Sebuah Film Bermodal Darah Muda Film Kuldesak menggunakan bintang-bintang mahal dengan gratis untuk menekan ongkos produksi. |
Semua diawali oleh sebuah buku. Judulnya adalah Rebel without a Crew karya Robert Rodriguez, sebuah buku yang bercerita tentang proses pembuatan film El Mariachi, yang digarapnya saat ia berusia 23 tahun. Inilah film independen yang kemudian menjadi legenda karena melejit dalam The Sundance Film Festival dan dibuat ulang oleh Hollywood dengan judul Desperado. Mira Lesmanasaat itu lebih dikenal sebagai produser doku-drama Anak Seribu Pulauberbincang dengan kawan-kawan seangkatannya di Institut Kesenian Jakarta, Riri Riza dan Nan T. Achnas. "Kalau sudah bertemu dengan film, seperti bertemu dengan cinta lama. Langsung tergila-gila," tutur Mira.
Tiga sekawan itu kemudian sepakat bersama-sama membuat sebuah kolaborasi dengan mengajak Rizal Mantovani, yang saat itu lebih dikenal sebagai sutradara videoklip. Impian mereka hanya satu: "Kami hanya mau membuat film," ujar Mira. Dan semangat yang menggelegak itu diilhami dari nekatnya Rodriguez membuat film dengan biaya hanya US$ 7.000, angka yang hampir mustahil untuk biaya pembuatan film Amerika. Caranya? Ia memanfaatkan teman-temannya yang bersedia menjadi aktor tanpa honor. Adapun biaya US$ 7.000 itu adalah untuk
operasional sehari-hari.
Kerja penting berikutnya adalah pemilihan tema. Banyak kepala tentu banyak maunya. Maka perlu dilakukan penyatuan visi tentang film yang akan dibuat. Ada yang ingin membuat film komedi, ada juga film aksi, dan film drama. Tapi akhirnya mereka melupakan pertengkaran soal jenis film yang akan dibuat. Yang penting film ini punya tema besar tentang gejolak anak muda di kota metropolitan dengan kultur pop.
Semuanya sepakat memilih kisah anak muda perkotaan. "Kami sengaja memilih kisah anak muda kota yang suka musik dan gaya hidup yang berwarna," tutur Rizal Mantovani, yang sudah menyutradarai hampir 100 videoklip ini. Pemilihan tema ini memang cukup menarik. Mira mengaku, para sutradara senior mengingatkan mereka agar jangan melupakan unsur Indonesia jika membuat film. Tetapi, "Kami tidak ingin punya beban kultural edukatif dan membangkitkan nasionalisme," kata Mira. Dengan kata lain, mereka memilih tema dan cerita sejujurnya sesuai dengan idiom dan bahasa yang mereka pahami: bahasa anak muda urban kelas atas. Jika menggunakan bahasa Rizal Mantovani, ia cuma menginginkan agar anak muda penonton film ini berkomentar: "keren banget".
Soal tenaga dan biaya? Dengan menggunakan gaya Rodriguez, para sutradara muda ini, yang kemudian sekaligus menjadi produser dan penulis skenario, menyumbangkan uang Rp 50 juta, meski tentu saja itu belum cukup. "Penghematan" lainnya adalah dengan melibatkan pekerja film lain yang juga datang dari lingkaran pergaulan mereka. Dari pemain, penata kamera, penata cahaya, hingga teknisi, semuanya tak ada yang dibayar. Hampir semua yang terlibat dalam film inidi antaranya penata kamera Nur Hidayat, Roy Lolang, Yadi Sugandhi, Yudi Datau, atau penata artistik Frans Paatadalah orang yang mau berkorban apa saja untuk mewujudkan sebuah film. "Banyak sekali yang mencintai seluloid dan mereka rindu bikin film," ujar Mira. Bahkan bintang yang sudah dikenal dalam industri hiburan dengan bayaran selangit semacam almarhum Ryan Hidayat, Bucek Depp, Iwa K., Sophia Latjuba, Oppie Andaresta, dan Rebecca Tumewu, demi film ini, rela tak dibayar sepeser pun.
Meski tenaga manusia tak dibayar, tetap saja memproduksi film butuh biaya. Empat anak muda yang rata-rata menjelang usia 30-an tahun ini memeras otak untuk memperoleh uang setidaknya Rp 550 juta untuk biaya produksi. Dari kocek keempat produser hanya dapat dikorek Rp 50 juta. Tentu saja belum cukup. Untung, The Hubert Bals Fund of Film Festival Rotterdam bermurah hati memasok dana US$ 20 ribu. Pengambilan gambar pun akhirnya bisa diselesaikan Juni 1997. Jaringan bioskop Kelompok 21, yang selama ini dituding ikut "membunuh" film nasional, merelakan gedung bioskopnya memutar film ini. Untuk publikasi mereka dibantu sebuah perusahaan rokok. Maka terwujudlah sebuah film yang tak berpretensi muluk-muluk, dengan biaya produksi relatif murah. Belum tentu akan dikomentari "keren banget"seperti yang dicita-citakan Rizal Mantovanitetapi ide dan semangat mereka layak dipuji.
Leila S. Chudori, R. Fadjri, Ardi Bramantyo, Andari Karina Anom
|