Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXIIIIIII/01 - 7 Desember 1998
   
Ekonomi dan Bisnis

Miskin di Abad XXI, Bersama IDA

Hayo… sebutkan negara-negara miskin di dunia! Angola, Kongo, Burundi, Banglades, Rwanda, Kamboja, dan sebagainya, serta… Indonesia. Negeri ini sekarang sudah sejajar dengan negara-negara hitam di Afrika yang kekeringan dan kelaparan, Banglades yang kebanjiran, Rwanda yang penuh pertikaian, dan Bosnia-Herzegovina yang dilanda perang saudara berkepanjangan.

Bank Dunia sudah menobatkan Indonesia sebagai penerima bantuan dari International Development Association (IDA). Lembaga yang berdiri sejak 1960 ini memberikan pinjaman bersyarat superlunak: tanpa bunga dan jangka pengembaliannya hingga 40 tahun dengan masa bebas bunga hingga 10 tahun. Plafon bantuannya berkisar antara US$ 1,3 miliar dan US$ 1,5 miliar.

Yang paling gres mendapat kucuran IDA adalah Banglades. Negara di Asia Selatan itu baru dihantam bencana banjir yang terdahsyat sepanjang sejarah, Juli sampai September 1998 lalu. Bencana itu mengakibatkan 1.100 orang mati, ratusan ribu sekolah dan rumah rusak, serta ratusan ribu kilometer jalan rusak total. Langsung saja IDA mengucurkan bantuan sebesar US$ 200 juta.

Betapa mudahnya Banglades mendapat dana murah itu karena negara langganan banjir tersebut sudah mendapat "gelar" penerima IDA sejak 1960--seperti halnya negara-negara Afrika. Bagi negara Afrika, IDA sudah seperti saudara tak terpisahkan. Sebab satu-satunya sumber keuangan untuk negara-negara di Afrika, ya, dari IDA. Lebih dari US$ 1 triliun dikucurkan IDA untuk Afrika, dan separo dari proyek IDA dijalankan di Afrika.

Bantuan IDA di sana adalah bantuan makanan, kesehatan, pendidikan, pertanian, dan pembangunan infrastruktur. Pokoknya, untuk proyek yang sama sekali tidak menarik minat investor asing, di situlah uang IDA dimanfaatkan. Sebab salah satu tujuan bantuan dari IDA adalah menaikkan "daya jual" negara miskin di mata investor asing, kelak di kemudian hari. Moto kerja IDA: "US$ 1 bantuan sepadan dengan US$ 2 investasi asing".

Pada pertengahan November ini, Bank Dunia mengumumkan bahwa ada 80 negara layak IDA. Menurut laporan tersebut, bantuan IDA dinilai berhasil mengangkat derajat negara-negara itu beberapa lapis, walau masih tergolong miskin dan tetap menjadi langganan IDA.

Singkatnya, negara yang dulu dinilai Bank Dunia miskin, ya, tetap miskin. Belum ada cerita bantuan IDA dapat mengentaskan suatu negara dari lembah kemiskinan. Naik kelasnya Indonesia menjadi negara middle income tahun 1988 itu juga bukan karena "jasa" IDA, melainkan karena rezeki minyak.

Mungkinkah kelak Indonesia keluar dari jurang kemiskinan ini? Kalau pengalaman 1968-1988 terulang, ya, berarti 20 tahun lagi. Masya Allah.

Bina Bektiati


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data