jalan keluar; homoseksualitas sebagai sebuah hubungan yang wajar, dan ada pistol-pistol yang bertebaran. Hollywood? Amerika? Come on, merekapara pemain maupun sineas film iniadalah generasi MTV yang tumbuh dan hidup melalui industri multimedia. Jadi, izinkanlah mereka untuk menjadi "anak muda". Dengan kemampuan teknis yang luar biasa serta ide yang segar dan unik itu, mudah-mudahan karya berikut keempat sutradara itu akan menyelam di kedalaman.

Leila S. Chudori


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data