Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXIIIIIII/24 - 30 November 1998
   
Nasional

Militer di Balik Tragedi Semanggi?

Pengusutan Tragedi Semanggi lagi-lagi memojokkan ABRI. Terungkap adanya provokator dan agen sipil yang direkrut militer.

Setelah Tragedi Semanggi pupuslah citra ABRI yang dicintai rakyat dan ABRI yang bagaikan air dan ikan dengan rakyat. Sekarang ini, ABRI adalah ABRI, rakyat adalah rakyat, dan keduanya menuruti panggilan jiwa masing-masing. Tentu ada tempat bagi Marinir di hati rakyat, tapi bagi yang bukan Marinir, hanya kecurigaan dan syak wasangka yang tersisa. Tidak mungkin lebih baik dari itu, karena dari pihak pucuk pimpinan ABRI sendiri belum ada tanda-tanda untuk memperbaiki diri.

Sejak peristiwa berdarah Trisakti Mei 1998 sampai sekarang belum ada satu pun usaha Jenderal Wiranto yang mencerminkan bahwa kalangan baju hijau siap membersihkan noda dan dosa yang melekat di tubuh mereka. Kini dengan Tragedi Semanggi lengkaplah kekecewaan rakyat pada ABRI. Jenderal mantan ajudan Soeharto ini dituntut mundur untuk mempertanggungjawabkan aksi penembakan brutal yang dilakukan aparat terhadap mahasiswa. Fakta yang terungkap lagi-lagi memperlihatkan adanya indikasi kuat keterlibatan pihak militer, baik semasa dan setelah pembantaian berakhir.

Berikut adalah kronologi pecahnya Tragedi Semanggi hingga pengumuman hasil penyidikan Kontras dan Mabes ABRI.

Jumat, 13 November

14.45:
Setelah salat Jumat, sekitar 500-an anggota Pam Swakarsa diturunkan di dekat kampus Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya. Waktu itu pekarangan kampus dipenuhi ribuan mahasiswa yang siap bergerak ke Senayan. Tapi sebelum sempat in action, pasukan Swakarsa yang bersorban putih dan bersenjata bambu runcing itu keburu kocar-kacir diserbu warga yang marah. Salah seorang yang tertangkap digebuk dan dihajar sampai mati. Mahasiswa lalu bergerak ke luar kampus sambil menenangkan massa. Di seputar Semanggi massa membludak hingga jumlahnya diperkirakan mencapai 25 ribu orang.

15.30:
Terdengar perintah di handy talkie (HT) agar seluruh petugas membubarkan massa dengan tembakan peluru hampa secara serentak. Bentrokan fisik pun tak terhindarkan. Mahasiswa mulai melempari petugas. Aparat sebaliknya menembakkan peluru karet. Di HT terdengar permintaan 60 butir granat tangan dan bantuan pasukan cadangan untuk disiagakan di Semanggi. Sekitar 15 orang seperti titik-titik hitam--yang diduga satuan penembak jitu --terlihat bergerak di atap gedung BRI II (berseberangan dengan kampus Atma Jaya). Mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan aparat agar diizinkan bergerak ke gedung DPR/MPR. Aparat yang terdiri dari Brimob, Batalyon 305 Kostrad, dan Pasukan Anti-Huru-Hara (PHH) Kodam Jaya malah makin merapatkan barikade. Tiba-tiba massa yang mulai beringas bergerak maju ke depan barisan mahasiswa dan mendorong-dorong aparat sambil meneriakkan hujatan.

15.50:
Aparat merangsek maju. Ledakan gas air mata terdengar berdentum-dentum. Massa pun buyar. Panser menembakkan kanon air. Lalu secara membabi buta aparat menembak dengan moncong senapan ditujukan ke arah massa. Entah peluru apa yang digunakan. Yang jelas, sekitar 20 orang tumbang bersimbah darah. Teddy Mahdani (Institut Teknologi Indonesia) tewas dengan lubang peluru di dada kiri. BR Norman Irnawan alias Wawan (Universitas Atma Jaya) meninggal karena lambungnya terkoyak peluru. Sementara Sigit Prasetyo (Yayasan Administrasi Indonesia) menghembuskan napas terakhir dengan luka tembak di bawah ketiak kiri tembus sampai paha kanan. Kemungkinan besar ia ditembak dari atas atau dari posisi yang tinggi.

