Achmad Kemal Idris: "Soeharto dan Kroni-kroninya Harus Digugat" |
Tiba-tiba saja ada sebuah kosa kata Orde Baru yang melejit kembali: makar. Dan tampaknya entah oleh siapa, kata itu ditudingkan kepada sejumlah tokoh, di antaranya orang tua-tua yang sesungguhnya lebih suka bermain dengan cucu-cucunya daripada melayani pertanyaan polisi. Apa boleh buat, seminggu terakhir, Letjen (purn.) Achmad Kemal Idris adalah satu dari sejumlah tokoh yang dipanggil polisi, ia kini lebih sibuk berkutat di Mabes Polri untuk pemeriksaan. Hal itu tampaknya bermula dari penandatanganan sebuah surat keprihatinan tentang keadaan negara--di antaranya tidak mengakui SI MPR dan mengusulkan pembentukan sebuah presidium--yang dinamakan Komunike Bersama.Yang menarik, meski tuduhan "makar" sudah ramai dibicarakan media massa, ternyata kata yang trendi itu sama sekali tidak diucapkan selama pemeriksaan. Kemal Idris, Ali Sadikin--yang dikenal sebagai tokoh Barisan Nasional--menolak untuk dikatakan ingin melakukan makar. "Kami hanya mengajukan kritik dan saran," tutur bekas Pangkostrad itu.
Tanggal 6 Agustus silam, Kemal Idris bersama 17 perwira Angkatan 45 lainnya mendirikan Barisan Nasional (Barnas), sebuah kelompok yang disebut Kemal sebagai "kekuatan moral yang tidak memiliki massa" dan bertujuan untuk mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat agar demokrasi dapat berlaku di Indonesia. Dengan cita-cita seluas itu, tak heran Barisan Nasional dikenal sangat tajam dalam melempar kritik terhadap pemerintah. Kemal Idris memang dikenal sebagai seorang petinggi ABRI yang sangat vokal dan berpendirian. Pada zaman pemerintahan Bung Karno, nama Kemal Idris identik dengan Gerakan 17 Oktober 1952--yang bersama Jenderal A.H. Nasution meminta Bung Karno membubarkan DPR dan menggantikannya dengan wajah baru. Misi itu gagal, meski di gedung RRI, Istana, dan gedung DPR sudah disiagakan tentara dan tank. Selama beberapa hari para perwira yang terlibat, termasuk Kemal Idris diperiksa Kejaksaan Agung. Kini, di usianya yang 75 tahun, ayah dari tiga anak dari hasil pernikahannya dengan Herwinur Bandiani Singgih dan kakek dari beberapa cucu itu, masih harus menghadapi tuduhan-tuduhan baru. Dalam dua kali pertemuan, sebelum Kemal Idris ke Markas Besar Polri untuk memenuhi panggilan polisi, ia menyempatkan waktu menjawab pertanyaan Leila S. Chudori, Yusi A. Pareanom, dan Hendriko L.Wiremmer dari TEMPO. Berikut petikannya:
Mengapa Komunike Bersama dibuat, padahal saat itu SI belum berakhir?
Komunike bersama itu dibuat karena keadaan waktu itu sangat gawat. Ada pembunuhan di Semanggi dan di tempat lain. Kami ingin itu secepat mungkin diselesaikan. Karena itu harus ada kritik. Di sini ada Komunike Bersama (ia membuka mapnya). Ini kami anggap sebagai kritik dan saran-saran untuk jalan keluar. Bukan upaya makar?
Bukan makar. Jadi kami membuat ini supaya pemerintah memperhatikan apa yang diinginkan oleh rakyat. Saat diperiksa sama sekali tidak disebut kata makar?
