Miskin di Abad XXI, Bersama IDA |
Hayo… sebutkan negara-negara miskin di dunia! Angola, Kongo, Burundi, Banglades, Rwanda, Kamboja, dan sebagainya, serta… Indonesia. Negeri ini sekarang sudah sejajar dengan negara-negara hitam di Afrika yang kekeringan dan kelaparan, Banglades yang kebanjiran, Rwanda yang penuh pertikaian, dan Bosnia-Herzegovina yang dilanda perang saudara berkepanjangan.
Bank Dunia sudah menobatkan Indonesia sebagai penerima bantuan dari International Development Association (IDA). Lembaga yang berdiri sejak 1960 ini memberikan pinjaman bersyarat superlunak: tanpa bunga dan jangka pengembaliannya hingga 40 tahun dengan masa bebas bunga hingga 10 tahun. Plafon bantuannya berkisar antara US$ 1,3 miliar dan US$ 1,5 miliar.
Yang paling gres mendapat kucuran IDA adalah Banglades. Negara di Asia Selatan itu baru dihantam bencana banjir yang terdahsyat sepanjang sejarah, Juli sampai September 1998 lalu. Bencana itu mengakibatkan 1.100 orang mati, ratusan ribu sekolah dan rumah rusak, serta ratusan ribu kilometer jalan rusak total. Langsung saja IDA mengucurkan bantuan sebesar US$ 200 juta.
Betapa mudahnya Banglades mendapat dana murah itu karena negara langganan banjir tersebut sudah mendapat "gelar" penerima IDA sejak 1960--seperti halnya negara-negara Afrika. Bagi negara Afrika, IDA sudah seperti saudara tak terpisahkan. Sebab satu-satunya sumber keuangan untuk negara-negara di Afrika, ya, dari IDA. Lebih dari US$ 1 triliun dikucurkan IDA untuk Afrika, dan separo dari proyek IDA dijalankan di Afrika.
Bantuan IDA di sana adalah bantuan makanan, kesehatan, pendidikan, pertanian, dan pembangunan infrastruktur. Pokoknya, untuk proyek yang sama sekali tidak menarik minat investor asing, di situlah uang IDA dimanfaatkan. Sebab salah satu tujuan bantuan dari IDA adalah menaikkan "daya jual" negara miskin di mata investor asing, kelak di kemudian hari. Moto kerja IDA: "US$ 1 bantuan sepadan dengan US$ 2 investasi asing".
Pada pertengahan November ini, Bank Dunia mengumumkan bahwa ada 80 negara layak IDA. Menurut laporan tersebut, bantuan IDA dinilai berhasil mengangkat derajat negara-negara itu beberapa lapis, walau masih tergolong miskin dan tetap menjadi langganan IDA.
Singkatnya, negara yang dulu dinilai Bank Dunia miskin, ya, tetap miskin. Belum ada cerita bantuan IDA dapat mengentaskan suatu negara dari lembah kemiskinan. Naik kelasnya Indonesia menjadi negara middle income tahun 1988 itu juga bukan karena "jasa" IDA, melainkan karena rezeki minyak.
Mungkinkah kelak Indonesia keluar dari jurang kemiskinan ini? Kalau pengalaman 1968-1988 terulang, ya, berarti 20 tahun lagi. Masya Allah.
Bina Bektiati
|