Kepala forensik Universitas Indonesia, dr. Budi Sampurna yang mengotopsi mayat Wawan membenarkan bahwa tim dokter yang dipimpinnya telah menemukan pecahan logam pada luka korban. Dan ia yakin pecahan itu berasal dari peluru tajam. "Apa mungkin itu peluru karet, jika ternyata yang saya temukan adalah pecahan logam?" dr. Budi bicara dalam nada mendebat.

Menyusul informasi tentang peluru tajam itu, Kadispen Polda Metro Jaya Letkol (pol), Edward Aritonang, memberikan penjelasan. Katanya, ketika massa sudah makin beringas, didatangkanlah bantuan dari PHH Kodam Jaya. Setelah itu ada yang menembak dengan peluru tajam. Edward tak tahu persis dari mana asalnya. "Kita tunggulah hasil penyidikan Pom ABRI," katanya kepada Dwi Wiyana dari TEMPO. Ia juga menyoroti adanya provokasi, baik terhadap petugas maupun mahasiswa. Bahkan menurut Aritonang, ada yang melempari petugas dengan kotoran manusia. Pihak kepolisian, katanya lagi, sudah berhasil mengidentifikasi dan menangkap para provokator itu. Namun ia menolak menjelaskan lebih rinci, kecuali bahwa provokator itu memang bukan dari kalangan mahasiswa.

18.45:
Di tengah rentetan tembakan, terdengar perintah lewat HT agar aparat menggunakan gas air mata. Anehnya, hujan peluru terus berlangsung. Seorang oknum aparat secara sengaja menembak Marwandi Sukrisno, reporter Buletin Kontras, saat ia tengah berjalan melewati kerumunan aparat. Sambil terguling, Sukrisno berteriak, "Saya wartawan, Pak!" Tapi bukannya ditolong, ia malah dipukuli seraya dimaki-maki. "Wartawan anjing, lu!" sergah aparat. Untung anggota PHH lainnya segera menghentikan tindakan brutal itu.

20.55:
Dari HT terdengar keluhan seorang komandan di Atma Jaya. Intinya: pasukannya sudah sulit dikendalikan. Sementara massa membalas dengan melempar batu dan bom molotov. Tak lama kemudian, di jalur komunikasi militer terdengar permohonan izin menggunakan peluru tajam. Setelah itu, ketika konferensi pers di kampus Atma Jaya baru saja selesai, terdengar lagi suara tembakan. Kali ini bahkan diarahkan ke dalam kampus. Maka para mahasiswa yang sudah sangat marah itu pun melawan. "Bikin bom molotov! Kita lawan tentara-tentara itu!", teriak salah seorang mahasiswa. Maka dirakitlah bom molotov dari botol minuman ringan atau aqua dengan sumbu dari sobekan baju mereka sendiri.

Danpomdam Jaya Kolonel Herdardji terlihat mondar-mandir berupaya menghentikan tembakan aparat. Perintahnya tak digubris. Bahkan beberapa orang anggota PHH dari Kodam Jaya sempat memprotes perintah mundur itu. "Kita masing-masing punya atasan. Jangan saling perintah!" katanya galak.

22.30:
Pembantu Rektor III Unika Atma Jaya, Johannes Temaluru, datang setelah bernegosiasi dengan Pangdam Jaya. Bunyi tembakan berhenti. Sekitar seribu mahasiswa dievakuasi dari kampus Atma Jaya.

Rabu, 18 November

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mengumumkan hasil investigasinya. Kesimpulannya: ditemukan bukti awal indikasi keterlibatan militer dalam memprovokasi gerakan mahasiswa ke arah kekerasan.

Hal itu, menurut koordinator Kontras Munir, terungkap dari beberapa saksi yang mengaku direkrut militer untuk suatu operasi khusus. Mereka berasal dari kaum pengangguran maupun mahasiswa. Tak ubahnya orang-orang yang menyamar ke kubu lawan, mereka dilengkapi dengan jaket dan kartu mahasiswa palsu. Salah seorang tertangkap basah mengenakan jaket palsu Universitas Pembangunan Nasional. Provokator sejenis banyak ditemukan Kontras saat pecahnya Tragedi Semanggi.

