Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXIIIIIII/01 - 7 Desember 1998
   
Film

They Are the New Kids on the Block

Mereka adalah Generasi Sineas MTV. Mereka adalah kelompok sutradara yang disebut oleh Garin Nugroho sebagai "anak industri multimedia".

Welcome to MTV Land. Introducing: Mira Lesmana, Rizal Mantovani, Riri Riza, Nan T. Ach nas, Cassandra Massardi, dan Hanny Saputra. Yeah..., inilah generasi baru perfilman Indonesia: berusia 30-an tahun, berdomisili di Jakarta, punya gaya hidup urban, kosmopolit, lebih ekspresif berkomunikasi dalam bahasa Inggris, dan filmnya berkisah tentang anak muda urban dengan segala persoalannya.

Siapakah mereka? Sutradara Garin Nugroho menyebutnya Generasi Multimedia. Artinya, mereka adalah sineas yang biasa membuat film iklan, videoklip, dan film dokumenter, yang kemudian membuat film layar lebar. Dan empat nama yang tergabung dalam film Kuldesak iniMira Lesmana, Riri Riza, Rizal Mantovani, dan Nan T. Achnasditambah dua sutradara lainnya, yakni Cassandra Massardi dan Hanny R. Saputra, memang sineas yang bisa disebut "Generasi Sineas MTV", yaitu generasi yang tampil dengan sebuah ciri khas kosmopolit dalam tampilan sinematografi yang dinamis, dengan pengadeganan dan kerja kamera, ritme, warna visualisasi, penokohan, dan pemilihan serta kedalaman tema yang lebih banyak dipengaruhi oleh kerja televisi dan iklan.

Menurut Seno Gumira Ajidarma, keistimewaan para sutradara ini adalah mereka tidak dilahirkan sebagai kelanjutan tradisi seniman film seperti Usmar Ismail, Teguh Karya, hingga Garin Nugroho, yang memiliki ide besar. Para sutradara baru ini lahir dari kebudayaan massa, kebudayaan pop, di mana radio, kafe, model, dan musik rap atau rock adalah bagian dari dunia mereka. Maka, kesimpulan Seno, "Di dunia mereka, seniman tidak menjadi empu yang memiliki gagasan besar."

Film Kuldesak memang berkesan mencerminkan sikap main-main yang menjadi ciri dari generasi anak-anak muda ini, yakni sebuah sikap "anti-serius" atau "anti-intelektual".

Apa betul para "new kids on the block" ini adalah sekelompok anak muda yang tidak serius dan anti-intelektual? Tengok karya Nan Triveni Achnas, yang lahir di Singapura, 14 Januari 1964. Karya-karya Nan sebelum film Kuldesak sangat kontemplatif. Lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini memulai debutnya dengan sebuah film pendek tentang seorang tukang sapu di sebuah sekolah yang terjebak dalam rutinitas kehidupan. "Setiap individu dalam karya saya selalu mempertanyakan eksistensi diri tokohnya," tutur Nan. Kontemplasi ini juga terlihat dalam sinetron lepas Penari. Dan itu pula yang kita tangkap dari kisah Dina dan kedua sahabatnya yang homoseksual dalam film Kuldesak. Harus diakui, segmen Nan dalam Kuldesak jauh lebih menyentuh dibandingkan dengan ketiga segmen lainnya.

Tapi itu bukan berarti segmen Mira Lesmana atau Riri Riza atau Rizal Mantovani "kalah bertarung". Kontemplasi semacam karya Nan tidak akan ditemukan dalam segmen karya Rizal Mantovani, yang berkisah tentang pemerkosaan Lina (Bianca Adinegoro), yang menampilkan kultur "MTV" yang lebih kental. Lahir di Jakarta, 12 Agustus 31 tahun silam, putra diplomat yang menghabiskan hidupnya di berbagai negara itu adalah satu-satunya anggota "new kids on the block" yang tidak mengecap pendidikan film formal. Ia seorang arsitek lulusan Trisakti yang gemar menonton film dan mengoleksi komik Superman yang tidak berpretensi ingin membuat film dengan "muatan nasionalis".

Mira Lesmana, 34 tahun, putri musikus Jack Lesmana, penggagas dari film Kuldesak ini, juga tak pernah berilusi ingin membuat sebuah film seni yang bertarget memenangi festival. Sutradara dari ratusan film iklan dan film dokumenter ini dengan rendah hati mengaku tidak terlalu berbakat menjadi sutradara dan merasa lebih cocok menjadi produser. Segmen yang dikerjakan Riri Riza, 28 tahun, yang bertutur tentang kehidupan musikus yang berakhir dengan bunuh diri, juga menunjukkan kemampuan kontemplatif dengan gaya yang sangat populer. Riri, yang sebelumnya pernah menjadi asisten Garin Nugroho dalam beberapa filmnya, di samping Nan, paling berhasil menampilkan visualisasi yang memukau dalam film Kuldesak.

Cassandra Massardi, 22 tahun, merupakan "anggota" generasi sineas MTV termudayang juga masih berstatus mahasiswayang menunjukkan harapan cemerlang. Melalui sinetron lepas 7 Bulan Sebelum Cinta, ia sudah memperlihatkan sebuah janji. Sedangkan Hanny R. Saputra, 33 tahun, yang sinetronnya berjudul Sepanjang Jalan Kenangan meraih berbagai penghargaan, meski menunjukkan ciri yang sama dengan rekan-rekan sealmamaternya di IKJ itu, tidak merasa karyanya sebagai karya yang terkena kultur MTV. Bagi dia, MTV adalah "sesuatu yang aneh karena membicarakan kehamilan dengan nada rileks."

Tapi memang itulah kehidupan di "MTV Land". Sesuatu yang serius dibuat menjadi santai dan seolah-olah bermain. Dan itulah yang ditampilkan oleh para sutradara Kuldesak. Tapi, jika mereka memang seniman yang gemar menjelajah, tentu mereka tak akan berlama-lama berlabuh di "MTV Land".

LSC, N.R. Bintari, Ardy Bramantyo, Agus Riyanto, Hendriko L. Wiremmer


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data