Mereka tidak pernah bilang begitu kepada saya. Jadi yang ditanya hanya sekitar apakah ada hubungan dengan mahasiswa. Saya bilang ada. Dua cucu saya mahasiswa. Jadi saya bilang tentu saja ada hubungan dengan mahasiswa. Belakangan saya menanyakan alasan saya ditangkap. Apa perbuatan saya? Kata mereka, mereka meminta keterangan dari saya. Itu saja. Jadi saya heran karena pertanyaan yang diajukan berjumlah hampir 90 buah. Hari pertama mereka menanyakan 30 pertanyaan, hari kedua 30 pertanyaan, dan hari ketiga mereka menanyakan 30 pertanyaan. Tapi pada hari terakhir (mereka) berulang-ulang bertanya. Barangkali mereka mau mengecek apakah pertanyaan mereka pada hari pertama, kedua, dan ketiga itu saya jawab dengan jawaban yang sama. Mereka hanya menanyakan seputar Komunike Bersama. Mereka sama sekali tidak menyinggung masalah makar. Walau saya menandatangani tiga berita acara pemeriksaan (BAP) yang masing-masing sepanjang lima halaman, masalah makar sama sekali tidak disinggung. Mereka hanya menanyakan apa hubungan kami dengan masyarakat dan mahasiswa. Hubungan kami adalah bahwa kami mendukung gerakan mereka. Anda bisa mengira mengapa ada tuduhan makar mampir pada diri Anda?
Itulah yang saya heran. Barisan Nasional sudah mengeluarkan pernyataan berkali-kali dan itu tidak dianggap makar. Sedang Komunike Bersama yang sama sekali tidak bermaksud makar, kok dianggap makar. Jadi di benak saya timbul pertanyaan apakah pemerintah ingin mengalihkan perhatian tanggung jawabnya terhadap yang terjadi di Trisakti, Aceh, dan Jawa Timur. Saya heran. Prabowo saja kok bisa berada di luar negeri. Menurut saya, sistem yang dilakukan Soeharto itu dilakukan juga oleh penguasa sekarang. Caranya masih sama. Yang melaksanakannya masih sama. Anda yakin yang terjadi sekarang adalah pengalihan perhatian?
Saya yakin begitu. Apa yang dilaksanakan Barnas jauh sebelumnya, tidak dianggap makar. Pernyataan Barnas selama ini jauh lebih keras daripada yang ada di dalam Komunike Bersama. Bagaimana menurut Anda perkembangan tuduhan makar terhadap diri Anda ini?
Saya mau melihat apakah hukum berdiri sendiri atau tidak. Seperti Ton Darsono (H.R. Darsono), dihukum salah atau tidak dihukum. Jika saya diperlakukan demikian, tentu rakyat akan berbicara dan melihat hal itu. Jadi pemerintah harus berusaha hingga rakyat percaya pada hukum. Di dalam Komunike juga disebut keinginan membentuk presidium, apakah sudah dipikirkan siapa yang mengisi presidium itu?
Presidium itu (harus) dibentuk oleh MPR/DPR yang telah dibersihkan. Itu terserah mereka. Ini baru kerangka (pemikiran). Jadi kami sendiri tidak ada bayangan siapa yang berdiri dalam presidium itu. Kalau mereka menginginkan Habibie yang masuk dalam presidium, terserah. Apakah presidium tidak akan ditolak lagi oleh masyarakat?
Tidak. Itulah sebabnya kita mensyaratkan agar MPR/DPR dibersihkan dulu. Setelah MPR/DPR dibersihkan dari KKN dan sebagainya, diambil keputusan untuk mendirikan presidium, menggantikan pemerintahan sekarang. Presidium juga menentukan kabinetnya. Ini sama sekali tidak ada maksud makar. Komunike diumumkan karena keadaan begitu gawat, untuk menghindari itu pemerintah harus mengambil langkah. Ini adalah kritik dan saran kami untuk mencapai yang lebih baik. Itu saja. Anda adalah Ketua Barisan Nasional. Apa sebenarnya yang diperjuangkan ?