Intel musiman ini ditugasi memata-matai rapat gerakan mahasiswa sampai memprovokasi dengan teriakan, melempar batu, dan bom molotov ke aparat. Maksudnya, "Untuk mendorong aksi mahasiswa maupun aparat agar mengarah ke penggunaan kekerasan." Munir menjelaskan. Dengan demikian terciptalah kondisi yang dapat memberikan pembenaran untuk melakukan tindakan represif militer.

Pada 13 November lalu, Kontras menemukan sekitar 20 orang pengangguran yang tengah direkrut seorang preman di jalanan dengan upah Rp 15 ribu - 35 ribu per hari. Mereka lalu disusupkan ke tengah massa mahasiswa di kampus Atma Jaya. Kesaksian Wiwiet Pratiwo menjadi bukti yang sulit dibantah. Mahasiswa Universitas Trisakti yang tertangkap basah itu jelas-jelas mengaku direkrut untuk dijadikan "agen" oleh seorang anggota CPM berpangkat Prajurit Dua berinisial BL, akhir Agustus lalu. (lengkapnya lihat di rubrik Investigasi)

Munir juga menyatakan bahwa pihaknya menemukan bukti penggunaan peluru tajam di lokasi kampus Atma Jaya, Universitas Dr. Moestopo, Mapolres Jatinegara, dan sekitar Jalan Imam Bonjol. Beberapa di antaranya keluar dari moncong pistol jenis Colt 38 milik suatu kesatuan polisi. Selain itu, Kontras juga menemukan adanya aparat yang berpakaian sipil dan bertindak sebagai provokator. Kedoknya terbuka setelah ia ditolong Kontras saat kepalanya terluka. "Dari identitasnya, dia memang berasal dari salah satu kesatuan militer," kata Munir.

Koordinator Kontras ini menduga ada upaya untuk menghilangkan identitas beberapa korban yang tewas maupun yang masih dirawat di rumah sakit. Di RSCM, misalnya, ada seseorang yang merampas data pasien secara paksa. Begitu pula identitas korban yang masih hidup diminta paksa oleh aparat. Jumlah korban seluruhnya, menurut catatan Kontras adalah: 22 orang tewas (tujuh di antaranya belum teridentifikasi), 39 luka akibat tembakan, 84 orang luka berat dan ringan, serta 20 orang hilang.

Minggu, 22 November:

Sementara itu, dalam pernyataan persnya Kapuspen ABRI Mayjen Syamsul Ma?arif juga mengungkapkan hasil pengusutan sementara dari pihak ABRI. Jumlah korban yang diidentifikasi kalangan militer--seperti biasa--jauh di bawah angka yang dilansir media massa. Dalam versi itu data korban tercatat: lima orang meninggal, delapan orang dirawat inap, dan 120 orang dirawat jalan/ringan.

Adapun barang bukti yang tengah diselidiki adalah: empat proyektil peluru (tiga berupa pecahan, dan satu utuh) dan 65 pucuk senjata api yang mungkin digunakan untuk menembakkan peluru tajam sedang diuji balistik. Dari mayat korban ditemukan pecahan benda keras yang diduga merupakan pecahan amunisi berkaliber 5,56 milimeter. Yang menarik, menurut Syamsul dari visum et repertum ada hal yang aneh, yaitu adanya satu lubang peluru masuk yang pecah menjadi tiga di dalam tubuh korban. Dua pecahan keluar, sehingga terdapat dua lubang keluar dan satu pecahan masih tertinggal dalam tubuh korban. Padahal, amunisi organik ABRI biasanya tidak pecah di dalam tubuh korban.

Sampai saat ini Polisi Militer telah memeriksa 36 orang aparat. Sementara itu, 144 orang prajurit mengaku telah menembakkan peluru karet di luar perintah komandannya. Terhadap 12 orang komandan pasukan yang tidak dapat mengendalikan anggotanya, dinyatakan telah dijatuhi hukuman disiplin. Sedangkan para prajurit yang melakukan pemukulan terhadap mahasiswa dan wartawan, sedang diproses untuk segera diajukan ke pengadilan militer.

Karaniya Dharmasaputra, Hardy R. Hermawan, Iwan Setiawan, Zed Abidien


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data