Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXIIIIIII/24 - 30 November 1998
   
Perilaku

Kenapa Massa Bertindak Keras?

Masyarakat makin berani terhadap aparat karena tekanan yang melampaui batas. Kalau massa dihadapi dengan kekerasan, mungkin justru akan bangkit perlawanan.

DALAM keadaan normal, polisi bertugas mengamankan masyarakat. Polisi bisa menggeledah orang yang dicurigai, misalnya, untuk merazia senjata tajam. Tapi yang terjadi di Jakarta, 14 November lalu, bisa disebut tidak normal. Pagi itu, polisi dan tentaralah yang justru digeledah di Jalan Sudirman, Jakarta. Yang menggeledah adalah sekelompok masyarakat sipil. Setiap kendaraan yang melewati jalan protokol Ibu Kota itu dirazia. Siapa pun yang berseragam aparat keamanan yang ditemukan dalam kendaraan akan digelandang keluar dan dihajar.

Belum cukup. Ketika siang makin terik, ribuan orang berbondong-bondong menyatroni kantor kepolisian resor di Matraman, Jakarta Pusat, dengan batu dan pentungan di tangan. Tekad mereka satu: menggempur markas polisi itu. Massa seperti tak gentar meski di depan mereka sepasukan petugas bersiaga dengan tameng, pentungan, dan bedil. Untung, datang pasukan marinir, sehingga niat massa menyerbu markas polisi bisa dicegah.

Tapi situasi tak juga menjadi dingin. Sebuah mobil bak terbuka milik tentara yang tiba-tiba mogok di Jalan Matraman dijungkalkan dan kemudian dibakar. Massa bersorak. Dua penumpangnya yang berpakaian hijau loreng, ketika tengah berusaha menghidupkan dan mendorong mobil itu, sempat dikejar-kejar massa, tapi berhasil meloloskan diri.

Nasib dua tentara itu masih lebih baik dibandingkan dengan tiga polisi di Senen yang babak belur dihajar massa. Padahal mereka tak bersalah. Di tengah lautan massa demonstran, polisi itu sebetulnya tengah berupaya mengatur lalu lintas yang kacau. Boro-boro lalu lintas jadi lancar, ketiga polisi itu justru dikeroyok, dipukuli, ditendang, dan diinjak-injak di atas aspal jalanan. Ada yang kepalanya dipentung bambu sampai berdarah-darah. Helmnya dilempar ke udara, jatuh, lalu ditendang ke sana-sini seperti layaknya bola kaki. Lagi-lagi marinir menyelamatkan mereka.

Itulah rupanya cara massa meluapkan "dendam" kepada aparat keamanan, menyusul tewasnya sejumlah mahasiswa oleh berondongan peluru petugas dalam Tragedi Semanggi. Tercatat puluhan petugas cedera dan tiga pos polisi di Jatinegara, Rawabening, dan Cakung, Jakarta Timur, serta satu pos polisi di Ancol luluh lantak.

Mengapa orang makin berani melawan aparat? Menurut Drajat S. Soemitro, Kepala Bagian Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, keberanian yang berlebih itu akibat tekanan yang sudah melampaui batas. Ketertekanan itu muncul dari ketidakpastian, misalnya ketidakpastian peraturan--yang membuat rasa aman orang terancam dan karenanya orang itu mudah menghantam orang lain. "Ada yang dinyatakan tidak boleh, kok, tetap boleh juga. Yang bersalah tidak dihukum dan yang tidak bersalah malah dihukum," kata pengajar psikologi politik itu.

Di mata kriminolog Mulyana W. Kusumah, karena massa menyimpan rasa tidak percaya terhadap kredibilitas aparat serta tidak puas terhadap sikap diskriminatif mereka, kemarahan kolektif menjadi mudah tersulut oleh provokasi. Apalagi, secara psikologis, orang mudah sekali larut dalam kerumunan. Satu orang saja melempar, semua akan melempar. Menurut sosiolog Sardjono Jatiman, reaksi keras akan mudah terjadi pada kerumunan. Sebab, dalam massa, status seseorang menjadi hilang alias anonim. Dalam keadaan anonim, orang juga menjadi kehilangan rasa tanggung jawab sehingga menjadi lebih berani dan tidak rasional. "Kalau lagi tenang, orang tentu tak ingin ditembak," kata Drajat.

Toh, dalam melakukan reaksi kolektif, ternyata massa masih bisa berlaku selektif. "Tidak semua aparat dimusuhi. Yang tampak pada marinir adalah sikap yang lebih persuasif. Maka hanya aparat yang dipersepsikan mereka sebagai simbol yang melakukan penekanan yang dimusuhi," ujar Mulyana.

Karena itu, agaknya aparat perlu belajar bahwa massa ternyata tidak bisa dihadapi dengan kekerasan. "Ketika marinir menghadapi mereka dengan baik-baik, tidak terjadi apa-apa, kan? Bisa dijadikan studi menarik mengapa marinir bisa menangani massa yang beringas walau jumlah mereka sedikit dan senjatanya ditaruh di belakang," kata Sardjono.

Kalau mau belajar dari Korea Selatan, jatuhnya korban mahasiswa dan buruh ternyata juga bukannya membuat jera, tapi justru membuat perlawanan makin keras dan meluas ke kelompok menengah.

Wicaksono, Hendriko L. Wiremmer


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data