Perjuangan Barisan Nasional untuk kepentingan rakyat. Kedaulatan rakyat secepat mungkin harus kembali ke tangan rakyat. Demokrasi dan reformasi harus berjalan di segala bidang. Barnas tidak mempunyai massa. Barnas adalah kekuatan moral yang mengkritik apa yang tidak sesuai dengan keinginan rakyat. Yang kami perjuangkan adalah kepentingan rakyat. Kami dituduh seolah-olah menginginkan makar. Itu tidak benar. Kami menunjang gerakan mahasiswa karena gerakan mahasiswa mempunyai tujuan yang sama dengan kami. Perlu diketahui mahasiswa tidak mau diatur dan kami memang tidak perlu mengatur mereka. Kalau mereka mendatangi kami, kami hanya mengarahkan saja dan menganjurkan pada mereka agar melakukan gerakan secara berdisiplin. Dan saya sakit hati terhadap mereka yang menganggap bahwa Barnas adalah barisan sakit hati. Mereka tak mengerti perjuangan kami kok. Apalagi karena Edi Sudrajat tidak terpilih sebagai ketua Golkar, kami dianggap sebagai barisan sakit hati. Saya bukan barisan sakit hati. Saya tidak pernah minta bantuan Soeharto. Apa yang saya capai sekarang adalah hasil kekuatan saya sendiri. Malah usaha saya PT Sarana Organtama Resik (SOR) itu mau dicabut kontraknya. Sedang kontraknya baru dimulai pada tanggal 1 April. Saya sangat heran apakah karena ada kasus ini saya ditangkap lalu kontraknya akan dicabut? Siapa pencetus ide pembentukan Barnas?
Keadaan pada bulan Mei 1998 itu memburuk. Saya segera menghubungi semua orang dari Angkatan 45 seperti Saleh Basarah, Ali Sadikin, dan lainnya untuk membicarakan keadaan politik. Lalu kami memproklamasikan berdirinya Barnas di Gedung Joang, Menteng, pada bulan Agustus. Karena saya yang mengambil inisiatif, saya kemudian menjadi ketua. Waktu itu orang-orang dari pasca-45 juga menggabungkan diri. Para purnawirawan lulusan Akademi Militer Nasional tahun 60-an yang telah pensiun. Jika Barnas tidak mempunyai massa lalu apa kekuatan Barnas sebagai kelompok penekan?
Kalau mereka (mahasiswa) mau datang pada kami, kami memberikan saran. Kalian tahu sendiri mahasiswa tidak mau diatur. Dan kebetulan keinginan kami memang sama. Jadi kita mendukung gerakan mereka secara moral, kami tidak membiayai, kami tidak punya uang. Jadi tuduhan bahwa Anda di belakang mahasiswa itu tidak benar?
Tidak. Kami hanya mendukung, karena apa yang ingin dicapai mahasisa dan Barnas sama. Bukankah pemerintah juga menyebutkan akan melakukan reformasi total, apa bedanya dengan reformasi total yang Anda perjuangkan?
Jika reformasi total yang dilakukan pemerintah sesuai dengan keinginan kita semua, ya, bagus. Tapi kalau tidak sesuai kita akan terus memperjuangkan itu. Umpamanya penggugatan terhadap Soeharto itu sama sekali tidak ada dalam keputusan Sidang Istimewa lalu. (Gugatan) itulah yang ingin kita lihat. Juga soal kedudukan ABRI. Yang diputuskan (SI) itu tidak sesuai dengan keinginan kita. Jadi, Soeharto dan kroni-kroninya harus digugat. Bukan hanya Soeharto dan kekayaannya. Yang harus digugat adalah tindakannya yang selama 32 tahun menindas rakyat. Apa yang dilakukan Kejaksaan Agung saat ini belum cukup?
Belum. Itulah kritik kami. Pemerintah sekarang terlihat ragu-ragu dalam mengambil tindakan. Kenapa mereka ragu-ragu. Tapi bukankah anggota Barnas juga ada yang pernah ikut dalam sistem Orde Baru?
Dwifungsi baru diterapkan setelah ada Supersemar, yang kemudian dipakai oleh Soeharto. Memang kami tidak bisa segera melihat apa yang ada dalam benak Soeharto. Menurut saya, Soeharto akan mempergunakan dwifungsi dan Supersemar untuk berkuasa. Anda pernah menjabat sebagai Duta Besar untuk Yunani dan Yugoslavia--jabatan yang sebetulnya tidak Anda kehendaki--menurut Anda mengapa Anda "disingkirkan"?
Saya rasa, Soeharto mengira bahwa saya berambisi menjadi presiden. Ali Moertopo-lah yang melaporkan itu pada Soeharto. Saat itu saya populer di Indonesia Timur. Saya selalu bilang ABRI adalah abdi masyarakat. Kami harus membela kepentingan masyarakat, karena masyarakat adalah majikan kami. Dengan pegangan itu, ketika saya menjabat sebagai Pangkowilhan saya selalu dekat dengan rakyat. Tetapi, karena dugaan saya berambisi menjadi presiden, saya dijadikan duta besar. Saya sangat kecewa dan saat itu saya belum menyadari (latar belakangnya). Anda tidak menolak?
Saya sudah menyatakan waktu menghadap (Pak Harto), saya tidak mau menjadi duta besar. Dia bilang ??Kamu kan masih prajurit. Ini perintah??. Sudah. Apakah Barnas menghendaki penghapusan total dwifungsi ABRI?
Sebaiknya pengurangan. Dwifungsi sebaiknya dihapus di hampir semuanya, kecuali kedudukan di Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan jumlah terbatas. Jadi tugas ABRI harus dikembalikan kepada pengamanan negara, yakni untuk menghadapi musuh dari luar dan dari dalam. Musuh dari dalam harus dihadapi oleh polis. Jika polisi tidak mampu, baru ABRI ikut campur tangan. Selain itu, tugas kekaryaan harus dihapus. Jadi tidak ada lagi anggota ABRI, terutama Angkatan Darat, misalnya menjadi gubernur, bupati, dan sebagainya. Kecuali, jika jabatan itu diminta oleh rakyat dan yang diminta mau, ia harus meletakkan pangkatnya sehingga tak ada hubungan lagi dengan angkatan bersenjata, menjadi orang biasa, sipil. Mengapa ABRI harus tetap ada di MPR?
MPR kan hanya bersidang sekali lima tahun. Jadi, menurut saya, keinginan angkatan bersenjata harus disuarakan juga. Sebagian besar anggota Barnas berasal dari ABRI, mengapa baru sekarang menuntut pembatasan fungsi ABRI? Apa lantaran karena sudah pensiun?
Sekarang ABRI menjadi alat untuk berkuasa. Dulu tidak demikian. Dulu kami ikut mendekati rakyat, menanyakan apa yang mereka inginkan. Kami membantu (rakyat) dan itu tidak dikehendaki Soeharto. Ia yang membuat dwifungsi itu seperti apa yang kita kenal sekarang, yaitu untuk menjadi alat kekuasaan. Barisan Nasional mendukung PDI Perjuangan pimpinan Megawati, benar begitu?
Kami mendukung semua partai yang sesuai dengan perjuangan kami. Kami mendukung Mega karena dia juga menginginkan apa yang kami inginkan. Begitu juga dengan keinginan Partai Kebangkitan Bangsa-nya Gus Dur dan PAN Amien Rais. Kesan kuat melekat Anda mendukung PDI Megawati, padahal dulu Anda selalu punya masalah dengan Bung Karno?
Buat saya, Bung Karno adalah Bung Karno. Megawati adalah Megawati. Kami menyesalkan bahwa PDI telah dikacaubalaukan oleh pemerintah dengan membuat PDI Soerjadi. Saya melihat seolah-olah pemerintah takut dengan kekuatan Megawati, takut PDI Megawati bisa mendapatkan suara lebih banyak dari Golkar. Nah, siapa saja yang menurut kami perlu dikritik, kami kritik, dan dalam hal ini korbannya adalah Megawati, wajar kalau kami bersimpati. Pemilu yang dijanjikan pemerintah Habibie tahun 1999 Anda bilang terlalu lama, mengapa tidak diikuti saja lebih dahulu?
Kami menginginkan bulan Mei. DPR yang baru sudah berdiri bulan Agustus. Sidang umum dilaksanakan bulan Agustus. Presiden baru dipilih setelah sidang umum. Pemerintah kan menginginkan (pemilu) akhir tahun 1999. Itu terlalu lama. Ini kan masalah jadwal saja. Katanya kita hidup di negara hukum. Jadi pendapat orang lain, harus dihormati dong. Anda dulu bilang akan melakukan SI tandingan, mengapa tidak jadi?
Barnas tidak bisa melakukan itu, karena Barnas kan tidak punya massa. Kami adalah sebuah kekuatan moral dan tidak melakukan pengerahan massa. Kalau SI yang lain itu memang keinginan rakyat, kami mendukung.
|